ENERGI KASIH SAYANG

MEDANHEADLINES – Apakah energi yang paling kuat di jagad ini? Apakah nuklir, bom atom berdaya ledak tinggi, atau apa? Mengapa manusia selalu mendasarkan kasih sayang Tuhan sebelum mulai aktifitasnya?  Mengapa manusia memuji Tuhan sebagai zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?

Mereka yang iman kepada Tuhan percaya bahwa sifat “kasih sayang” adalah suatu energy penggerak, menjadi roket pendorong aktifitas kehidupan manusia sesuai kehendak-Nya. Banyak orang percayaTuhan sendirilah yang mengaktifkan energy ilahiah dalam kesadaran manusia, sehingga sifat-sifat dan perilaku manusia segambar dengan sifat Tuhan.

Manusia mampu menyebarkan getaran energy positive yang dahsyat kepada seluruh mahluk, hanya dengan cara berbagi kasih kepada sesama, menyayangi/merawat/melindungi alam sekitar dan bukan dengan merusaknya. Manusialah satu-satunya mahluk penuh keluhuran, keadilan, kebijaksanaan dan kasih sayang yang menjadi tumpuan harmoni jagad raya. Keberadaan manusia nan-agung jelas adalah suatu pengharapan dari seluruh mahluk untuk menjadikan alam semesta senantiasa dalam kesetimbangannya.

Namun, energy kasih sayang ada batasnya. Seperti batere/aki, ada saatnya juga kehilangan daya (lowbat). Sebabnya sederhana, manusia mulai meninggalkan sumber asal energi itu berasal. Manusia perlahan beralih dari mengatasnamakan Tuhan berdasarkan kasih-sayang menjadi mengatasnamakan hawanafsunya. Manusia lambat laun lupa, bahwa hawanafsunya itu adalah tenaga pendorong pada perbuatan jahat.

Manusia pun perlahan tapi pasti kehilangan tenaga ilahiah-nya yang agung nan mulia (kamil). Sebaliknya sipemilik keagungan itu sendiripun akhirnya meninggalkan manusia. Sebab tak mungkin kebenaran (haq) dan kejahatan (bathil) bercampur menjadi satu. Keduanya selalu berperang memperebutkan kedudukan yang tertinggi dalam kesadaran manusia. Kalau yang benar datang yang jahat pasti akan tersingkir, begitu sebaliknya.

Ketika manusia mulai percayadiri, menganggap dirinyalah sebagai penentu nasibnya sendiri, manusia mulai yakin bahwa akal-pikirnyalah penentu dan penuntun jalan hidupnya, maka itu pertanda manusia telah meninggalkan-Nya. Inilah zaman yang pernah muncul, dimana manusia seolah terlahir kembali (renaisans) melewati era-kegelapan yang dogmatis. Manusia percaya diri mengatur kehidupannya sendiri, mengenyahkan Tuhan, dan menundukkan alam untuk memperoleh kebahagiaannya. Alam semesta beserta isinya dijadikan sebagai alat pemuas nafsu manusia, begitu juga umat manusia. Dengan akal/rasionya manusia memperbudak sesama dan merusak alam.

Sifat-sifat luhur serta kehormatan manusia sebagai mahluk teragung di jagad telah pergi digantikan sifat individual dan kerakusan. Nyaris yang tersisa hanyalah sifat buasnya. Manusia tak lagi ingin dilayani alam semesta raya untuk memenuhi sekedar kebutuhan (needs) bilogisnya semata. Manusia kini menginginkan alam semesta melayaninya untuk memenuhi keinginannya (wants). Demi memuaskan keinginannya, manusia kemudian mengeksploitasi alam, tak perduli meskipun menimbulkan kerusakan dimana-mana, menyebabkan bencana.

Sifat-sifat manusia kini tak segambar lagi dengan sifat Tuhan, namun berbalik segambar dengan sifat iblis, bahkan lebih buruk lagi. Manusia menjadi mahluk yang paling dikutuk dibumi baik oleh manusia maupun alam, begitu juga ia dikutuki dilangit oleh Tuhan. Kesetimbangan alam semesta menjadi porak-poranda, dunia menjadi tempat yang seburuknya, seperti seolah kampong neraka dengan bahan bakarnya adalah manusia itu sendiri. Manusia selalu membawa “nyala api” dikepalanya, gandrung konflik, senang bersaing, tak lupa bertengkar dan doyan berperang hanya demi berebut kebahagiaan duniawi. Manusia asyik menyingkirkan manusia lainnya dan memperalatnya. Akibatnya, manusia menjadi sengsara dan menderita, serta nista, begitu juga alam menjadi binasa.

Namun hukum alam ternyata tetap berlaku. Sebabnya, tidak ada rumus jika alam semesta ini kalah atau takluk oleh ulah jahat manusia. Berkat dan kutuk, rahmat dan bencana, kejahatan dan kebaikan, siang dan malam, adalah suatu pergantian, pergiliran, yang juga merupakan mekanisme alamiah yang telah ditetapkan.

Manusia jahat yang menebar bencana ternyata, adalah bahagian dari system alam itu sendiri. Orang jahat tetap dibutuhkan sebagai cemeti/cambuk bagi orang munafik. Dibalik bencana yang melanda, tetap pasti ada hikmah besar bagi orang berfikir. Baik kejahatan maupun keberkahan adalah dua keadaan yang punya batas waktu. Berkat dan kutukan, ada saat ajalnya, begitu juga ada saat lahirnya, sebagai suatu scenario alamiah yang berjalan bergiliran tanpa meleset sedikitpun.

Saat kejahatan manusia sudah mencapai puncaknya, maka itu pertanda bahwa banyak manusia akan mencari jalan keluar untuk menemukan solusi mengatasinya. Pada masa penderitaan melanda, manusia yang bijaksana kembali kepada permohonannya, berharap alam kembali campur tangan dalam menata kesetimbangannya. Manusia kembali berharap pertolongan dari Tuhan, sebab meyakini, bahwa hanya Tuhan yang mampu menunjukinya jalan kebenaran keluar dari masalah.

Saat zaman kegelapan melanda Eropa, muncul zaman renaisans, sebagai suatu zaman yang diharapkan oleh para pemikir/philosof Eropa membawa manusia pada fajar kemakmuran. Namun kini, semua sadar, era-renaisans yang melahirkan modernisasi/postmodernisasi justru meluluh lantakkan sendi-sendi kehidupan alam dan manusia. Banyak orang percaya orang-orang bijak sebagaimana yang pernah muncul pada zaman aksial punya peluang untuk lahir kembali. Alasannya, demi menjaga kesetimbangan alam yang secara alamiah mesti terjadi. Pada bangunan yang sudah runtuh, manusia akan kembali membangunnya dari awal demi melanjutkan kehidupannya.

Siklus peradaban, pergantian dan pergiliran peradaban adalah terjadi secara alamiah dalam sejarah pergulatan kehidupan manusia. Namun, jatuh bangun peradaban tidak seperti bayangan Marx terjadi atas kontradiksi antara kaum borjuis dan kaum proletar dalam memperebutkan ekonomi/uang sebagai sumber kebahagiaan/surga dunia. Sejarah manusia yang terjadi justru adalah wujud kontradiksi mentalitas, ketimbang urusan perut belaka seperti disinyalir Marx, yaitu kontadiksi antara mereka yang percaya Tuhan sebagai kekuatan adikodrati diluar manusia, dengan mereka yang percaya diri bahwa manusialah yang menjadi penentu, pengatur dan sekaligus menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri.

Dan satu yang khas, kontradiksi antara mereka yang iman kepada Tuhan dengan mereka yang iman pada rasionya sendiri sebagai Tuhan, bukanlah kontradiksi “saling menjatuhkan”. Keduanya, hanyalah suatu bangunan mekanisme “saling mengingatkan”, saling melengkapi sebagai dua hal yang fungsional.

Sebab cukup mudah bagi Tuhan untuk menciptakan manusia satu dimensi saja. Kenapa Tuhan tidak menjadikan manusia satu iman saja? Sebab jika manusia satu dimensi/otomatik, maka eksistensi Tuhan tidak akan eksis. Eksisnya sifat “haq” dan “bathil”, “berkat” dan “kutuk”, Jalan Kebenaran dan Jalan Kesesatan yang eksis dalam diri manusia-lah yang justru sebagai alat memahami eksistensi Tuhan yang nyata di alam semesta.

Logikanya, sekali lagi, orang jahat (meski dalam pandangan hukum positive adalah kejahatan) justru dibutuhkan untuk mencemeti orang benar yang menyimpang. Seorang pencuri adakalanya dibutuhkan untuk mengambil harta orang kaya hasil rampokan. Bencana justru dibutuhkan untuk mengingatkan kejahatan manusia. Ujian, cobaan, bencana justru adalah mekanisme untuk membedakan mana yang “benar/siddiq” dan mana yang “dusta”.

Ketika orang beriman mulai beralih dari Tuhan, maka itu pertanda kekuasaan mereka akan segera berakhir. Sebagai gantinya pasti akan dibangkitkannya kekuataan yang lebih besar dari mana saja. Itulah situasi yang tergambar pada era kebangkitan dan kejatuhan sejarah manusia yang silih berganti dan tak pernah usai.

Intinya, energi kasih sayang adalah pembeda antara golongan yang “benar” dan golongan yang “jahat”. Mereka yang berada pada Jalan Kebenaran, pasti akan terpancar sifat-sifatnya yang bercahaya, mulia, luhur, agung yang bersumber dari energi kasih sayang. Seperti terpancarnya sinar-sinar yang bermanfaat dari matahari sebagai sumbernya. Inilah energi yang dibutuhkan oleh manusia pada masa lalu, hari ini dan dimasa yang akan datang. Inilah energi yang hanya bisa dibawa oleh para manusia paripurna, insan kamil, para nabi dan rasul, beserta orang yang berjalan bersama mereka. Inilah energi yang merupakan unsur dasariah seluruh unsur kosmik.

Adalah sangat mudah untuk membuktikan mana manusia yang memiliki energi kasih sayang dan mana yang tidak. Cara membuktikannya, lihat saja dari perbuatan manusia. Manusia yang paling mulia disisi Tuhan pasti adalah manusia yang tidak narkoba, tidak begaul bebas, tidak mencuri, tidak berdusta, tidak KKN, tidak merusak hutan/lingkungan, tidak memecah belah manusia, gandrung pada persaudaraan yang universal, tidak menebar kebencian, serta adil. Dan semua kebaikan itu semua tentu saja didasari atas pengabdian mereka hanyalah kepada Pemilik Alam Semesta.

Itu sebabnya wajar, jika perintah-Nya kepada manusia adalah “berlomba-lombalah kamu berbuat kebajikan”. Tak perduli ada perbedaan suku, warna kulit, daerah, ekonomi, pendidikan atau bahkan agama pada kehidupan manusia, semua manusia bisa melakukan perbuatan yang baik (amalsholeh). Sebabnya perbuatan jahat pasti sangat dibenci oleh Tuhan, dan bukan merupakan jatidirinya manusia (fitrahnya manusia). Dan, tanpa jati diri yang asali/fitrah/sejati, manusia telah terasing dari dirinya sendiri dan ia menjelma menjadi mahluk jahat yang pasti dikutuki oleh seluruh Alam. Jika manusia sudah terasing dari dirinya sendiri, maka itu juga pertanda bahwa zaman akhir tiba

 

Penulis : Dadang Darmawan, M Si

Dosen Fisip USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.