WARGA KOTA MENGANCAM DUNIA

MEDANHEADLINES, Benarkah manusia mengancam dunia dan seisinya? Benarkah manusia tega membinasakan manusia lainnya? Benarkah manusia akan merusak alam yang merupakan rumahnya sendiri? Jawabannya tentu saja BENAR!

Laporan World Wide Fund for Nature (WWF) berjudul Living Planet Report (LPR) tahun 2016, membuktikan bahwa skala kegiatan manusia melonjak sejak medio abad ke-20, yang mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) dan hayati lebih cepat dari kemampuan alam memperbaharuinya. Artinya, manusia hidup tidak seimbang alias manusia sangat rakus. Tahun 2012 yang lalu, manusia butuh kapasitas hayati setara 1,6 planet Bumi untuk memenuhi konsumsi SDA dan jasa lingkungan. Kerakusan manusia (butuh makan) telah menjadi penyebab utama hilangnya keragaman hayati (semua hutan ditebang untuk produksi pangan) (Kompas, 23 November 2016, hal. 13).

Adapun sumber utama kerusakan itu adalah sikap-perilaku penduduk kota akan pola konsumsi pangannya yang destruktif. Ada 54% populasi dunia saat ini di kota dan 80% daya beli tingkat global terpusat di kota. Jelas pemukiman perkotaan tanpa pangan membawa ketidak seimbangan alam yang luar biasa besar dan kehidupan warga kota menjadi tergantung. Anehnya, banyak manusia justru gembira sebagai warga kota dan menganggap warga desa rendah dan tak beradab.

Pertumbuhan kota jelas tak dapat dicegah sebagai akibat dari model pembangunan dunia mengikuti syahwat (keinginan) manusia yang membutuhkan jasa yang lebih banyak seperti perumahan, fasilitas sosial, pendidikan, hiburan/rekreasi, resoran/pusat jajanan dan lainnya. Hasrat manusia yang senantiasa membutuhkan kesenangan hidup telah mendorong para perencana, pemerintah, dan pengusaha untuk semakin memfasilitasi kebutuhan akan barang dan jasa. Produktifitas barang dan jasa dengan begitu telah diatur sedemikian rupa sehingga daya serapnya disesuaikan dengan permintaan pasar yang sudah dibentuk citranya. Secara psikologis kebutuhan manusia akan barang dan jasa sudah diatur melalui industri-industri pencitraan yang memang memiliki kemampuan memanipulasi kesadaran manusia.

Suara & Peringatan Alam

Sebelumnya Jay Wright Forester seorang Profesor emeritus dari MIT (baru saja meninggal 6/11/16) menerbitkan buku Urban Dynamics disusul buku World Dynamics (1971) sudah pula mengkritisi praktek pembangunan global yang memaknai pembangunan dengan pertumbuhan. Padahal dunia (PBB) pada saat itu mulai membicarakan soal lingkungan. Bukan apa-apa, pada saat itu keprihatinan terhadap krisis global yang ditandai dengan kemiskinan, kerusakan lingkungan, polusi dan perang sudah tampak jelas (Kompas, 23 November2016, hal. 13).

Forester menyampaikan simulasi terintegrasi berbagai faktor seperti populasi dunia, sumber daya alam dan pertumbuhan ekonomi. Intinya, dengan elemen-elemen yang terintegrasi jika terjadi masalah pada satu elemen maka akan berdampak pada elemen lain (Meadows, dkk., 1972). Yang menarik dari model Forester selain tentang makna dinamika masalah dunia yang terintegrasi itu adalah bahwa sifat kerusakan dunia itu memiliki jangkauan ruang yang luas dan memiliki jangka waktu panjang. Artinya, jika kita lalai menurunkan suhu global hari ini maka dampaknya akan dirasakan manusia tahun 2050 yang akan datang.

Wacana kehancuran alam dan hayati manusia tentu saja bukan hari ini saja diteliti dan disampaikan namun sudah selalu disampaikan oleh ribuan ilmuwan sebelumnya. Ibarat sistem peringatan dini (early warning system), alarmnya telah berbunyi keras sejak seratus tahun terakhir. Sayang manusia pada pekak telinganya. Manusia lebih mendengar dan sensitif akan bisikan yang mendesah-desah yang disampaikan lawan jenisnya ketimbang alarm bencana yang diperdengarkan alam semesta. Ketidak pekaan manusia akan bahasa alam bisa dimengerti sebab sudah terlalu lama manusia tak lagi menjadikan alam sebagai guru bijak bagi dirinya. Dampaknya, hari ini kita sudah tak mampu lagi mendengar suara alam sebab yang selalu kita dengar hari ini hanyalah suara medsos.

penulis : Dadang Dermawan

Dosen Fisip Usu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.