Sumut  

Hutan Mangrove di Desa Jago-Jago Tapteng Masih Butuh Perhatian

Kondisi hutan mangrove di Desa Jago-Jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapteng yang masih membutuhkan perhatian.(Foto: Jasman J. Mendrofa)

MEDANHEADLINES.COM, Tapteng – Mangrove adalah jenis tumbuhan yang mampu hidup di pinggir pantai berlumpur dan pasang surut air laut. Oleh karena itu, banyak daerah yang mencoba membudidayakan tanaman Mangrove dengan tujuan untuk menahan air laut agar tidak mengikis tanah di garis pantai.

Satu di antaranya adalah pantai di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumut. Desa Jago-Jago di Kecamatan Badiri, Tapteng memiliki hutan mangrove yang sangat luas.

Selain hutan mangrovenya, desa yang telah mendapat gelar Kampung Bahari Nusantara itu juga banyak keunikan, seperti banyaknya peninggalan sejarah. Sayangnya belum dikelola dengan baik. Masih membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak swasta.

Kepala Desa Jago-Jago, Fitri Purba mengatakan, Hutan Mangrove di desanya merupakan suatu anugerah yang tak ternilai dari Tuhan yang Maha Esa.

“Hutan mangrove menjadi tempat berkembangbiaknya kepiting, kerang, udang dan ikan. Sehingga warga yang menggantungkan hidupnya dari mencari ikan tetap terjaga,” ujar Fitri saat diwawancarai medanheadlines.com, Kamis (9/5/2024).

Selama menjabat, Fitri mengaku sudah mengusulkan agar hutan mangrove di desanya dijadikan lokasi wisata. Salah satunya dengan membangun jembatan dalam hutan mangrove dan mendirikan gazebo, tempat bersantai para wisatawan sehingga mereka bisa menikmati suasana alam.

“Rencana itu belum dapat direalisasikan akibat banyaknya kebutuhan yang lebih penting dalam anggaran dana desa,” katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Fitri, sampai saat ini pelestarian hutan mangrove di desanya belum menjadi prioritas. Padahal masih banyak lahan kosong yang bisa ditanam bibit mangrove untuk mendorong pelestarian alam sampai membuka potensi wisata yang juga mampu mendorong pendapatan masyarakat.

Fitri berharap ada pihak yang bisa mendorong pengembangan hutan mangrove di desanya agar menjadi Eco Wisata (Wisata Alam). Apakah itu dari pemerintah daerah maupun pihak swasta.

“Apabila ada peluang nantinya akan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat desa,” pungkasnya. (JAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.