Mengadu Ke KontraS, Istri Pelaku Penembak Polisi Sebut Suaminya Disiksa Dan Ditembak

OR Saat mengadu ke KontraS Sumut atas dugaan penyiksaaan yang dilakukan kepada Suaminya

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatra Utara di kawasan Jalan Brigjen Katamso Medan didatangi seorang wanita yang mengadukan dugaan kekerasan aparat kepada suaminya.

Ternyata Wanita itu adalah OR, Istri dari KM, Pelaku penembakan polisi yang terjadi pada 27 Oktober lalu di kawasan Ring Road

Dengan mata yang berkaca-kaca, Ia meminta bantuan KontraS untuk mengusut kasus dugaan penyiksaan bahkan penembakan terhadap suaminya yang telah menyerahkan diri ke polisi.

Wanita yang baru dua tahun dinikahi KM pun mulai menceritakan bagaimana peristiwa itu berlangsung

” Saat kejadian (suaminya menembak oknum polisi), Saya sedang di Lampung menjenguk ibu,” Ungkapnya

Ia mengaku, Selama ini, ia tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan pasti sang suami. Yang dia tahu, sang suami memang mengenal NWT, perempuan yang jadi tersangka karena dituduh menyuruh KM dan lima orang lainnya untuk mencari KD dan IV di tempat pencucian mobil, Jalan Gagak Hitam Medan. Hingga kejadian itu berakhir pada penembakan kepada oknum polisi Aiptu Robin Silaban.

 

” Saat kejadian itu,Saya sebenarnya sudah gelisah, Saya coba menghubungi suami, tapi teleponnya tak diangkat, saya coba hubungi kawan-kawannya juga tidak ada yang tau kabarnya,” Ceritanya

Kemudian OR menghubungi NWT, Dan disitulah NWT meminta OR pulang ke Medan karena suaminya terlibat keributan.

” Saya Tiba di Medan pada 2 November 2020, Saat di Bandara sempat bervideo call dengan KM, Tapi Suami tak menunjukan kondisi kakinya dan hanya berusaha menenangkan,” Paparnya

OR, Akhirnya menjenguk KM pada 3 Oktober 2020. Saat itu dia terkejut melihat kondisi suaminya dengan kaki diperban. Hingga sang suami akhirnya mengaku ditembak setelah menyerahkan diri.

Pertemuannya dengan KM pun tidak lama. Saat itu, petugas jaga tahanan meminta para penjenguk tahanan membubarkan diri untuk mencegah potensi penularan COVID-19.

Dalam pertemuan itu, OR terus menangis mendengarkan pengakuan KM. Suaminya mengaku ditembak.
“Abi ditembak, abi disekap,” ujar OR menirukan percakapan KM.

Saat itu, KM pun tak menampik jika dirinya yang menembak Aiptu Robin. Namun dia juga mengaku jika saat itu Aiptu Robin yang lebih dulu menembak dan mengenai kakinya. Hingga dia akhirnya memukul Robin dengan double stick dan berhasil merebut senjata api yang terjatuh dari tangannya. Kemudian dia menembak Robin dan mengenai bagian dada.

Setelah pertikaian itu, KM menyerahkan diri. Dia meminta rekannya berinisial R menelepon salah seorang anggota Polsek Percut Sei Tuan. R kemudian mengantarkan KM di salah satu musala yang berada di Desa Sampali, Deli Serdang. KM juga membawa barang bukti pistol dan double stick yang dia gunakan untuk menyerang Robin.

KM mengaku kepada OR, dia ditahan dalam keadaan terborgol dan matanya tertutup selama dua hari. Hingga akhirnya dia ditembak tiga kali. Dua kali di kaki kanan, satu kali di kaki kiri.

“Kaki betis kiri tembus,” Jelas OR lagi.

KM juga tak menampik jika suaminya itu merupakan pecatan Brimob. Dia sudah melihat bukti peninggalan berkas selama KM tugas di Polda Bali.

Sebelumnya, Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko menjelaskan Tindakan tegas yang dilakukan petugas karena tersangka mencoba melawan saat dilakukan pengembangan kasus.

Pihaknya juga berpendapat jika tersangka bukan menyerahkan diri. Karena tersangka tidak datang ke kantor polisi. Tersangka kata Riko diamankan di pinggir Jalan Sampali.

“Tersangka kita minta menunjukkan rekan-rekannya termasuk tempat tinggalnya. Namun berulah kembali, berusaha merebut senjata anggota kita yang mengawal yang bersangkutan. Kita berikan tindakan tegas terukur dengan melumpuhkan yang bersangkutan,” kata Riko dalam konferensi pers yang digelar, Selasa 3 November 2020 petang.

Saat ditanya awak media usai konfrensi pers digelar, KM sempat membantah bahwa dia mencoba merampas senjata milik petugas saat pengembangan kasus. Dia terus membantahnya ketika ditanyai berulang kali sembari diboyong ke ruang tahanan.

Mendapat laporan ini, KontraS Sumut melalui Koordinator KontraS Sumut Amin Multazam mendesak supaya kasus penembakan terhadap KM diungkap secara transparan.

KontraS juga akan mendampingi istri KM untuk mendapatkan keadilan. KontraS segera berkoordinasi dengan Komnas HAM, Kompolnas, Divisi Propam mabes Polri dan LPSK

“Apa yang dialami KM, harus diungkap secara terang benderang. Sebab ada pernyataan yang saling bertolak belakang antara kepolisian dan KM terkait penembakan. Yang berwenang melakukan itu tentu saja Propam dan Itwasda sebagai pelaksana fungsi pengawasan internal serta Komnasham dan Kompolnas dari pihak eksternal. Penyelidikan untuk mengungkap fakta-fakta peristiwa harus segera dilakukan. Dan tentu saja prosesnya wajib berjalan secara profesional dan transparan,” ujar Amin.

Amin jug amenegaskan jika pihaknya hanya mendampingi soal tindakan penembakan terhadap KM. KontraS tidak ingin mencampuri soal tindak pidana yang dilakukan tersangka KM.

“Kami bersama istri KM mendampinginya sebagai korban penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum kepolisian. Harusnya, dalam menegakkan hukum, aparat tidak melakukannya dengan melanggar hukum,” tukasnya.

Kata Amin, penggunaan senjata api itu diatur secara ketat dalam kerja-kerja kepolisian. Harus ada kondisi dan prasyarat tertentu. Jika kita mengacu pada PERKAP No. 8 Tahun 2009 Tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia, penggunaan senjata api hanya boleh digunakan bila benar-benar diperuntukkan untuk melindungi nyawa manusia. Misal untuk membela diri dari ancaman kematian atau luka berat, mencegah terjadinya kejahatan berat atau yang mengancam nyawa orang lain.

“Jadi ada aturan main yang harus dipenuhi. Bahkan pasca menggunakan senjata api, polisi harus membuat laporan terperinci mengenai evaluasi pemakaian senjata api sebagimana PERKAP 1 tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian. Jadi tindakan tegas dan terukur dengan menembak pelaku tindak pidana tidak bisa dilakukan sesuka hati. Apalagi untuk motif memberi hukuman atas suatu perbuatan pidana yang sebelumnya dilakukan tersangka, itu dilarang dan masuk dalam kategori penyiksaan. Bangsa yang sudah merdeka harusnya tak mengenal praktek penyiksaan. Sebagai catatan, Indonesia sudah meratifikasi konvensi menentang penyiksaan menjadi UU No 5 Tahun 1998. Mempertontonkan kekerasan dan penyiksaan dalam penegakan hukum merupakan tindakan yang memalukan.” jelasnya.

Sementara itu, Dari kronologis yang dikeluarkan Polisi menyebutkan, Sampai saat ini kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait motif atas peristiwa penembakan dan penyerangan lokasi pencucian mobil itu.
Dari Keterangan sementara, tersangka mengaku disuruh oleh seorang perempuan berinisial NWT untuk menjemput KD dan IV. Kemudian KM dan lima temannya datang ke lokasi dan langsung membuat kisruh. Bahkan para tersangka melakukan perusakan. Penjemputan itu terkait urusan usaha NWT dan kedua orang itu.

“Anggota kami yang kebetulan ada di situ yaitu Saudara Robin mengingatkan yang bersangkutan, namun ia tetap melakukan aksinya merusak yang di bengkel tersebut. . Kemudian anggota memberikan tembakan peringatan ke bawah. Dan kaki (KM) terserempet peluru. Namun yang bersangkutan berpura-pura mengajak anggota bicara baik-baik dengan anggota kita, namun setelah dekat justru memukul tangan anggota kita menggunakan double stick,” ujar Kombes Riko Sunarko.

Saat itu senjata api milik Aiptu Robin terjatuh dan langsung direbut tersangka KM. Kemudian tersangka menembak Aiptu Robin. Peluru pun bersarang di bagian dada dan paru-paru. dan saat ini kondisi Aiptu Robin juga masih dalam perawatan Intensif

Saat itu, KM dibantu oleh tiga orang lain yang juga kini masih buron. Mereka adalah AM, 45; EN, 35 dan HA, 30 yang merupkaan putra dari NWT. Sedangkan dua lagi identitasnya masih dalam penyelidikan.

Kata Riko, setelah menembak di bagian dada, pelaku KM bahkan mengarahkan senjata api rampasan itu ke kepala Aiptu Robin. Namun, senjatanya tidak meletus. Ini yang belakangan dibantah KM.

“Itu berdasarkan keterangan saksi di TKP,” terang Riko.

Riko meminta tersangka lainnya untuk menyerahkan diri. Bahkan dia menegaskan akan terus mengejar para pelaku.

“Segera menyerahkan diri. Pasti kami kejar. Dan kita akan lakukan tindakan tegas,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *