Hilangnya Momentum Sang Petahana

MEDANHEADLINES.COM – Secara statistik kiprah petahana (incumbent) maju kembali dalam pemilukada memang cukup tinggi. Dari total 61 daerah, ada 37 daerah dimenangkan oleh petahana dalam pilkada pada tahun 2017. Puncak dominasi petahana tampak di 9 daerah bercalon tunggal dan kemenangannya. Tren ini menunjukkan bahwa secara umum petahana akan lebih mudah memenangkan pemilukada.

Jika ditabulasi 37 petahana kepala daerah terpilih 16 (43,24%) di antaranya berpasangan dengan wakilnya kembali. Ada 13 (35,13%) petahana kepala daerah terpilh tanpa berpasangan lagi dengan wakilnya, dan tak saling bertarung. Sedangkan, petahana kepala daerah yang pecah kongsi dengan wakilnya hanya 7 (18,9%) pasangan.

Kemenangan petahana disebabkan memang cukup beragam; Seorang petahana minimal sudah melakukan investasi politik kepada rakyat selama dia menjabat. Fenomena petahana menang di pilkada juga faktor popularitas. Kinerjanya selama memimpin dipersepsikan berhasil dan puas, itu yang membuat berbeda dengan calon penantang. Faktor lainnya dari incumbent adalah kemampuannya menggerakkan tokoh informal maupun formal di daerahnya. Selain itu juga pastinya mampu menjangkau semua segmen pemilih. Beda dengan calon baru yang tentu cukup kesulitan untuk mendatangi pemilih (LSI, 2015).

Disamping pesona-pesona dan taktik-taktik tersebut, sang petahana yang dalam kepemimpinannya mampu membangun jaringan politilk yang kuat, dari birokrasi hingga akar rumput. Jadi secara kekuatan dan tersebarnya jaringan, otomatis sang petahana akan selalu menang dua hingga tiga langkah dengan kandidat lain.

Menyimak Kontestasi Pilgubsu

Dinamika Pilgub Sumatera Utara 2018 kian hari makin panas dan mengejutkan. Betapa tidak, nama Gubsu Tengku Ery Nuradi menjadi sorotan beberapa hari terakhir. Disaat injury time peta kontestasi pilkada berubah tanpa arah yang pasti untuk beliau. Sang petahana Tengku Erry Nuradi nyaris dipastikan tidak ikut dalam Pilgub Sumut 2018. Padahal sejumlah partai (Nasdem, Golkar, PKB dan PKPI) menanamkan optimisme lebih awal dengan mendeklarasikan untuk mendukung Tengku Ery Nuradi, nyatanya malah putar arah ke calon lain. Dan Gubernur petahana ini pun kehilangan pendukungnya satu persatu. Sehingga untuk mencalonkan kembali dalam pemilukada sepertinya kandas sebelum bertarung. Keinginan itu diterabas dan seakan mematahkan berjubel hasil survei dari lembaga survei berkelas, yang memperkirakan Tengku Ery Nuradi sang petahana adalah calon terkuat.

Beberapa hasil survei yang dilakukan SPIN menunjukkan bahwa Tengku Erry Nuradi adalah bakal Cagub paling dikenal di semua golongan usia, suku, kelompok sosial ekonomi di Sumut disusul oleh Edy Rahmayadi di peringkat kedua, dan Gus Irawan Pasaribu di posisi ketiga. Ketika Responden ditanya siapakah Calon Gubernur yang paling disukai hari ini, nama Tengku Erry Nuradi mendapat 44,70 persen diikuti Edy Rahmayadi 19,34 persen dan Gus Irawan Pasaribu 9,23 persen.

Tapi apa lacur, kepopuleran itu sepertinya akan tenggelam dan terkubang dalam kentalnya euforia warga terhadap hadirnya sosok lain seperti Edy Rahmayadi, JR Saragih dan teranyar adalah Djarot Saiful Hidayat.

Sebab di pihak sisi pasangan Edy Rahmayadi dan Musarajeckshah dikabarkan terus memeroleh amunisi tambahan dukungan. Sebelumnya hanya Gerindra, PAN dan PKS terakhir pasangan tersebut juga memeroleh dukungan dari Golkar, Nasdem dan Hanura. Pengalihan dukungan Nasdem dan Golkar tersebut menyebabkan bakal calon petahana Tengku Erry Nuradi kini tidak memiliki perahu untuk berkontestasi. Akhir cerita petahana dibungkam di kandang sendiri tanpa dukungan partai untuk mencalonkan.

Sedangkan pasangan dari PDIP dan PPP bersepakat berkoalisi mengusung Djarot Saiful Hidayat untuk dicalonkan bersama Sihar Sitorus. Dan untuk kubu Demokrat memberikan kesempatan buat JR Saragih untuk mencari koalisi agar dapat maju. Demokrat pun telah menjalin koalisi dengan PKB dan PKPI. Poros politik sudah terbentuk.

Sebagai Pelajaran

Begitu banyak polemik yang dipertontonkan partai politik dan calon yang diusung menjelang pilkada. Termasuk persoalan tarik menarik dukungan terhadap calon kandidat Tengku Erry Nuradi. Calon petahana Gubsu telah kehilangan momentum untuk bertarung. Langkah petahana merapat ke kubu partai lain pun terhenti karena tidak mendapat restu dari elit partai pendukung. Pupus sudah harapan untuk bertarung di Pilgubsu 2018. Kesolidan partai pengusung pun diuji. Mengingat kesempatan dalam mengusung calon petahana sebenarnya sangat terbuka.

Ada persoalan serius yang menjadi penyebabnya. Selain menguatnya pragmatisme politik, rapuhnya kondisi internal partai yang dialami bisa dijadikan salah satu alasan. Tidak berlebihan jika kondisi ini disebabkan kurangnya konsolidasi organisasi partai politik dan calon yang akan berkontestasi dalam perhelatan pilkada. Situasi tersebut diperparah akibat partai dan calon kandidat gagal melakukan interaksi komunikasi yang baik dengan sejumlah partai pendukungnya. Sehingga tidak mengejutkan ketika partai Nasdem yang dipimpin oleh Tengku Erry Nuradi sendiri juga ikut mengalihkan dukungan kepada pasangan lain. Ini membuktikan bahwa persoalan lain sebenarnya ada di internal partai sendiri. Sehingga memudarnya konsistensi, dukungan dan komitmen yang tentu saja akan mempengaruhi kekuatan dalam berbagai dukungan politik.

Berpijak dari sinilah, kegagalan dalam memaknai momentum ini akan berujung pada delegitimasi dan pembusukan parpol dari dalam tubuhnya sendiri. Kondisi tersebut bisa saja dipicu oleh orientasi partai. Demi kemenangan, idealisme partaipun tergadaikan.

 

Penulis : Bimbi Hidayat S.sos, MA

Dosen Fisip USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.