Catatan kecil dibalik Berita Hoax   

MEDANHEADLINES – Perkembangan internet membuat akses informasi semakin mudah didapat. Kapanpun dan dimanapun, kita bisa memperoleh banyak informasi secara cepat tanpa harus menunggu siaran berita di televisi, radio ataupun koran. Kita bisa mengaksesnya melalui situs pencarian seperti Google, Bing atau Yahoo. Jika ingin membagikan pemikiran atau tanggapan seputar isu yang berkembang, tinggal share di sosial media, mudah bukan?

Lantas, apakah kemajuan teknologi berbanding lurus dengan kecerdasan manusia? Tentu saja tidak, bahkan bisa jadi, majunya teknologi justru membuat masyarakat semakin bodoh. Meningkatnya kebodohan manusia akibat kemajuan teknologi bahkan diperkuat oleh salah satu hasil penelitian yang dirilis oleh Stanford University yang menunjukkan fakta bahwa semakin maju teknologi, mengakibatkan otak manusia bermutasi menjadi lebih bodoh. Hal itu diakibatkan karena kemajuan teknologi memberikan kemudahan, yang akhirnya membuat manusia semakin malas untuk berfikir dan berusaha, lantaran membuat segalanya serba praktis. Salah satu peneliti dalam kajian yang diterbitkan kedalam Jurnal Trends in Genetics tersebut, Gerald Crabtree mengatakan bahwa Kemampuan intelektual tertinggi pada manusia terjadi saat manusia berada di era nonverbal dan liar. Saat itu, mereka harus memikirkan cara-cara untuk tidak dimakan oleh binatang liar.

Nah, kenapa saya membuka artikel ini dengan fakta – fakta ilmiah tersebut? Menurut saya ini penting, karena fakta ini harusnya lebih menyadarkan kita akan realitas yang secara terang benderang sedang terjadi di sepanjang tahun 2016 ini. Bahkan sampai hari ini, kebodohan akibat internet dan sosial media terus berlangsung. Itu menunjukkan bahwa sebagian masyarakat di Indonesia ternyata masih belum siap dalam menyikapi perubahan teknologi secara bijak dan cerdas. Kondisi tersebut dibuktikan dengan kian merajalelanya konten – konten Hoax yang selalu menjadi viral di jagad sosial media di tanah air.

Tema konten yang paling rawan dijadikan sasaran berita dan informasi Hoax adalah yang berkaitan dengan masalah agama, politik dan ras atau golongan. Salah satu contoh misalnya, di sosial media pasti kita pernah melihat ada salah satu akun (biasanya akun palsu public figure, artis atau perempuan cantik) tengah memposting status dengan gambar atau video bermuatan religius (berbentuk doa dan ayat – ayat suci). Lalu dalam postingan tersebut, si pemilik akun tersebut meminta para audience nya untuk memberikan like, share dan ketik “Amiiin” di kolom komentar.

Lantas bagaimana responnya? ternyata luar biasa! hasil like, comment dan sharenya bahkan bisa sampai ratusan ribu dalam sekali posting. Selain itu, ada juga konten – konten serupa namun dengan tampilan berbeda seperti gambar – gambar sadis, orang sakit, dan sebagainya. Padahal, konten – konten tersebut sebenarnya sangat bermotifkan bisnis. Jumlah like yang dikumpulkan dalam postingan palsu itu ternyata bisa dijual untuk kepentingan promosi yang nantinya akan diedit oleh si pembeli konten tersebut. Apakah kita menyadari bahwa kebodohan kita sedang dijual? Sayangnya tidak semua dari kita menyadarinya.

Tak hanya itu, kebodohan lain yang sering kita lakukan sebagai netizen di Indonesia yaitu “doyan”nya kita membagikan link – link berita yang diragukan kebenarannya alias Hoax. Berita – berita Hoax ini biasanya muncul dengan judul – judul yang heboh dan provokatif. Dari segi strategi marketing di media sosial, memberikan judul berita dengan style provokatif memang efektif, tapi bagaimana jadinya jika judul berita tidak sesuai dengan isinya? Nah, itulah yang paling sering menjadi masalah saat ini. Banyak netizen di Indonesia khususnya pengguna sosial media yang langsung terprovokasi pada judulnya tanpa melihat isi berita secara menyeluruh. Hasilnya bisa ditebak sendiri, berita tersebut menjadi viral dan kerap dijadikan bahan untuk saling menghujat dan caci maki antar netizen di kolom komentar.

Membuat konten – konten Hoax nan provokatif di internet secara bisnis nyatanya sangatlah menjanjikan. Menurut informasi yang dirilis oleh komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, para penyebar Hoax tersebut setiap tahunnya bisa menghasilkan 600 – 700 juta rupiah. Penghasilan tersebut didapat dari traffic pengunjung (pay per click) dan melalui royalty iklan Google Adsense. Motif mereka membuat konten – konten tersebut murni karena bisnis. Karena itulah, semakin berita tersebut di share, viral dan menjadi bahan perdebatan banyak orang, maka pundi – pundi rupiah pun akan semakin mengalir deras ke kantong mereka.

Lalu, Bagaimana Sikap Kita?

 Keresahan yang diakibatkan oleh menyebarnya berita hoax di masyarakat khususnya di Indonesia, haruslah kita sikapi dengan serius. Meskipun pemerintah sudah mengeluarkan payung hukum terkait cyber crime melalui UU ITE, tapi tetap saja, permasalahan peredaran berita – berita hoax haruslah mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat. Masyarakat sudah selayaknya lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi yang didapatnya melalui internet, baik itu melalui sosial media maupun berita online.

Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum kita menyebarkan berita atau informasi di sosial media. Pertama, periksalah terlebih dahulu judul berita tersebut, apakah sesuai dengan isinya atau tidak. Lalu, teliti kembali apakah isi berita tersebut bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya atau tidak, cobalah cari sumber kebenarannya melalui pemberitaan media – media lain yang lebih kredibel. Kedua, periksa alamat websitenya, karena biasanya berita hoax disebarkan oleh website – website dadakan yang tidak memuat nama penulis atau wartawannya. Lalu, teliti juga, apakah teknik penulisan beritanya sudah sesuai dengan kode etik jurnalistik atau tidak. Ketiga, jelilah dalam membedakan apa itu fakta dan opini, karena tidak sedikit berita yang hanya bersumber pada opini orang lain, yang kemudian di bumbu – bumbui bahasanya seolah – olah itu adalah fakta. Hal inilah yang paling sering memicu munculnya berita – berita hoax, menyajikan informasi berdasarkan opini semata, tapi minim data dan fakta.

Keempat, periksalah korelasi antara gambar dengan caption dan isi berita. Pengambilan gambar secara sembarangan oleh penyebar hoax sangat sering terjadi. Misalnya mengambil gambar perang di Timur Tengah dengan caption Pembantaian etnis Rohingya di Myanmar, atau foto pesawat jatuh di India yang kemudian dijadikan bahan dokumentasi berita jatuhnya pesawat di Indonesia, dan masih banyak yang lain. Agar dapat menelitinya, anda bisa gunakan fitur Google Image di website pencarian Google untuk memastikan keabsahan gambar tersebut.

Jadi, kita semua pastinya berharap, tahun 2017 menjadi tahun yang lebih baik bagi bangsa ini. Sudah saatnya kita lebih bijak dalam menyikapi perkembangan teknologi. Kita harus buktikan, bahwa Indonesia tidak mudah untuk diprovokasi dan diadu domba oleh berita – berita yang provokatif. Majunya teknologi, seharusnya membuat kita semakin cerdas dan kritis dalam menyikapi setiap wacana yang beredar. Selamat menyambut tahun 2017, semoga bangsa ini semakin cerdas dan dewasa!

 

Penulis : Fauzan Ismail

Alumni FISIP USU / Praktisi Sosial Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.