Laboratorium Ekstasi di Medan Digerebek Mabes Polri dan Polda Sumut

Penggerebekan Laboratorium Ekstasi di Medan
Laboratorium Ekstasi di Medan Digerebek Mabes Polri dan Polda Sumut. (Foto: DIVA)

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Bareskrim Polri bersama Polda Sumut menggerebek satu unit rumah toko (Ruko) yang dijadikan laboratorium ekstasi di Medan, pada Selasa (11/6/2024) sekitar pukul 14.00 WIB. Lokasinya berada di Jalan Kapten Jumhana, Kecamatan Medan Area.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Mukti Juharsa mengatakan bahwa pihaknya menangkap enam pelaku dalam pengungkapan Laboratorium Ekstasi di Medan. Mereka yakni HK, bertugas sebagai pembuat pil ekstasi. Kemudian DK (istri HK) yang bertugas sebagai pembantu di laboratorium. Lalu, inisial SS yang perannya memesan alat cetak dan pemasaran. Berikutnya, inisial S yang berperan sebagai penanggung jawab pembelian, inisial HP sebagai kurir dan inisial HD sebagai pemesan ekstasi.

“Selain itu, kita masih memburu pelaku inisial R dan B. Keduanya sudah masuk daftar pencarian orang (DPO),” ujar Mukti saat memberikan keterangan di lokasi penggerebekan bersama Wakapolda Sumut, Brigjen Rony Samtana, Kamis (13/6/2024).

Hasilkan 600 butir ekstasi per bulan

Mukti menjelaskan, setelah menggerebek laboratorium di Jalan Kapten Jumhana, tim gabungan melanjutkan penindakan di kawasan Jalan Gatot Subroto dan Koin Bar, di Jalan Lintas Sumatera, Pematangsiantar, pada Rabu (12/6/2024).

“Kronologisnya berawal dari pengungkapan kasus (clandestine laboratorium narkoba) di Sunter dan Bali,” ucapnya.

Pengungkapan laboratorium ekstasi di Medan ini, lanjut Mukti, tim turut mengamankan barang bukti narkotika sebanyak 635 butir pil ekstasi dengan merek Ferrari. Berdasarkan keterangan pelaku, laboratorium di Jalan Jumhana ini mampu memproduksi lebih dari 600 butir ekstasi dalam sebulan.

“Bisa jadi lebih (dari 600 butir ekstasi). Oleh sebab itu, jika pabrik ini terus berlangsung maka bisa banyak yang menjadi korbannya,” ujarnya.

Beli bahan baku dari marketplace

Mukti mengatakan, berkaca dari temuan kasus ini, trend pembuatan pil ekstasi telah berubah dari bahan baku MDMA menjadi memphedrone. Hal ini sangat perlu diantisipasi karena bahan tersebut bisa dibeli dengan mudah oleh pihak yang berniat untuk melakukan tindak pidana narkotika.

“Para pelaku bisa mendapatkan bahan baku ini menggunakan jalur marketplace. Contohnya, dia bisa membeli dari China jika di Indonesia tidak ada,” katanya.

Mukti menegaskan, pihaknya akan menjerat para pelaku dengan Undang-Undang Narkotika yang ancaman hukumannya adalah pidana mati.

“Kemarin, kami sudah ketemu dengan kepolisian narkotika China untuk membahas persoalan ini. Bahwa banyak bahan kimia (Prekursor) yang bisa lewat secara ilegal ke Indonesia, sehingga bisa dibuat untuk bahan-bahan pembuatan ekstasi,” pungkasnya.

Di kesempatan yang sama, Wakapolda Sumut, Brigjen Rony Samtana mengatakan bahwa modus operandi para pelaku lewat clandestain laboratorium yang ada di lantai III bangunan ruko di Jalan Jumhana adalah ekstasi dengan kandungan memphedrone.

“Target pasar mereka adalah beberapa tempat hiburan di Sumut. Dan yang sudah diamankan tadi ternyata beredar di Kota Siantar. Saat ini kita sedang kembangkan untuk daerah lain,” ucapnya.

Sedangkan untuk modus operandi lainnya adalah memasukkan bahan kimia yang didapatkan pelaku dengan mudah melalui marketplace.

“Ini bukti bahwa Sumut memang patut menjadi perhatian kita bersama. Narkotika adalah musuh untuk kita berantas bersama,” ucapnya tegas.

Menurut Rony, sebanyak 65 persen pelaku kejahatan adalah para pengguna narkoba. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini ia kembali mengingatkan agar masyarakat ikut mendukung pemberantasan narkoba di Sumut.

“Pemberantasan narkoba tidak akan maksimal tanpa adanya dukungan dari masyarakat,” pungkasnya. (DIV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.