MEDANHEADLINES.COM – Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe mengakui dirinya kini menjadi tahanan rumah setelah pasukan militer dinegara tersebut mengambil alih kekuasaannya.
Meskipun begitu, Jajaran jenderal militer Zimbabwe membantah telah melakukan kudeta. Dan mereka menegaskan hanya mencari para penjahat yang merugikan perekonomian negara.
Mugabe yang telah berkuasa di Zimbabwe sejak tahun 1980-an. Seperti dilansir AFP, Kamis (16/11/2017), dalam percakapan telepon dengan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma, menegaskan dirinya secara efektif menjadi tahanan rumah dan dia mengakui dalam keadaan baik-baik saja.
Ini merupakan kontak pertama Mugabe dengan dunia luar sejak militer Zimbabwe mengambil alih kekuasaan.
Tidak diketahui pasti apakah langkah militer ini akan mengakhiri kepemimpinan Mugabe atas Zimbabwe. Disinyalir, tujuan utama dari jenderal militer yang mengambil alih kekuassan adalah mencegah istri Mugabe, Grace (52), menjadi penggantinya.
Sejumlah pendukung Mugabe dan istrinya dilaporkan berada dalam tahanan militer.
Kendaraan-kendaraan lapis baja milik militer Zimbabwe memblokade gedung parlemen. Para tentara berjaga di titik-titik strategis di wilayah ibu kota Harare. Tentara senior menguasai televisi nasional negara tersebut dan menayangkan pidato tengah malam.
“Presiden… dan keluarganya dalam kondisi aman dan keamanan mereka terjamin. Kami hanya menargetkan para penjahat di sekitarnya (Mugabe-red) yang melakukan kejahatan… Segera setelah kami menyelesaikan misi kami, kami harap situasi akan kembali normal,” tegas Mayor Jenderal Sibusiso Moyo dalam pidatonya pada Selasa (14/11) malam waktu setempat.
Moyo menegaskan: “Ini bukan pengambilalihan pemerintahan oleh militer.”
Reaksi keraspun muncul dari berbagai belahan dunia. Afrika Selatan, Uni Eropa, PBB dan Inggris sementara Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma, dengan kapasitasnya sebagai Ketua Komunitas Pembangunan Afrika Selatan telah mengirimkan delegasi militer dan intelijen ke Zimbabwe untuk membantu mengatasi situasi di negara itu. (red)












