MEDANHEADLINES – Adalah Foucault berujar bahwa manusia modern tanpa sadar berhalusinasi bahwa pikiran mereka adalahsuatu kebenaran, buah dari otonomi rasio manusia. Padahal justru sebaliknya, semua yang dipikirkan dan diperbuat manusia itulah yang irrasional. Rasionalitas yang irasional inilah yang kelihatan dalam bentuk pikiran dan perbuatan manusia yang cenderung terbolak-balik. Pikiran, perbuatan manusia selalu bertolak belakang dengan hasil serta dampak. Seolah yang dipikirkan itu baik tapi begitu dipraktekkan hasilnya buruk.
Contoh kecil, tentang kehidupan manusia (suku, negara, agama). Masing kelompok punya keyakinanbahwa ideologi merekalah yang benar dan mulia. Padahal kenyataannya, perbuatan mereka bertentangan dengan kebenaran itu sendiri. Banyak orang menganjurkan berlomba berbuat kebajikan, kenyataannya mereka berlomba-lomba berbuat kerusakan. Banyak orang berseru-seru dijalanan pentingnya perdamaian, namun perang selalu digelorakan. Semua manusia hidup dalam satu bumi yang sama, namun semuanya sama-sama merusaknya dan berebut untuk memilikinya tanpa mau berbagi.
Dunia dipenuhi klaim-kalim kebenaran, ditengah ladang kejahatan. Keluhuran adat, agama, ideologi suatu kaum ternyata tidak mampu dinyatakan dalam sikap-perilaku. Negara bangsa tak obahnya gerombolan predator pemangsa alam dan isinya, demi kepentingannya masing-masing. Kedamaian begitu jugapersaudaraan, dan keharmonisan antar seluruh mahluk di alam semesta bagai impian kosong, yang tak akan pernah wujud. Pikiran, ucapan dengan perbuatan bukan lagi senjang tetapi bertolak belakang.
Iman dengan perbuatan tidak lagi bersambungan tapi berseberangan, dan inilah yang menjadi titik soal, manusia saat ini. Masalah tambah rumit, manusia paham betul akar masalah yang menimpanya, jugapaham betul solusinya, akan tetapi, tiba pada prakteknya, masalahnya justru semakin bertambah besar.
Semua kepala negara terlebih negara maju sangat sadar ancaman bahaya dunia di depan mata akibat ulah mereka sendiri. mereka setiap tahun berupaya mengatasinya. Mereka berencana mengurangi gas kaca sebagai dampak dari kebakaran hutan, mengurangi emisi gas buang kendaraan dan industri yang melewati batas, menurunkan peperangan, menumbuhkan hutan-hutan, melestarikan lingkungan, mengatasi kesenjangan, meminimalisir konflik. Tapi apa yang terjadi? Saat solusi dipraktekkan semua enggan melakukannya, dengan berbagai alasan pragmatis.
Manusia Sumber Masalah
Sebagian manusia sadar, akar masalahnya ada pada pikiran manusia sendiri. Pikiran menjadi tempat yang paling kotor awal dari semua bencana. Soalnya, hanya pikiran kotor yang sanggup mengotori alam semesta tempat tidurnya sendiri. Dengan pikiran manusia manusia membangun makna yang terbolik-balik. Banyak manusia justru hidup dengan ketidaksadarannya sebagaimana dibuktikan oleh Freud.
Dari pikiranlah semuanya memancar menjadi tindak-tanduk, sikap-perilaku, akhlak-perbuatan manusia.Sementara pikiran manusia dipengaruhi oleh keyakinannya. Karenanya, keyakinan menentukan sikap dan perilaku kita.
Kerusakan pemikiran manusia modern, sesungguhnya telah dibaca secara terang-benderang oleh para pemikir kritis baik sejak era modern hingga era post-modern. Bahkan semua riset yang menunjukkan fakta penyimpangan perilaku manusia sudah dipublikasikan dan edarkan. Apa yang terjadi pada dunia manusia hari ini, kesimpulannya adalah berasal dari pemikiran manusia sendiri, tidak ada yang lain. Semua ideologi dominan di muka bumi ini adalah produk pemikiran.
Pemikiran manusialah yang ditengarai membuat dunia menjadi kacau-balau, tak beraturan. Sungguhpun nalar manusia sudah ditempatkan pada puncak kekuasaanya, sudah bertahta pada kursi-Nya, sudahmengatur kehidupan manusia, hasil akhirnya malapetaka menimpa manusia. Sungguhpun sudah banyak ideolog selaku “penciptanya” berjuang memperbaiki sistem “ciptaannya” sendiri, tetap saja kerusakannya semakin menjadi. Kita menciptakan “mainan” kita sendiri, tapi justru kemudian kita “dipermainkan” oleh “mainan” itu. Manusia modern tanpa sadar telah “meniupkan ruh” kepada uang, kepada sistem, kepadateknologi, yang akhirnya membuat semua ciptaan itu “hidup” dan menguasai manusia sendiri (Marx).
Penulis : Dadang Darmawan
Dosen FISIP USU












