MEDANHEADLINES.COM – Bumi, manusia, perkembangan dan waktu adalah empat unit kesatuan berirama. Sejak gaya tarik gravitasi antarsemesta yang merupakan asal-muasal kejadian big bang berwaktu-waktu lalu, tidak ada segala sesuatu yang tidak mengalami perubahan. Bumi terus mengalami kala revolusi, baik dari segi alam semesta sebagai unit terbesar, hingga makhluk yang menempatinya sebagai unit terkecil. Dan di setiap kecil sendi kehidupan di planet ini memiliki identitasnya tersendiri.
Indonesia, yang bermuara dari Nusantara memiliki identitas budaya yang sangat kental tidak luput dari peristiwa perubahan budaya. Dari budaya tuturan “saya” hingga menjadi “gua” dan “I (ai)”. Kehidupan masyarakat Indonesia mengalami masa kejayaan ketika anak-anak menundukkan badannya saat melintasi atau berpapasan dengan orang tua. Namun, sekarang mengalami kemunduran yang sangat signifikan dengan melakukan canda-canda sentimentil tentang agama. K. Bertens (2007; 29-34) mengatakan bahwa “situasi moral dalam dunia modern mengajak kita untuk mendalami studi etika. Rupanya studi etika merupakan salah satu cara yang memberi prospek untuk membatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang” Masyarakat Indonesia saat ini, mulai bergejolak secara signifikan terhadap perobekan sekat-sekat hal berbau tabu demi tujuan mendapatkan atensi publik yang ramai.
Budaya menutup dan menjaga aurat, sebagaimana merupakan budaya yang meresap dalam sendi entitas Indonesia tidak lagi dianggap sebagai identitas dan mulai dilupakan. Sejak hadirnya salah satu kemodernitasan media aplikasi bernama Tiktok membuat masyarakat Indonesia melupakan sekat hal tabu kebudayaannya.
Mereka berasumsi bahwa apa yang mereka lakukan (bergoyang-goyang badan di depan kamera, memamerkan harta, bercanda-canda dengan hal agama dan norma, serta menyinggung hal-hal tabu) adalah hal yang keren dan itu sangat gaul. Saya tidak bisa mengerti dimana letak estetika kebudayaannya dari melakukan hal bodoh tersebut?
Budaya yang kita kenal selama ini seperti bertutur kata sopan, menjaga adab dan adat, serta mengikuti kaidah keagamaan mulai terkikis oleh perkembangan waktu. Apakah itu karena kebutuhan zaman atau memang manusia yang mulai bosan menjaga tata krama budayanya.
Kini, mayoritas anak-anak telah terpapar sindrom tiktok. Tak melihat tempat, waktu, orang-orang sekitar, mereka secara spontan akan segera bergoyang saat lagu tiktok diperdengarkan. Beginikah cara masyarakat era 2k21 hidup dan menikmati masa-masanya? Jika memang itu yang diperlukan, maka apa yang dipaparkan oleh ahli K. Bartens dalam bukunya (2007) adalah hal yang benar. Perlu adanya pembelajaran ulang terhadap liarnya perkembangan zaman untuk tidak lagi merobek sekat-sekat ketabuan yang telah terbentuk sejak nama Nusantara belum dikenal di tanah yang sama.
Penulis: Jefri Fernando
Mahasiswa Fakultas Sastra Indonesia Unimed












