MEDANHEADLINES, – Musik memiliki arti yang beragam bagi setiap orang. Mulai dari media ekspresi, imajinasi, obsesi, pekerjaan, hobbi atau sekedar hiburan. Bagi para penikmatnya, musik dianggap mampu mewakili pandangan, perasaan, kenangan, khayalan, cita-cita dan lain-lain. Mayoritas orang menyukai musik terlepas dari apapun genre musiknya. Berkaitan dengan selera musik, benar adanya jika hal tersebut adalah subjektif. Namun, subjektivitas seseorang juga memiliki faktor penyebabnya. Penyebab seseorang menyukai jenis musik tertentu secara sederhana meliputi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi persepsi dan kognisi individu, serta faktor eksternal meliputi lingkungan yang kemudian seseorang mendengarkan, melihat dan memilih untuk menyukai jenis musik tertentu.
Musik merupakan konsumsi universal. Oleh karenanya musik mampu memberikan dampak bangunan karakter individu, norma sosial, ekonomi bahkan politik. Melihat pengaruhnya pada ekonomi, musik telah menajdi bagian indrusri yang menjanjikan. Dalam konteks industri, output dari suatu karya musik adalah financial. Sebagai konsumsi yang universal, musik memiliki pasar seluas planet ini. Bagi para pelaku industri peluang tersebut menjadi aktivitas komersil yang menghasilkan miliaran bahkan triliunan rupiah setiap tahunnya. Dalam keterangan International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), tercatat industri musik digital secara global menyumbang Rp. 191,4 triliun pada tahun 2015 dihitung dari media layanan streaming, penjualan musik metode unduh album atau single serta pendapatan dari YouTube.
Melihat dampak politiknya, musik mampu menjadi media mempengaruhi, membangun persepsi massa, atau media perlawanan terhadap suatu pandangan, ideologi atau paham tertentu. Lebih hebatnya lagi, musik bahkan mampu dijadikan penyulut api sebuah revolusi. Dengan lirik yang ada pada lagu, musik juga dapat mencerdaskan atau membodohi masyarakat. Sebagai sebuah contoh, musik yang menyajikan tema perselingkuhan dan didengarkan secara umum hampir setiap hari bahkan kepada anak-anak mampu dianggap sebagai kebenaran. Karena kebanyakan orang ikut mendengarkan dan menikmati yang kemudian mengamini legalitas kebenaran isi lagu tersebut. Lihatlah beberapa kasus anak-anak sudah mampu menyanyikan dengan lancar lagu-lagu seperti itu. Apalagi. Orang tua juga terkesan membiarkan atau malah bangga dengan anaknya yang bisa bernyanyi seperti itu. Sungguh sebuah ironi.
Menikmati musik dimasyarakat telah menjadi budaya populer yang dikonsumsi secara massif. Menurut Raymond Williams dalam buku Teori Budaya dan Budaya Pop milik Jhon Storey, beberapa ciri budaya pop diantaranya relatif mudah diadaptasi, disukai banyak orang dan berorientasi pada kesenangan. Musik yang dinikmati sebagai budaya populer adalah jenis musik yang memiliki cirri-ciri seperti penjelasan diatas. Musik untuk pasar, musik untuk umum, musik untuk komersil, intinya musik mainstream. Musik dengan lirik dangkal makna yang bahkan diantaranya menyebut sensual walaupun jatuhnya vulgar dan senonoh. Nah, jika beberapa diantara kita merasa jenuh dengan jenis musik tersebut, Indie bisa menjadi alternatif solusi. Ya Musik Indie.
Musik indie adalah gerakan musik merdeka yang terdiri dari beragam gendre mulai dari pop,akustik, dubstep, rock, punk, grunge hingga metal dan banyak lagi. Merdeka yang dimaksud biasanya mandiri dari major label dan bebas berkarya tanpa berorientasi pada komersialisasi pasar. Kekayaan sebenarnya yang dimiliki mereka adalah keberagaman variasi tema dan kebebasan berekspresi. Tak melulu hanya mengankat tema cinta ,mereka juga mengangka tema-tema lain seperti, filosofi diri, sosial, kemanusiaan, lingkungan, politik, ekonomi dan hukum. Dengan alunan nada yang indah disaat yang sama mereka juga terdengar lantang, bernyali dan berisi. Musik mereka terdengar lebih dewasa dibandingkan musik mainstream, dikarenakan sikap tulus untuk bermusik tanpa harus memaksakan kehendak memenihi kebutuhan ekonomi musisinya. Bermusik bukan hanya untuk sekedar diterima namun bermusik untuk bebas.
Sensasi yang berbeda dalam mendengarkan musik dapat kita contohkan dari bebereapa lagu miliki band indie Indonesia, diantaranya lagu “Di udara” milik Efek Rumah Kaca yang didedikasikan khusus untuk aktifis pejuang HAM, Munir Said Thalib. Efek Rumah Kaca juga memiliki lagu “Cinta melulu” yang menjadi kritik tema cinta milik musisi mainstream. Lagu dengan tema kritik terhadap penegakan hukum dapat dilihat pada lagu “Mafia hukum” milik Navicula, serta lagu mereka tentang penyelamatan salah satu spesies endemik Indonesia berjudul “Orangutan”. Lagu kritik sosial dan politik ada pada lagu ‘Negri ngeri” milik Marjinal atau kita ingin bersantai dengan lagu “Aku adalah kamu” milik Dialog Dini Hari yang menceritakan tentang rasa kebersamaan sebagai sesama manusia. Lagu pembangkit semangat untuk menjadi individu merdeka berjudul “Mengadili persepsi” milik Seringai juga sangat layak untuk didengarkan. Di Indonesia, perkembangan musik indie cukup pesat dibeberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, Bali dan lain-lain.
Selain beberapa band indie diatas, band dan musisi indie lain yang juga pantas untuk didengarkan antara lain Burgerkill, The SIGIT, Nosstress, Koil, The Panas Dalam, Frau, Barasuara, White Shoes and The Couples Company, Banda Neira, Mr. Sonjaya, Senar Senja, Mata Jiwa, Payung Teduh, Sarasvati dan masih banyak lagi yang silahkan untuk dicari sendiri.
Tidak akan ada yang menyalahkan musik yang disukai sesorang. Sekali lagi, saya tegaskan bahwa selera musik tetaplah subjektif. Musik indie hanyalah tawaran bagi kita yang mungkin bosan dijejali dengan musik yang sering diputarkan di radio dan ditampilkan pada stasiun televisi sehari-hari. Selain sebuah hiburan, musik dapat dijadikan media pendidikan. Ibarat sebuah buku bacaan, musik indie menawarkan sajian yang lebih dalam dan luas dalam memandang dunia serta tidak kering akan kreatifitas. Musik indie bukan hanya menyampaikan tentang apa yang dirasakan musisinya. Namun, menyampaikan apa yang mungkin terjadi di dalam masyarakat yang dirasakan langsung oleh kita atau yang mungkin belum kita rasakan atau kita ketahui sebelumnya. Hal diatas menunjukakan bahwa musik mereka cerdas dan dewasa. Jika menikmati musik bisa turut mencerdaskan kita, kenapa harus sekedar menghibur?
Penulis: Muhammad Yusuf Manurung
Alumnus FisipUSU












