Sumut  

BKSDA Sumut Bungkam Soal Pelepasliaran Kukang yang Diserahkan Warga Tapteng

Ilustrasi Kukang
Satwa dilindungi jenis Kukang (Nycticebus) yang dipelihara warga Tapteng selama 1 Tahun dan diserahkan ke BKSDA untuk dilepasliarkan, (Dok: RRI Sibolga)

MEDANHEADLINES.COM, Tapteng – Petugas BKSDA Sumut, Lantas Hutagalung bungkam saat ditanyai soal pelepasliaran hewan dilindungi jenis Kukang (Nycticebus), yang diserahkan warga Perumahan Toholand Marrison, Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) beberapa waktu lalu.

Mirisnya, Lantas Hutagalung diduga memberikan telepon selulernya kepada orang lain ketika wartawan mencoba mengkonfirmasi hewan yang terancam punah itu. Bahkan, orang tersebut malah balik bertanya dari mana wartawan mendapat informasi terkait Kukang yang diserahkan warga untuk dilepasliarkan.

“Dari mana dapat informasi terkait Kukang itu,” ucapnya saat medanheadlines.com menghubungi nomor telepon Lantas Hutagalung, Jumat (31/5/2024).

“Saya menerima informasi dari pegiat lingkungan atas nama Damai Mendrofa,” jawab jurnalis dengan nada sopan.

Sayangnya, setelah mendapat jawaban, pria tersebut tidak memberikan informasi apa pun. Dia malah semakin arogan dengan menyuruh jurnalis untuk mempertanyakan hal itu kepada pegiat lingkungan saja.

“Kalau begitu dari Damai saja bapak tanya publikasinya,” ucap pria yang akhirnya mengaku sebagai staf sembari menutup telepon.

Dihubungi terpisah, Pegiat lingkungan, Damai Mendrofa mengaku tidak mengetahui informasi lanjutan soal pelepasliaran Kukang tersebut. Dia baru mengetahuinya setelah mengirim pesan singkat ke nomor petugas BKSDA, Lantas Hutagalung.

“Sudah dilepas pukul 12:02 WIB, itu balasan chat dari pak Lantas,” ucap Damai.

Saat ditanya terkait kronologis, usia dan jenis kelamin Kukang itu, Damai mengatakan, informasi itu harusnya BKSDA yang menyampaikan.

“Apalagi jika dikonfirmasi teman-teman jurnalis. Itu kan informasi publik, bukan informasi rahasia. Sangat disayangkan kalau petugas (BKSDA) tak mau memberi informasi saat konfirmasi. Apa yang mau disembunyikan rupanya?” ujar Damai.

“Apalagi ini informasi bernilai edukatif. Semakin luas publikasinya semakin baik. Jadi aneh kalau ada petugas BKSDA malah menyuruh wartawan bertanya ke saya,” sambung Damai.

Menurut Damai, BKSDA sebaiknya juga menjelaskan apakah pelepasliaran itu sudah melalui prosedur dan pertimbangan yang tepat. Apalagi umur Kukang ini belum cukup dewasa, sehingga butuh waktu panjang bagi hewan ini menyesuaikan diri di tengah kondisi cuaca ekstrim saat ini.

“Perkiraannya usia Kukang itu sekitar setahun, ini berdasarkan informasi warga bermarga Gaza yang selama ini memeliharanya. Nah, dengan usia yang belum cukup dewasa ini tentu butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Kondisi cuaca juga harus jadi pertimbangan bagi BKSDA, mengingat saat ini curah hujan ekstrim, jangan nanti dilepas malah jadi berisiko buat satwa itu sendiri,” ucap Damai.

Selain tu, Damai juga menyarankan agar BKSDA menjalin koordinasi yang baik dengan jurnalis. Sebab, peran dari pewarta sangat krusial dalam membantu upaya penyelamatan satwa liar. Apalagi mengingat kawasan Pantai Barat yang kaya dengan keberagaman hayati.

“Publikasi melalui teman-teman jurnalis tentu akan membantu edukasinya lebih meluas. Saya tidak punya data ada berapa kali BKSDA melakukan pelepasliaran satwa, tapi informasi dan data itu sangat penting untuk masyarakat. Tujuannya agar masyarakat mendapat pengetahuan dan wawasan soal satwa atau tumbuhan yang dilindungi. Jadi, sangat disayangkan jika BKSDA menganggap ini hanya urusan internal mereka saja,” pungkas Damai.(JAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.