Sumut  

Melongok Kampung Kaya Hasil Bumi tapi Miskin Perhatian Pemerintah

Warga saat melintasi jalan berlubang dan berlumpur di kawasan Liang Mlas Datas, Kabupaten Karo/ FAD

MEDANHEADLINES.COM, Karo – Cuaca dingin disertai hujan menyambut begitu kami tiba di gudang penyimpanan mobil di daerah Desa Kuta Bangun, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Senin (21/11/2021) malam. Dua pria yang sudah menunggu langsung menghampiri dan menunjukkan tempat parkir mobil.

Pria paruh baya lalu memanaskan mobil Hardtop bak terbuka warna biru, sedangkan pemuda yang bersamanya diperintahkan memasang terpal biru di bak mobil. Sebab, menuju ke kampung masih membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam.

“Perjalanan masih jauh dan jalannya sangat parah,” ujar pemuda itu dengan logat Karo sembari merapikan terpal penutup bak.

Hitungan menit terpal sudah menutupi bak belakang dan kami dipersilahkan naik. Usai memastikan semua alat sudah dibawa, pria berkumis itu tancap gas. Kampung tujuan akrab disebut Liang Melas Datas.

Di daerah ini ada enam desa dan dua dusun yaitu Desa Sukajulu, Desa Kuta Mbaru, Desa Batu Makmak, Desa Kuta Mbelin, Desa Pola Tebu, Desa Kuta Pengkih. Berikutnya Dusun Kuta Kendit dan Dusun Cerumbu.

Baru beberapa menit jalan, kami yang duduk di bak beratapkan terpal sudah merasakan gonyangan seperti layaknya di atas sapan. Kondisi itu akan terus dirasakan sampai di tempat tujuan. Apalagi saat musim hujan seperti beberapa bulan belakangan. Sebab, jalan yang panjangnya sekitar 30 Kilometer itu dari puluhan tahun tidak merasakan hitamnya aspal.

Pemuda yang ikut menemani kami, Arsyad Ginting menguatkan informasi itu. Dia lantas bercerita. Kupak-kapiknya jalan sudah terjadi sejak ia belum lahir sampai sekarang. Cerita itu didapatnya dari orang tua. Sampai dia sekarang berumur 20 tahun keadaan buruk itu masih dirasakannya.

“Dari aku belum lahir jalannya tetap begini. Tidak ada perhatian dari pemerintah. Paling swadaya masyarakat dan gotong royong untuk memperbaikinya, sampai di mana lah tahannya itu. Padahal, inilah kampung yang bisa membangun kota,” ujar mahasiswa Akuntansi semester empat di USU itu.

Salah satu yang paling ia banggakan adalah hasil buminya. Bahkan, ia mengklaim bahwa jeruk asal kampungnya adalah yang terbaik dibandingkan dengan daerah lain di Karo.

“Buahnya besar-besar dan rasanya manis. Tak cuma itu, tanaman jagung, cabai, durian dan lainnya juga tumbuh subur di kampung kami ini. Tapi, mayoritas di sini menanam jeruk,” katanya lagi sambil mengingatkan agar kami tetap berpegangan di palang bak mobil supaya tidak terjatuh saat melintasi jalan berlubang, menanjak dan turunan yang terjal.

Satu jam berjalan hujan mulai reda, Arsyad menyarankan terpal dibuka biar bisa melihat situasi kampung selama perjalanan. Mobil kemudian diarahkan ke tempat yang aman. Udara sejuk langsung bisa dirasakan saat terpal dibuka. Puluhan kunang-kunang yang berterbangan menambah indahnya malam. Ditambah lagi suara semilir angin dan aliran sungai samar-samar terdengar.

Ketenangan alam sekita berubah setelah mendengar suara desingan mesin truk ekspedisi jenis L300 bak tertutup. Mobil itu biasanya mengangkut jeruk dari dalam kampung untuk dijual keluar. Pemandangan menegangkan itu hal biasa bagi Arsyad dan warga kampung. Mereka menyebutkannya ‘lengket’. Kalau sudah begitu, mobil harus ditarik menggunakan hardtop. Dan ongkos tariknya terbilang mahal, sekitar Rp500 ribu-an.

“Kek gitulah ngerihnya jalan kampung kami. Maunya Pak Jokowi datang ke sini biar dilihatnya kondisi jalan ini. Kalau pejabat-pejabat di sini (Karo) tidak ada yang perduli,” ucapnya berharap.

Sopir kembali menginjak gas dan melewati mobil yang ‘lengket’ itu. Ketika berpapasan, kami dengan jelas melihat ban truk itu hanya berputar di tempat saat sang sopir mencoba memain-mainkan pedal gas. Untungnya, mobil yang kami tumpangi memiliki tenaga cukup besar dan sudah 4×4. Karena itulah mayoritas warga kampung memilih membeli mobil Hardtop, bukan dijadikan barang mewah. Tapi untuk mengangkut hasil bumi, barang-barang dan orang keluar kampung.

Gelapnya malam sedikit jadi kendala kami melihat pemandangan alam dan tanaman seperti yang disampaikan Arsyad. Namun, aroma jeruk yang dibawa angin tak bisa membohongi penciuman, bahkan sangat kental terasa. Itu sedikit membuat kami puas dan semakin penasaran menunggu hari terang agar bisa melihat rimbunnya buah jeruk yang bergelantungan di pohon.

“Sekitar satu jam lagi kita sampai ke Desa Kuta Mbelin. Besok pagi bisa abang dan kakak lihat keindahan alam dan hasil bumi kampung kami. Begitu juga kondisi jalan di sini yang sangat memprihatinkan. Semoga kondisi jalan kami ini bisa dapat perhatian Pak Jokowi,” ujarnya sembari berharap presiden ketujuh Republik Indonesia ini mau datang ke kampungnya.

Begitu Hardtop yang kami tumpangi tiba di Kantor Kepala Desa Kuta Mbelin, sekitar pukul 23.30 WIB. Beberapa anak muda langsung menyambut dan mengarahkan ke sebuah warung untuk istirahat sejenak. Di sana ternyata kaum bapak-bapaknya sudah menunggu. Mereka kemudian mengarahkan pemilik warung untuk menanyakan apa yang mau dipesan. Kami pun serempak meminta kopi susu panas.

Secara bergantian mereka memperkenalkan diri, begitu juga kami membalasnya. Mereka sedikit meminta tanggapan kami bagaimana rasanya selama di perjalanan. Sambil menyeruput kopi, kami dengan seksama mendengar cerita tentang parahnya kondisi jalan utama kampung mereka. Beragam keluhan yang mereka sampaikan. Mulai dari sulitnya akses, tingginya biaya transportasi, sampai terkait keselamatan setiap melintasi jalan.

“Besok kita lanjut ngobrolnya. Kalian juga pasti masih capek setelah menempuh perjalanan. Istirahat lah dulu,” kata mereka.

Usai berpamitan kami diantar menggunakan mobil Hardtop yang membawa kami datang menuju rumah warga bernama Andi. Begitu sampai kami langsung dipersilahkan masuk. Tuan rumah dengan sigap mengeluarkan apa yang dibutuhkan agar kami nyaman beristirahat. Parahnya medan yang dilewati membuat badan seperti tak bertulang begitu melihat bantal dan tempat tidur. Tak butuh waktu lama kamipun terkapar. (Fad)

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.