Kasus Covid-19 Meningkat , Inggris Kembali Berlakukan Lockdown

Suasana musim panas di tengah pandemi virus corona di Inggris. [Daniel Leal-Olivas/AFP]

MEDANHEADLINES.COM – Pemerintah Inggris kembali melakukan penguncian skala nasional pada Sabtu (31/10/2020) setelah negara ini mencatatkan 1 juta kasus infeksi virus corona.

Menyadur Channel News Asia, Inggris yang memiliki jumlah kematian akibat Covid-19 tertinggi di Eropa, menghadapi gelombang infeksi kedua yang mengancam ketahanan sistem fasilitas kesehatan.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, sesaat setelah rencana lockdown bocor ke media lokal, mengatakan penguncian selama satu bulan di Inggris akan berlangsung hingga 2 Desember.

Dalam penguncian kali ini, warga hanya diizinkan meninggalkan rumah untuk alasan tertentu seperti pendidikan, pekerjaan, olahraga, berbelanja kebutuhan pokok dan obat, atau merawat lansia.

“Sekaranglah saatnya untuk mengambil tindakan karena tidak ada alternatif,” ujar Johnson.

“Kecuali jika kita bertindak, kita bisa melihat kematian di negara ini mencapai beberapa ribu dalam sehari,” imbuhnya.

Pemerintah akan kembali menjalankan skema subsidi upah darurat Covid-19, guna memastikan pekerja di seluruh Inggris yang diberhentikan selama lockdown kali ini menerima bantuan 80 persen dari gaji mereka.

Johnson menyebut lockdown kali ini memungkinkan toko-toko penting, sekolah, dan universitas tetap buka.

Sementara restoran dan pub hanya boleh melayani pembelian take-away. Perjalanan ke luar negeri tak disarankan kecuali untuk pekerjaan. Adapun semua ritel non-esensial akan ditutup.

Penguncian nasional dilakukan setelah para ahli memperingatkan wabah virus corona di Inggris semakin tak terkendali, dan pembatasan lebih ketat harus dilakukan jika warga ingin berkumpul dengan keluarga pada Natal.

Berdasarkan Worldometers, Minggu (1/11), Inggris mencatatkan 1.011.660 infeksi virus corona dengan 46.555 kematian.

Data Universitas Johns Hopkins menunjukkan Inggris melaporkan jumlah kematian akibat Covid-19 terbesar kelima di dunia, menyusul Amerika Serikat, Brasil, India, dan Meksiko. (red/suara.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *