Proyeksi Indonesia Emas di 100 Tahun Kemerdekaan 

MEDANHEADLINES – Apakah Indonesia Emas itu? Apakah Indonesia akan mendapat emas? Kalau mendapat medali, dari cabang perlombaan apa? Mengapa pula kemenangannya ditentukan tahun 2045?

“Indonesia Emas” adalah suatu istilah untuk menyambut 100 tahun Indonesia merdeka (1945-2045). Artinya usia bangsa Indonesia sejak lahir (merdeka) lepas dari jajahan Belanda tepat tahun 2045 yang akan datang berusia 100 tahun. Indonesia Emas juga bermakna sebagai suatu cita juga momentum, dimana momen tahun 2045 mendatang dapat dijadikan bangsa Indonesia sebagai puncak kedudukan bangsa Indonesia yang tinggi di mata dunia, baik dalam hal pembangunan manusianya (ideologi), kebijaksanaan pemimpinnya (politik), kesejahteraan rakyatnya (ekonomi), kerukunan dan keluhuran budi rakyatnya (sosial-budaya), dan keamanan dan ketertiban negaranya (hankam).

Dari sudut pandang demografi Surya Chandra Surapty (Kompas, Jumat, 280717, Hal.6. Kol.Opini) mengatakan bahwa pada tahun 2045 itu jumlah penduduk Indoneisa diperkirakan mencapai 318 juta jiwa (2017 saat ini 265 juta). Penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai 66,6% sudah melewati puncaknya yaitu tahun 2028-2031 yang mencapai 67,9%. Usia harapan hidup pada tahun 2045 mencapai 74 tahun untuk wanita dan 71 tahun untuk pria.

Satu yang terpenting menurut Surapty adalah, pembangunan karakter pada tingkat keluarga yang mestinya menjadi prioritas dan sangat menentukan nasib bangsa Indonesia tahun 20145 ke depan. Adapun pembangunan karakter menurut Bung Karno (BK) adalah suatu “gerakan menggembleng manusia Indonesia dengan cara mengubah nilai, keyakinan, pola pikir, tingkah laku, dan budaya, agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, dan berjiwa api yang menyala-nyala”.

Seberapa Yakin kita 2045 Indonesia Emas akan Terwujud?

Presiden Jokwoi dalam pembukaan Rakernas Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), di Ballroom Ritz Carlton Hotel, Jakarta, Senin (27/3/2017) meyakini bahwa ekonomi Indonesia akan mencapai puncaknya tahun 2045. Sebagai pondasinya pemerintahnya akan membangun infrastruktur (pelabuhan, jalan tol, bandar udara), membangun industri pengolahan (sawit, karet, jagung, minyak goreng, kosmetik, dll), dan membangun industri jasa utamanya pariwisata (Mandalika, NTB; Pulau Komodo, NTT; Kepulauan Seribu, DKI Jakarta; Danau Toba, Sumatera Utara; dan sebagainya). Namun satu yang terpentiung menurutnya juga adalah pembangunan sumber daya manusia (karakter).

Tidak ketinggalan Kemendikbudpun telah pula mengangkat tema “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia” dalam rangka Hari Pendidikan Nasional sejak tahun 2012. Tujuannya agar generasi 2045 mampu bersaing secara global dengan bermodalkan kecerdasan yang komprehensif antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul. Hal ini merupakan harapan terbesar bangsa Indonesia di tahun 2045 nanti. Harapan ini semakin yakin dapat dicapai mengingat Indonesia sangat didukung dengan kondisi demografi dimana usia produktif paling tinggi di usia anak-anak dan orang tua juga sumber daya alam yang cukup melimpah. https://patriamaya27.wordpress.com/2014/07/10/ apakah-generasi-emas-itu/.

Apa Saja Persiapan Yang Sudah Dilakukan?

Untuk mewujudkan impian tersebut, kunci utamanya bukan kekuatan ekonomi, politik, atau militer, melainkan manusianya. Sesederhana yang diungkapkan oleh Anies Baswedan, “Pola pikir yang menganggap bahwa potensi utama sebuah bangsa adalah lautnya, tanahnya, tambangnya, adalah pola pikir para penjajah.” Tak peduli bagaimana ukuran alam sebuah negara, selama manusianya unggul maka negeri tersebut pasti unggul.

Kalau kita persiapkan dari sekarang (2017) maka kita punya waktu 28 tahun. Namun kalau kita hitung sejak diberlakukan undang-undang Pendidikan Nasional, dan undang-undang Guru dan Dosen yang mulai berlaku 2005, maka kita sudah punya waktu sebanyak 40 tahun untuk mempersiapkan dan membidani lahirnya generasi emas 20145.

Pemerintah jelas meletakkan semua proses kelahiran tersebut dalam “Rahim” pendidikan nasional, mulai dari PAUD dan mengimplementasikannya di seluruh pelosok negeri. Penegasan pendidikan di PAUD berbasis Pembangunan Karakter dan Budipekerti berbasis Budaya dan Kearifan lokal diharapkan menjadi pondasi mental yang tangguh anak-anak bangsa pada tataran pendidikan yang paling rendah. Output dari PAUD akan menjadi input di TK, dan output TK akan menjadi input di SD dan secara berkesinambungan ke jenjang berikutnya, tetap mendapat penegasan pendidikan berbasis Karakter, Budipekerti, Warisan Budaya, dan Kearifan lokal, sehingga Pemerintah dalam hal ini merombak Kurikulum yang dikenal dengan Kurikulum 2013, Kurikulum Kecakapan Hidup. http://www.kompasiana.com/pristiadiutomo/menuju-indonesia-emas-2045_54f75174a33311e3348b4594

Tantangan & Kendala

Masalahnya, pendidikan yang menjadi kunci keberhasilan pencapaian visi tersebut kini masih banyak menemui masalah. Mulai dari isu harga pendidikan, ketimpangan pembangunan fasilitas, manajemen ujian nasional, jumlah jam belajar (full day school), hingga pembaruan kurikulum dan guru.

Banyaknya isu-isu masalah pendidikan tersebut justru seakan membuat kita pesimis, apakah pendidikan yang seperti ini yang akan mencetak generasi emas Indonesia 2045?

Selain masalah pendidikan, kita juga dihadapkan pada kenyataan prilaku berbagai kelompok bangsa yang sudah sangat bobrok sebagaimana yang kita saksikan dalam beragam krisis saat ini.

Menurut Prof. Suahasil Nazara, PhD “Bagaimana melihat Indonesia 25 tahun ke depan, sebagai referensi terpendek, idealnya kita juga harus meihat 25 tahun ke belakang” kata (2012:278). Statemen tersebut menggaris bawahi bahwa potret buram bangsa hari ini merupakan refleksi dari inkonsistensi sistim pendidikan Indonesia 25 tahun yang lalu. Oleh karena itu, untuk menghasilkan generasi yang bisa membawa Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045 sesuai prediksi banyak lembaga dunia, reformasi komprehensif di bidang pendidikan mutlak dibutuhkan.
Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar pekarakteran pendidikan. Lebih dari itu, tantangan internal lainnya terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif.

Sementara tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, transformasi bidang pendidikan, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Arus globalisasi akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern seperti yang terlihat di World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Community, Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan ASEAN Free Trade Area (AFTA).

Tantangan eksternal tentu akan melahirkan gelanggang persaingan yang memberi ruang bagi setiap orang (open world-wide competition). Daya saing yang unggul akan menjadi tolak ukur. Wamendikbud, Prof. Dr. Muslihar Kasim (2013:17) mengatakan bahwa pada saat bangsa ini berusia 100 tahun, akan lahir generasi yang cerdas komprehensif, yaitu anak bangsa yang produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul mutlak dibutuhkan untuk memenagkan kompetisi global tersebut. Generasi yang menjanjikan menuju bangsa yang besar, adil, makmur, dan bermartabat. http://www.kompasiana.com/trueregarmanary82/pendidikan-karakter-menuju-indonesia-emas-2045.

Intinya, sejauh kita mampu menjadikan pembangunan karakter manusia Indonesia (akhlak/moral) menjadi pondasi pembangunan dasar hari ini dan ke depan, maka Indonesia pasti akan menghasilkan Generasi Emas di tahun 1945. Sebaliknya, jika pembangunan karakter manusia Indonesia hanya sebatas jargon belaka, maka yang terjadi adalah kehancuran bagi bangsa Indonesia.

 

Penulis: Dadang Darmawa, M.Si

Dosen FISIP USU

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *