Wabah Covid-19, Tradisi Bubur Untuk Berbuka Di Mesjid Raya Al Mashun Ditiadakan

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Wabah Covid-19 yang saat ini tengah melanda membuat sejumlah kegiatan terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.

Seperti yang terjadi di Mesjid Raya Al Mashun, Pihak Mesjid terpaksa membatasi sejumlah kegiatan yang biasanya menjadi rutinitas pada bulan ramadan seperti tradisi bagi-bagi bubur sop sebelum berbuka puasa.

Pada Ramadan sebelum-sebelumnya, biasanya Masjid peninggalan Kesultanan Deli itu ramai pengunjung. Masyarakat pun sampai berebutan menunggu. Bahkan, sabar menunggu berjam-jam, menyaksikan para juru masak menanak bubur.

Namun tahun ini, dipastikan Tidak akan ada lagi wangi rempah dari racikan bumbu sop yang mendidih di dalam belanga. Akan tidak ada lagi suara riuh anak-anak, yang meminta dituangkan bubur ke wadah yang dibawanya.

“Kalau bubur sudah gak ada lagi. Memang sudah disiapkan kayu dan bahan bahannya. Cuma kondisi saat ini kita kan maklum. Kita semuanya petunjuk dari pemerintah supaya ditiadakan,” kata Imam Masjid Raya Al Mashun Zaini Hafiz, Kamis (23/4).

Diketahui, Tradisi berbagi bubur sop di Masjid Raya Al Mashun Ini merupakan tradisi menahun yang dijaga sejak 1909. Saat itu kesultanan Deli dipimpin Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alam Syah.

Bubur Sop menjadi santapan raja-raja Melayu di masanya. Setiap Ramadan, biasanya Masjid Raya menyediakan 1.000 porsi bubur. Dibagikan setelah salat Ashar.

Pengunjung yang datang juga bukan hanya dari Kota Medan saja. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari kabupaten lain, hanya untuk mencicipi bubur kaya khasiat itu.

Dulu banyak yang mengira, bubur sup adalah bubur pedas. Ternyata itu salah. Karena ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Untuk bubur pedas biasanya disantap dengan anyang, yaitu sayur pakis dan toge yang diolah sedemikian rupa dengan cabai, udang kering, kelapa kukur goreng dan asam jeruk.

Sedangkan bubur sop berbahan dasar beras, daging dan sayuran. Ditambah rempah-rempah sebagai bumbu masaknya.

Ramadan kali ini, bubur sop ditiadakan pertama kalinya. Menjadi kerinduan masyarakat yang biasa menunggunya kala berbuka puasa.

Di Masjid Raya Al Mashun, salat Tarawih berjamaah tetap dilakukan. Namun hanya untuk jiran tetangga masjid saja.

Lantaran, pihak Badan Kenaziran Masjid juga sudah melihat, penurunan jumlah jemaah yang hadir di masa pandemik. Paling tidak hanya dua saf (deret) saja jemaah yang hadir.

“Karena masyarakat sepertinya  sudah paham dan tau, imbauan kan sudah banyak utnuk beribadah di rumah,” ungkap Zaini.

Bahkan jarak saf juga diatur. Antara jemaah diberi jarak satu sajadah supaya tidak bersentuhan atau bersinggungan.
Protokol pencegahan juga dilakukan di areal masjid. Sebelum masuk, jemaah yang hadir harus melewati bilik disinfektan. Kemudian mencuci tangan. Bahkan, jemaah harus memakai masker saat masuk ke areal Masjid.

“Kita sebelum sebelumnya sudah sempat membagikan sajadah kecil kepada masyarakat sekitar. Sajadah kecil untuk jemaah. Dengan catatan jangan sampai tertinggal. Kalau selesai salat jangan ditinggal. Supaya jangan tertukar sama yang lain,” ungkapnya.

Selain bubur sop, BKM Al Mahsun juga meniadakan tadarus dan pengajian lainnya. Jemaah diimbau untuk bertadarus di rumah masing-masing.

Pembatasan ini harus dilakukan untuk mencegah potensi penularan corona. “Ditiadakan karena kondisinya tidak memungkinkan. Kita juga harus melakukan upaya pencegahan,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *