Mencari Kebangsaan,  Pribumi atau Non Pribumi ?

MEDANHEADLINES – Ibuku seorang manusia hibrida. Dia lahir dari seorang ibu Tionghoa dan ayah berdarah Sunda. Selain berbahasa Hokkian, ibuku juga bisa berbahasa Jawa. Setelah kawin mawin dengan ayahku (bermarga Matondang tapi mengaku sebagai Melayu Asahan) ibuku juga berbahasa Melayu. Dalam kondisi seperti ini, sulit menentukan kebangsaan ibuku? Apakah dia seorang pribumi atau seorang nonpribumi?

Bila ia dikatakan pribumi, toh ia bermata sipit dan berkulit putih, serta bisa berbahasa Hokkian. Bila ia dikatakan nonpribumi, tapi ia bisa berbahasa Jawa dan Melayu, serta menggunakan Hijab sebagaimana penganut agama mayoritas kelompok yang dianggap pribumi. Jadi apa sebenarnya ukuran pribumi dan nonpribumi itu? Apakah benar – benar ada ukurannya? Atau apakah pribumi dan nonpribumi itu benar – benar ada?

Mempertanyakan Ide Keaslian dan Kepribumian

Dalam perjalanan kehidupan berbangsa, mayoritas kita percaya bahwa benar – benar ada yang namanya pribumi dan nonpribumi. Kepercayaan ini terus kita pertahankan tanpa pernah mempertanyakan kebenarannya. Terminologi pribumi biasanya kita gunakan untuk menunjuk kelompok yang dianggap asli dan otentik Indonesia. Sementara nonpribumi kita gunakan untuk menunjuk kelompok yang kita anggap sebagai pendatang.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana menentukan yang asli dan ontentik itu? Siapakah yang paling asli dan otentik di antara bangsa Indonesia ini? Bila ada etnis yang paling asli dari kita, maka etnis apakah itu? Apakah benar etnis tersebut tidak mempunyai percampuran atau persinggungan dengan etnis lain di luar Indonesia? Bila ada agama yang paling asli dari kita, maka agama apakah itu? Bukankah agama yang diakui negara ini semuanya merupakan agama impor?

Pada kenyataannya, penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman menunjukkan bahwa bangsa Indonesia berasal dari bangsa pendatang yang kemudian kawin mawin dan mengalami pembauran. Jadi manusia Indonesia, bukan hanya beragam budaya tetapi secara genetik juga berbeda – beda. Suku Jawa, Melayu, Minang, Makassar, Bugis, Papua yang selama ini kita anggap paling asli dan pribumi, ternyata merupakan bangsa pendatang yang membaur satu sama lain. Kelompok etnis ini sama seperti etnis Tionghoa, India dan Arab yaitu sama – sama pendatang di kepualauan Nusantara. Dalam kondisi seperti ini, manakah yang dapat diklaim sebagai manusia asli (pribumi) Indonesia?

Dalam kuliah umumnya di Universitas Indonesia, Prof. Ariel Heryanto (Guru Besar Monash University, Australia) mengungkapkan bahwa keaslian atau keotentikan adalah fiksi. Karena masyarakat terus bermobilisasi, bermigrasi, berinteraksi, membaur dan kawin mawin sehingga tak mungkin menemukan keaslian dan keotentikan. Bila kita melihat berbagai etnis dan suku yang selama ini dianggap asli dan pribumi, ternyata memiliki kesamaan, persinggungan dengan bangsa lain yang berada di negara lain. Bila memang terdapat bangsa Indonesia yang asli dan pribumi dan ada bangsa nonpribumi (pendatang), mengapa ada kemiripan fisik, budaya, bahasa, bangsa Indonesia dengan bangsa lain di luar Indonesia?

Mencari Keaslian, Menciptakan Liyan

Kepercayaan akan keaslian atau kepribumian suatu bangsa hanya akan menciptakan liyan. Dengan percaya bahwa ada yang asli, akan juga membuat kita percaya akan ketidakaslian. Yang  tidak asli kemudian dianggap sebagai liyan. Inilah yang akhirnya menciptakan “kita” dan “mereka” yang berpotensi menimbulkan konflik.

Di Indonesia, berulang kali terjadi konflik yang disebabkan oleh ide keaslian dan kepribumian ini. Misalnya, karena dianggap tidak asli Indonesia atau nonpribumi, seseorang dianggap tidak pantas untuk menjadi pejabat publik. Karena yang asli atau pribumi lah yang lebih pantas. Melihat ke belakang, kekerasan pada jemaat Ahmadiyah dan aliran agama minoritas juga bisa dijadikan contoh. Sekelompok orang merasa bahawa dirinya lah paling asli keagamaannya dibandingkan kelompok itu. Dengan kepercayaan itu, mereka merasa berhak untuk melakukan kekerasan.  Padahal agama, seperti kebudayaan juga mengalami pembauran dan perubahan. Akan sangat sulit menemukan ajaran agama yang paling asli dan otentik dari Tuhan, karena pada kenyataannya agama tumbuh berkembang di kehidupan masyarakat yang dinamis.

Di luar Indonesia, konflik yang terjadi di Myanmar merupakan contoh nyata berbahayanya ide keaslian. Kekerasan pada masyarakat Rohingya dianggap sebagai pendatang dan nonpribumi adalah contoh nyata bahayanya ide keaslian atau keprubumian. Karena mereka dianggap nonpribumi (liyan), maka mereka tidak boleh memiliki hak yang sama dengan warga Myanmar lainnya. Bahkan kekerasan yang dilakukan terhadap mereka dianggap sebagai suatu yang wajar.

Oleh karena itu, ide tentang keaslian atau kepribumian ini harus dikritisi dengan cermat. Karena pada kenyataannya, ide  keaslian atau kepribumian adalah fiksi. Ibuku telah membuktikannya. Ia seperti kita adalah manusia hibrida. Yang tidak akan bisa digolongkan menjadi pribumi maupun nonpribumi. Karena kepribumian adalah fiksi.

 

Penulis : Puteri Atiqah

Peneliti Lembaga Kajian Sosiologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.