Plagiator Ulung yang Beruntung

MEDANHEADLINES – Akhir-akhir ini penghuni media sosial daring dihebohkan dengan sosok perempuan yang masih muda dan cantik. Dia menjadi terkenal karena tulisan yang dipostingnya lewat akun Facebook pribadinya. Biasanya, tulisan-tulisan seperti itu sudah biasa kita dengar. Akan tetapi, karena kondisi psikologi negara kita yang terus memperdebatkan tentang Pancasila, agama, cinta-kasih, kedamaian dan kenyamanan berbangsa dan bernegara, tulisan itu pun seolah-olah menjadi penyejuk.

Tulisan tersebut pun mengundang kontroversial berbagai pihak. Banyak kalangan yang menyangkal isi tulisan tersebut. Banyak pulayang setu dengan isi tulisan tersebut, sehingga ia pun ditaburi puji-pujian dari masyarakat, tidak lepas juga pejabat negara yang memanggil sosok perempuan tersebut ke kediamannya.

Fenomena ini pun semakin diperbincangkan. Timbul kecurigaan pada si penulis. Apakah itu betul tulisannya atau plagiat? Orang-orang ragu, seusianya yang masih muda apakah mampu menuliskan tulisan dengan diksi yang begitu kritis, indah, lembut tapi tajam. Ternyata benar dugaan masyarakat. Satu-dua hari belakangan ini terungkap. Tulisan tersebut bukan asli tulisannya. Ternyata ia melakukan plagiat dari tulisan orang lain yang diposting lewat akun Faecook orang tersebut satu tahun yang lewat, pada 30 Juni 2016. Singkatnya, Afi melakukan plagiat atas tulisannya Mita Handayani. Lebih jelasnya, silahkan Anda baca sendiri berita-berita tentang yang saya bicarakan tersebut.

Fenomena Plagiator Masa Kini

Kecanggihan fasilitas media tulis-menulis saat ini seharusnya menjadikan kita lebih kreatif dan produktif. Ternyata, hari ini terbalik. Kreativitas dan produktivitas yang original terkati tulis-menulis malah semakin menurun. Cerita di atas tadi adalah salah satu fenomena tentang menjamurnya plagiator-plagiator tulisan masa kini.

Dalam dunia akademikm pun, kita sering menemukan budaya plagiat. Tidak percaya, silahkan Anda amati sendiri. Apakah mahasiswa-mahasiswa kita saat ini betul-betul mengerjakan tugas makalah tanpa plagiat? Menurut saya, mayoritas mahasiswa kita lebih suka yang praktis: buka internet, langsung Copy Paste dari karya tulis orang lain. Tidak menutup kemungkinan, tugas akhir kuliahpun (Skripsi) melakukan plagiat terhadao karya tulis orang lain.

Bukankah sebaiknya tulisan kita harus original. Asli dan tidak plagiat. Kalau pun hendak mengutip dari pendapat lain, sumbernya dapat kita tuliskan. Bukankah tindakan plagiat adalah tindakan pencurian, penipuan dan melanggur hukum. Nah, seharusnya negara kita betul-betul menjalankan hukumnya.

Plagiator yang Beruntung

Menjamurnya plagiator-plagiator ulang di masa kini malah disambut hangat oleh pemerintah kita. Seperti tokoh plagiat yang saya ceritakan tadi. Sekarang dia sudah dipanggil, bertemu dengan pejabat negara. Dia pun mengisi suatu acara dialog-dialog dan acara-acara lainnya. Mungkin sebentar lagi dia akan diangkat jadi Duta. Ya.., entah jadi Duta apalah. Itu mah…, haknya pejabat negara.

Di dunia kampus pun, plagiator-plagiator mendapat keuntungan. Baik berupa moril maupun materil. Padahal, secara hakikinya itu adalah kerugian, karena membunuh kreativitas dan produktivitas manusia dalam tulis-menulis. Tidak menututp kemungkinan, masyarakat kampus atau masyarakat kita yang lebih luas melakukan plagiat. Tindakan plagiat telah dilarang oleh agama dan hukum, juga menciderai keilmiahan karya tulis. Tindakan itu sama halnya dengan mencuri, dan pelakunya adalah maling. Herannya, dosen-dosen kita pun, mayoritas tidak penudli, tetap saja tugas makalah diterima. Tidak ada pengujian apakah ia original atau hasil salinan dari karya tulis orang lain.

Apa yang harus dilakukan?

Ya, sebaiknya kita menulis karya sendiri. Kalaupun menggunakan kutipan, jangan lupa mencantumkan sumbernya. Kita wajib meninggalkan budaya plagiat tersebut. Menulis dengan karya sendiri dan gaya sendiri itu lebih baik dan dapat meningkatkan kreativitas intelektual kita. Saran saya kepada negara kita ini, lakukanlah pegawasan terhadap plagiator-plagiator, jalankan aturan tentang pencurian terhadap karya intelektual orang lain. Dan jangan langsung membanggakan plagiator kemudian dijamu dikediaman sang pejabat negara. Plagiator kok dibanggakan. Maling kok dibanggakan!

 

Penulis: Ibnu Arsib Ritonga

Kader HMI Cabang Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.