Tradisi Pesta Tapai Menyambut Bulan Ramadhan di Suku Melayu Batu Bara

MEDANHEADLINES.COM – Tradisi biasanya diartikan sebagai suatu ketentuan yang berlaku dalam masyarakat tertentu, dan menjelaskan satu keseluruhan cara hidup dalam bermasyarakat. Melayu merupakan salah satu suku yang terdapat di Sumatera Utara sebagai tanah deli, namun Melayu juga banyak terbagi-bagi seperti ada Melayu Riau dan lainnya.

Kecamatan Talawi merupakan salah satu Kecamatan yang terletak diKabupaten Batu Bara, dengan luas wilayah sekitar 91,56 km² (9.156 Ha) yang terdiri dari 19 Desa dan satu Kelurahan Labuhan Ruku.Secara administratif, Kecamatan ini mempunyai batas-batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Simalungun, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Tiram, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Lima Puluh.

Tradisi atau disebut juga dengan kebiasaan merupakan sesuatu yang sudah dilaksanakan sejak lama dan terus menjadi bagian dari kehidupan seuatu kelompok masyarakat, sering kali dilakukan oleh suatu negara, kebudayaan, waktu atau agama yang sama.

Pesta Tapai merupakan tradisi yang biasa dilakukan masyarakat pesisir laut di Desa Dahari Selebar, yang dilaksanakan secara turun-temurun karena warisan dari nenek moyang.Pesta Tapai adalah sebuah tradisi tahunan yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat Desa Dahari Selebar Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara setiap tujuh belas hari sebelum menyambut bulan suci ramadhan.

Tradisi pesta tapai dilakukan dengan cara menjual makanan berupa tapai, lemang dan kue khas melayu lainnya. Hajatan yang identik dengan pesta kuliner ini sebagai bentuk kegembiraan dan rasa syukur kepada sang pemberi keberkahan dalam menyambut puasa di bulan suci Ramadhan.Pesta Tapai di Talawi Batu Bara termasuk salah satu tradisi yang perlu dilestarikan dan dijaga keasliannya sebagai ciri kebudayaan lokal suatu daerah dan menambah kekayaan khasanah dalam adat istiadat kebudayaan melayu.

Dalam perkembangan zaman sejarah tradisi Pesta Tapai ini memiliki beberapa versi ceritayang ada di masyarakat, ada yang menceritakan bahwa Menyambut kedatangan bulan suci ramadhan masyarakat melayupesisir Talawi Batubara mengadakan acara ‘Mogang’ yang artinya menyembeli hewan kerbau ataupun sapi dua hari sebelum puasa di mulai , dilaksanakan secara beramai-ramai dan disaksikan langsung oleh masyarakat setempat.

Pada saat itu hanya sedikit masyarakat pesisir Talawi yang memelihara kerbau ataupun sapi maka selalu didatangkanlah dari daerah Tapanuli.Pedagang hewan dari Tapanuli yang menjual daging kerbau menunggu beberapa hari di desa sampai daging hasil ‘Mogang’ itu habis terjual sebelum kembali ke Tapanuli.Ketika itu ada seorang Pedagang yang meminta kepada masyarakat sekitar ( Dahari Selebar ) untuk dibuatkan makanan Tapai dan Lemang pada acara ‘Mogang’ tersebut.

Dan ada juga yang mengatakan bahwa Kerajaan Dahari yang berlokasididaerah pesisir mempunyai pertikaian dengan Kerajaan Selebar yang berlokasi didaerah daratan.Kedua kerajaan itu dipimpin oleh seorang kedatukan pesisir.Pertikaian antara kedua kerajaan itupun terdengar oleh kedatukan pesisir. Kedatukan pesisir pada masa itu ingin menghakiri pertikaian antara Kerajaan Selebar dan Kerajaan Dahari.

Sebelum Bulan Ramadahan tibaKedatukan Pesisir mengundang kedua kerajaan untuk menyelesaikan pertikaian dengan cara bermusyawarah.Dalam musyawarah itu Kedatukan Pesisir menghidangkan kepada kedua kerajaan itu makanan berupa tapai dan lemang.

Namun sangat disayangkan, pesta tapai diadakan karena hanya mengikuti tradisi terdahulu, orang-orang sekarang jika ditanya bagaimana sejarah dimulainya pesta tapai ini banyak yang tidak mengetahuinya. Ditambah lagi orang-orang terdahulu banyak yang sudah tiada, jadi sejarah dari pesta tapai ini lambat laun menghilang.

Jika orang terdahulu, merayakan pesta tapai ini dengan lampu yang remang hanya ditemani dengan lampu sentir untuk penerangan, dan pada saat itu banyak sekali mitos yang beredar dengan adanya bunian yang keluar dan merekalah para pembelinya. Namun, sekarang ini semakin berkembangnya teknologi masyarakat lebih mendesain tempatnya dengan modern dan bagus.

Biasanya untuk pembukaan pesta tapai ini diadakan pertunjukan dengan membangun pentas dan meyodorkan tarian-tarian khas melayu serta disahkkan dengan Bupati Batu Bara. Namun, kali ini karena adanya covid-19 atau virus yang sedang merebak masyarakat lebih cepat membuka tradisi pesta tapai tersebut untuk menambah penghasilan dan membantu perekonomian mereka. Biasanya para penjual adalah penduduk asli tidak diperbolehkan para pendatang. Untuk penutupan pesta tapai ini diakhiri dengan memotong kerbau dari masing-masing orang yang berada disana.

Setiap suku memang memiliki banyak tradisi serta adat istiadat yang seharusnya kita pertahankan dengan baik, agar sampai pada anak cucu nanti. Sehingga tidak ada lagi kata tidak tau untuk sebuah sejarah dimana itu adalah sejarah dari sukunya sendiri. (lilia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.