Kunjungi Pesanggrahan Bung Karno di Karo, Bane Manalu: Tempat Ini Harus Diperhatikan Sebagai Penghargaan Kepada Pahlawan

Keterangan foto: Staf khusus Menkumham, Bane Raja Manalu saat mengunjungi Pesanggrahan Bung Karno di Tanah Karo, Sabtu (26/3/2022). (Handout)

MEDANHEADLINES.COM, Karo- Staf Khusus (Stafsus) Menteri Hukum dan HAM (Menkumham), Bane Raja Manalu bersama rombongan mengunjungi Pesanggrahan Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno di Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (26/3/2022) lalu.

Begitu tiba di lokasi, Bane dan rombongan langsung melihat patung Soekarno yang dibangun dengan posisi duduk. Monumen itu dibuat pada 2005 silam. Kemudian dia berjalan sembari memperhatikan bangunan pesanggrahan dan halaman sekitar.



Bane mengatakan, pesanggrahan ini adalah bukti bahwa jejak Bung Karno itu hampir ada di semua daerah di Indonesia. Jika melihat dari sejarah, pada 74 tahun lalu Belanda mengasingkan Bung Karno di Tanah Karo. Namun, bapak proklamator bangsa ini hanya 12 hari ditempatkan di sini.

“Pada saat itu warga Karo adalah pecinta Bung Karno dan tidak terima dia dibuang dan diasingkan. Sehingga Belanda akhirnya memindahkannya ke pesanggrahan yang di Perapat. Ini artinya warga Tanah Karo adalah pecinta dan pengikut Soekarno sejati,” ucap Bane kepada wartawan di sela-sela kunjungannya.

Menurut Bane, bila dilihat dari tempatnya sekarang, kondisi pesanggrahan ini cukup memprihatinkan karena kurang diperhatikan. Itu bisa dilihat di bagian atap dan kondisi halamannya yang masih banyak puntung rokok berserakan.

“Padahal tempat ini merupakan saksi sejarah bahwa Soekarno, Syahrir dan Agus Salim pernah ditempatkan di sini. Tapi kata penjaganya, tempat ini nantinya akan dibuat menjadi Museum. Mudah-mudahan benar terealisasi sehingga membuat tempat ini menjadi lebih dirawat,” kata pria kelahiran Pematangsiantar itu.


“Saya berharap pemerintah Provinsi Sumut bisa lebih memperhatikan lagi tempat ini. Karena itu bentuk penghargaan kita pada pahlawan dan tokoh pendiri republik ini. Republik ini tidak akan ada kalau tak ada Soekarno,” ucap lulusan UI itu tegas.

Di lokasi yang sama, penjaga pesanggrahan bernama Faisal Amri menjelaskan bahwa tempat ini dibangun pada 1931. Di masa itu Bung Karno, Sutan Syahrir dan Agus Salim ditangkap Belanda dan ditempatkan di tempat ini pada masa agresi militer ke-2.

“Tapi Bung Karno dan dua temannya tidak sempat lama ditempatkan di sini. Dan yang bersisa di pesanggrahan ini cuma tempat tidur Bung Karno,” kata Faisal. (Fad)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.