Istri Golfrid Berharap Kasus Kematian Suaminya Cepat Terungkap

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kematian Golfrid masih membuat luka yang mendalam bagi Resmi Barimbing (31). Istrinya itu tak menyangka kalau kepergian Golfrid mengantar paket ke JNE pada pada Rabu (2/10) petang kemarin merupakan pertemuan terakhir.

Sebabnya, pada Minggu (6/10) petang, ibu satu anak itu harus menghadapi kenyataan pahit. Golfrid yang menjadi tulang punggung keluarga itu meninggal dunia akibat luka parah di bagian kepala. Keluarga dan teman sejawat Golfrid menaruh curiga atas kematian dan peristiwa yang dialami pegiat HAM itu.

Berdasarkan kecurigaan itu akhirnya polisi melakukan autopsi terhadap jenazah Golfrid. Tepat pada Senin (7/10) malam proses autopsi dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumut. Langkah itu dilakukan untuk membuka kasus kematian aktivis lingkungan sekaligus kuasa hukum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) tersebut.

Ketika ditemui wartawan di rumah sakit, Resmi tampak tegar menghadapi musibah yang dialaminya. Setelah merasa siap, Resmi akhirnya bercerita, dengan pelan dia berkata suaminya (Golfrid) pamit dari rumah di Jalan Bunga Wijaya Kesuma, Kecamatan Medan Selayang, pada Rabu (2/10) petang untuk mengantar paket ke JNE.

Suasana di rumah saat itu sama seperti hari biasanya. Tidak ada percakapan yang serius. Apalagi, sebut Resmi, almarhum itu termasuk model suami yang jarang bercerita, apalagi soal pekerjaannya.

“Tak ada firasat apapun waktu itu, semua berjalan seperti biasanya. Gelagat yang mencurigakan juga tak tampak. Almarhum juga jarang curhat,” ucap Resmi disela-sela menunggu proses autopsi jenazah suaminya.

Akan tetapi, sambung Resmi, telepon seluler suaminya tak bisa dihubungi menjelang malam usai pergi dari rumah. Dia terus menghubungi sampai tengah malam, tapi tetap tidak bisa. Saat itu, ia masih berpikiran ponsel suaminya habis baterai sehingga tak bisa ditelepon.

Malam itu berlalu dengan ia tak mengetahui keberadaan suaminya. Resmi mengaku baru mendapat kabar suaminya pada Kamis (3/10) dini hari. Itupun posisinya sudah berada di rumah sakit. Kabar tak mengenakan tersebut didapatnya dari kepala lingkungannya dan polisi.

Kaget bercampur panik, Resmi lantas bergegas menuju Rumah Sakit Mitra Sejati untuk melihat kondisi suaminya. Di sana, ia mendapati sang suami sudah terbaring dengan kondisi yang sangat memprihatikan. Diduga tak bisa menangani, Golfrid akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat Adam Malik Medan.

“Tiga hari saya menemani almarhum dalam kondisi kritis. Dokter bilang dia harus segera dioperasi karena luka di kepalanya cukup parah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

“Namun takdir berbicara lain, usai menjalani operasi suami saya meninggal dunia, Minggu (6/10) petang. Saya hanya berharap kasus ini cepat terungkap,” harap ibu satu anak itu.

Setelah dinyatakan meninggal dunia, keluarga membawa jenazah Golfrid ke rumah duka di Kecamatan Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun. Di sanalah rencananya ia akan dimakamkan pada Selasa (7/10). Namun, karena banyak pihak yang merasa ada curiga kematian Golfrid, yang awalnya disebut polisi korban kecelakaan lalulintas. Polisi akhirnya memutuskan untuk melakukan autopsi pada jasad Golfrid.

Polisi lalu berkoordinasi dengan keluarga.  Setelah mendapat persetujuan, polisi kemudian menjemput jenazah Golfrid dan membawanya ke Rumah Sakit Bhayangkara, pada Senin (7/10). Proses autopsi selesai dilakukan sekira pukul 22.00 WIB. Tapi, malam itu tim dokter maupun polisi tidak bersedia memberikan keterangan hasil autopsinya kepada wartawan.

Selesai autopsi, jenazahnya kembali dibawa masuk ke ambulance dan diberangkatkan ke kampung halaman di Tiga Dolok.

Kasat Reskrim Polrestabes Medan Kompol Eko Hartanto ketika dikonfirmasi perkembangan kematian Golfrid, dia mengatakan pihaknya masih terus bekerja untuk mengungkap kasus ini. Eko menyebutkan pihaknya saat ini sudah memeriksa dua orang saksi.

“Saksi pengantar korban masih dicari. Mohon doanya ” kata Kompol Eko membalas pesan yang dilayangkan medanheadlines.com, Selasa (8/10).

Ketika disinggung terkait hasil autopsi jenazah korban. Perwira berpangkat satu melati emas dipundaknya itu menerangkan masih dalam proses pemeriksaan.

“Sampai sekarang belum ada hasil resminya. Mohon bersabar dan doanya,” kata Eko. (AFD)

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *