Sidang Kepemilikan Senpi di PN Lubukpakam, PH Terdakwa: JPU Hadirkan Saksi di Luar BAP

MEDANHEADLINES.COM, Lubukpakam – Pengadilan Negeri (PN) Lubukpakam kembali menggelar sidang kasus dugaan kepemilikan senjata api (Senpi) ilegal dengan terdakwa Edi Suranta Guru Singa alias Godol, Selasa (28/5/2024). Agendanya mendengarkan keterangan saksi.

Saat sidang berlangsung, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Deliserdang, Jhon Wesli dan Yuspita Ginting menghadirkan enam saksi dari personel Brimob, saksi ahli dan masyarakat.

Hakim Ketua Simon CP Sitorus meminta saksi dari personel Brimob bernama Diky menceritakan bagaimana dia melihat terdakwa melemparkan sesuatu yang disangkakan Senpi milik terdakwa.

Hakim juga meminta saksi lain menyampaikan kesaksian mereka terkait apakah Senpi tersebut memang benar milik terdakwa.

Salah satu kuasa hukum terdakwa, Suhandi Umar Tarigan SH menyampaikan kepada hakim bahwa saksi yang dihadirkan tidak memiliki kepastian melihat langsung terdakwa ada melemparkan senjata, seperti yang dimaksud hingga ditemukan personel Brimob di lokasi.

Oleh karena itu, Suhandi menegaskan kasus ini semakin menguatkan dugaan bahwa kliennya telah dikriminalisasi. Sebab, dari saksi yang menyampaikan keterangan di persidangan tidak ada yang mengetahui jelas kalau pemilik Senpi itu adalah kliennya.

Justru, saksi luar yang dihadirkan jaksa membuat penasehat hukum menilai bahwa jaksa ragu dengan keterangan saksi-saksi yang ada di BAP polisi.

“Keterangan saksi yang dihadirkan tersebut tidak ada yang bisa meyakinkan dan memberikan keterangan jelas untuk membenarkan kepemilikan Senpi itu milik klien kami. Dan aneh bagaimana berkas ini bisa P21, karena para saksi pelapor yang dihadirkan nol semua pengetahuannya. Termasuk saksi ahli yang dihadirkan hari ini kami anggap bukan saksi ahli,” kata Suhandi dalam keterangannya.

Pada sidang selanjutnya, Suhandi menyebutkan Jaksa tidak yakin dengan saksi yang ada di BAP untuk menjerat kliennya. “Tadi ada saksi ahli, tapi hanya tau masalah registrasi. Mestinya saksi ahli itu bisa menjelaskan terkait uji balistik maupun tentang sidik jari, tapi itu tidak ada,” ujarnya.

Suhardi mengatakan bahwa minggu depan akan menyampaikan terkait oknum TNI, Kopda M yang ada di lokasi waktu itu. Dan yang bersangkutan sudah dilaporkan ke POM dan telah ditahan.

“Apabila nanti saksi kami menyebutkan terkait oknum TNI itu, kita akan meminta hakim bisa menghadirkan Kopda M untuk dimintai kesaksian,” kata Suhandi didampingi penasehat hukum lainnya.

Di sidang kesaksian pelapor sebelumnya, Hakim Ketua Simon CP Sitorus dan dua hakim anggota mempertanyakan kesaksian anggota Brimob yang ada di lokasi penemuan Senpi, yang disangkakan milik Edi Suranta Guru Singa alias Godol. Dan menjadi saksi yang memberatkan terdakwa.

Anggota Brimob Polda Sumut itu yakni Bripda Ruben Timotius Silalahi dan Kompol Oktorolasi Simbolon. Mereka ditanya hakim dan penasehat hukum Edi Suranta Guru Singa.

Namun tak jauh berbeda dengan dua anggota Sat Brimob Polda Sumut sebelumnya, yaitu Bripda Surya Darma Sambo dan Brigadir Andry Purba l. Bripda Ruben Timotius Silalahi dan Kompol Oktorolasi Simbolon sama-sama mengaku tidak melihat terdakwa Godol membuang senjata api.

Majelis hakim juga mencecar terkait sprint tugas dari saksi pelapor sebagai komandan yang memimpin anggota Gegana Brimob pada saat melakukan penggerebekan dan penangkapan 21 orang, termasuk terdakwa di lokasi perjudian di Desa Durin Jangak, Kecamatan Pancurbatu pada 15 Maret 2024 lalu.

Hakim juga menyinggung soal sidik jari pada senjata yang ditemukan. Di mana sebelumnya, saat senjata api itu diamankan oleh anggota saksi pelapor, senjata sudah dipegang banyak orang tanpa sarung tangan. Hingga menyulitkan kalau diperiksa sidik jari secara forensik pada senjata jenis pistol yang ditemukan.

Hakim menambahkan, saksi pelapor menyebutkan bahwa dia mengetahui ditemukan senjata api jenis pistol itu setelah menerima laporan anggota melalui saluran radio.

“Setelah mendapat laporan dari anggota, saya datang ke lokasi dan melihat senjata yang dipegang oleh anggota bernama Budi yang disebutkan oleh anggota ditemukan di pinggir jalan oleh anggota saya lainnya bernama Dicky yang menyatakan kalau senjata api itu milik Godol,” sebut saksi kepada hakim.

Hakim lalu mempertanyakan, untuk senjata api yang ditemukan itu jenis senjata organik atau senjata rakitan? “itu senjata tidak digunakan satuan manapun,” jawab saksi lagi.

Hakim juga menanyakan, kenapa setelah penangkapan terdakwa dengan 20 orang lain yang diamankan saat penggerebekan, tidak dibawa ke Polda tapi ke Polrestabes Medan.

“Karena beberapa kasus yang kami temui di perkara lain, kami serahkan ke Polrestabes Medan dan itu arahan dari Kapolsek Pancurbatu pada saat itu,” ucap saksi.

Hakim Ketua melanjutkan dengan bertanya terkait sprint surat tugas berapa personel anggota Brimob yang dibawa saksi pelapor ke lokasi penggerebekan, dan apakah itu dilakukan sesuai perintah Polda Sumut atau Polrestabes Medan yang meminta bantuan BKO.

Saksi pelapor menjawab, kalau mereka turun ke lokasi melakukan patroli dengan perintah lisan dan sprint dari komandan Brimob Polda Sumut dengan menurunkan 42 personel Brimob bersenjata alat pelontar gas airmata dan senjata api laras panjang.

“Saat penggerebekan kami juga didampingi petugas Polsek Pancurbatu dipimpin Kapolsek. Setelah mengamankan 21 orang dari lokasi, kami langsung bawa ke Poltabes Medan, tidak ada yang dilepaskan saat dibawa ke sana,” jawab saksi lagi.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa lainnya, Thomas Tarigan SH dalam sidang mendengarkan keterangan saksi pelapor menanyakan terkait pemilik senjata api tersebut apakah menemukan atau melihat senjata api itu dibawa oleh terdakwa Godol. Dia menjawab tidak ada mempertanyakan hal itu pada orang-orang yang diamankan, atau warga yang ada saat penggerebekan. Hanya berdasarkan keterangan anggotanya.

“Saksi pelapor juga mengaku tidak melihat langsung terdakwa Edi Suryanta Guru Singa menguasai, membawa, menyimpan senjata api secara langsung. Kedua saksi pelapor personel Brimob ini juga tak melihat terdakwa memegang dan menyimpan senjata api. Karena ditemukan tidak di badan terdakwa, atau ada yang melihat senjata itu sengaja dibuang terdakwa ke pinggir jalan, tempat di mana senjata katanya ditemukan anggota Brimob yang melakukan penggerebekan.

“Ini aneh saja, gimana bisa senjata itu dikatakan milik klien kami, senjata itu tidak ditemukan di badan atau di pegang, atau ada yang nampak dibuang sengaja oleh klien kami. Setelah itu juga penyidik hanya menerima serahan klien kami dan senjata api yang ditudingkan milik klien kami ini tentunya tak berdasar karena tidak didukung bukti yang otentik, apa itu rekaman video atau hal yang bisa dijadikan dasar pembuktian senjata api itu milik klien kami. Penyidik tidak ada olah TKP atas penemuan senpi seperti dimaksud,” jelas kuasa hukum terdakwa, Thomas Tarigan SH.

Thomas menambahkan, dalam sidang hari ini mendengarkan keterangan dua orang saksi pelapor dari anggota Brimob.

“Kami dalam sidang ini mencocokkan apa yang ada dalam BAP keterangan pelapor atas klien kami. Dan kami menemukan kejanggalan serta ada beberapa poin yang tidak sesuai dari keterangan yang disampaikan dalam BAP, dengan keterangan langsung yang disampaikan dalam sidang keterangan saksi pelapor hari ini,” ucap Thomas.

Sidang mendengar keterangan saksi pelapor dari komandan Brimob saat penggerebekan dan penangkapan terdakwa Edi Suryanta Gurusinga alias Godol atas kepemilikan senjata api ilegal ini dihadiri puluhan anggota Brimob Polda Sumut. Pasukan elite Polri ini sengaja mengikuti jalannya proses sidang dengan perintah komandannya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.