MEDANHEADLINES.COM – Beberapa waktu yang lalu, berbagai media memberitakan kontroversi selebritis Rina Nose yang tiba – tiba membuka jilbabnya. Rina mengumumkan keputusannya ini dengan mengunggah fotonya tanpa menggunakan jilbab di akun sosial media miliknya. Keputusannya ini kemudian mendapatkan kecaman dari netizen. Tudingan ateis sampai murtad ditujukan pada dirinya.
Sebelumnya, serangan yang sama pun pernah diterima oleh selebritis lainnya, yaitu Marshanda. Setelah beberapa tahun menggunakan jilbab, akhirnya Marshanda melepaskan jilbabnya pada tahun 2016 lalu. Melalui akun media sosialnya, Marshanda mempublikasikan keputusannya itu. Para netizen pun ramai – ramai menghujat keputusan Marshanda tersebut.
Menarik melihat fenomena yang terjadi pada kedua selebritis tersebut karena melepaskan jilbabnya. Menurut penulis, fenomena ini bukan terjadi karena mereka tinggal Indonesia di mana mayoritas masyarakatnya beragama Muslim. Tetapi fenomena ini sedang menjelaskan kondisi dan politik di Indonesia yang baru terjadi di akhir tahun 90an hingga saat ini.
Orde Baru Membungkam Islamisme
Sejarah menjelaskan bagaimana siasat Orde Baru dalam membungkam Islamisme di Indonesia. Islamisme dalam tulisan ini merujuk pada gerakan Islam terutama yang terorganisir serta wacana tentang keislaman itu sendiri (dapat berupa gagasan dan simbol). Rezim Orde Baru meyakini Islamisme dapat mengancam kekuasaannya.
Maka tak heran bila setelah Orde Baru berkuasa, pergerakan politik Islam mulai dibatasi geraknya. Pada akhir tahun 1960an, Parmusi ditolak keberadaannya. Penolakan ini kemungkinan karena dikhawatirkan Parmusi akan menyaingi popularitas Golkar. Sebagai gantinya dibentuklah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai ini dibentuk sebagai wadah para pemilih Islam. Namun demikian, PPP tetap saja dibatasi geraknya sedemikian mungkin (Hadiz, 2008).
Berbagai intimidasi terhadap ulama pun pernah dilakukan oleh rezim Orde Baru. Intimidasi pernah dilakukan pada ulama besar Aceh yaitu Daud Beureueh. Saat itu, Daud sering kali mengkritik PNG Arun yang dianggapnya tidak membawa manfaat bagi rakyat Aceh, malah sebaliknya hanya mengeksploitasi kekayaan alam Aceh. Tak hanya itu, pada tahun 1984 terjadi tragedi Priok yang disebabkan oleh intimidasi aparat terhadap masyarakat yang memasang pamflet kritikan pada pemerintah Orde Baru di sebuah mushola. Akibat bentrok masyarakat sipil dengan aparat bersejata, Komnas HAM melaporkan 24 orang tewas dan 55 orang terluka (tirto.id).
Selain mengintimidasi gerakan Islam, Orde Baru juga melarang pemakaian jilbab di sekolah. Pada tahun 1982, Dirjen Pendidikan dan Menengah, mengeluarkan peraturan tentang seragam sekolah nasional yang pada intinya melarang pemakaian jilbab di sekolah. Para siswi yang menggunakan jilbab akan mendapatkan intimidasi dari pemerintah.
Kebangkitan Pasca Orde Baru
Setelah rezim Orde Baru berakhir, terjadi berbagai pertarungan wacana di tengah masyarakat Indonesia. Sebelumnya, wacana yang berkembang di masyarakat dikendalikan penuh oleh pemerintah Orde Baru. Memasuki reformasi, masyarakat mulai menemukan kebebasannya. Salah satu wacana yang menguat di tengah masyarakat pasca Orde Baru adalah Islamisme. Setelah dibungkam selama rezim Orde Baru, Islam menemukan kembali kebebasannya di era reformasi hingga saat ini.
Perkembangan Islamisme ini dapat dilihat dari bermunculannya partai politik dan organisasi masyarakat berbasis Islam, sekolah Islam, perda syariah, bank syariah, sampai budaya pop dengan tema Islami. Secara khusus, dalam bukunya Identitas dan Kenikmatan, Heryanto (2015) menjelaskan bagaimana wacana keislaman muncul dalam budaya pop. Di layar televisi mulai bermunculan tayangan dakwah Islam yang dikemas secara menarik. Sementara itu, di layar lebar, bermunculan berbagai film dengan latar cerita Islam. Beberapa film dengan tema Islami yang paling populer adalah Ayat – Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban dan Ketika Cinta Bertasbih.
Perkembangan film dengan tema Islami ternyata menjalar pada perkembangan sinetron dengan tema Islami pula. Bila sebelumnya sinetron Islami hanya muncul di bulan Ramadan, saat ini sinetron Islami muncul sepanjang tahun. Bahkan hampir setiap sinteron di televisi Indonesia berusaha menampilkan simbol Islam dalam ceritanya.
Pesatnya tema Islam dalam industri budaya pop di Indonesia, ternyata telah memangkas jurang pemisah antara wacana keagamaan dan industri hiburan. Para selebritis dan bintang film tak perlu lagi ketakutan kehilangan pekerjaan bila mereka memilih untuk menggunakan jilbab. Karena pada kenyataannya, jilbab sebagai simbol Islamisme, menjadi penting dalam industri hiburan saat ini. Maka tak usah heran bila bermunculan selebritis yang menggunakan jilbab dan tetap berkarir di industri hiburan. Sebut saja Shereen Sungkar, Laudya Cintya Bella, Nygta Gina, Dewi Sandra dan beberapa selebritis lainnya.
Maraknya selebritis yang menggunakan jilbab sejalan dengan maraknya bisnis busana Muslim di Indonesia. Nama – nama baru bermunculan di industri busana Muslim, sebut saja Dian Pelangi, Jenahara Nasution, bahkan tersangka kasus penipuan jamaah umroh, Anissa Hasibuan. Menariknya lagi, desainer – desainer ternama yang tidak secara khusus memproduksi busana Muslim, ikut – ikutan mengeluarkan rancangan busana Muslimnya.
Dari sini kita dapat melihat sambutan positif dari masyarakat terhadap Islamisme. Karena tidak mungkin industri hiburan “getol” memproduksi tayangan dengan tema Islami bila tidak digemari masyarakat (pangsa pasarnya). Tidak mungkin pula industri busana Muslim berkembang begitu pesat bila tidak didukung oleh konsumen. Fenomena ini sesungguhnya sedang menunjukkan norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Norma dan nilai sosial itu adalah Islamisme dengan segala wacana, gagasan dan simbolnya, termasuk pemakaian jilbab.
Maka dari itu, pemakaian jilbab tidak lagi dapat dimaknai sebagai perwujudan pelaksanaan ajaran agama yang bersifat pribadi antara manusia dengan Tuhan.Jilbab telah menjadi variabel dari ketaatan pada norma sosial. Dengan memakai jilbab, seseorang dianggap telah melaksanakan norma sosial (Islamisme) yang berlaku di masyarakat.
Maka tak perlu heran bila Rina Nose dan Marshanda dihujat karena melepaskan jilbabnya. Kedua selebritis tersebut dihujat karena dianggap bertindak tidak sesuai dengan norma sosial (baca: Islamisme) yang berlaku di masyarakat. Di masa popularitas Islamisme, memakai jilbab tentu menimbulkan citra yang lebih positif, sementara yang melepaskannya akan menimbulkan citra yang negatif. Tapi akan lain halnya di masa Orde Baru di mana Islamisme tidak sepopuler saat ini.
Jadi fenomena jilbab sebagai salah satu simbol dari Islamisme, tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial politik di suatu negara. Begitu pula yang terjadi di Indonesia, popularitas jilbab sejalan dengan berakhirnya rezim Orde Baru dan masuknya era reformasi di mana Islamisme mendapatkan kebebasannya. Maka, fenomena hujatan pada Rina Nose dan Marshanda karena melepaskan jilbabnya adalah bukti kebangkitan Islam pasca dibungkam oleh rezim Orde Baru.
Penulils : Puteri Atikah, M.Si
Lembaga Kajian Sosiologi












