Jual Kulit Harimau, Petani Asal Langkat Ini Diamankan Polisi

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Personil kepolisian meringkus sekarang petani berinisial (PS) Warga Desa Marine, Kecamatan Kustomisasi, kabupaten Langkat karena tertangkap menjual kulit Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae).

Pria ini ditangkap pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) pada Senin (7/4) malam di Kawasan Jalan Raya Sogong, Marike.

Saat ini PS sudah dititipkan ke Polda Sumut. Penyidik dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) Wilayah I Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus mengembangkan kasus itu.

Terungkapnya kasus perdagangan bagian satwa dilindungi itu saat pihak BBTNGL melakukan patroli. Mendengar informasi itu, pihaknya melakukan penyamaran dan melakukan pembelian.

“Setelah disepakati harga, mereka melakukan transaksi dan dia langsung ditangkap. Diserahkan kepada kami pada, Selasa (2/7),” kata Haluanto Ginting, Kepala Seksi Wilayah I Balai Gakkum LHK Sumut-Aceh, Jumat (4/7).

Dari tangan pelaku, pihak berwajib menyita dua kulit harimau berukuran cukup besar. Namun sayangnya, pihak Gakkum masih melakukan penyelidikan ihwal berapa umur kulit harimau tersebut.

Melihat kondisinya, kulit harimau itu memang sudah cukup tua. Tampak sudah lama diawetkan melihat kekeringannya.

Pelaku yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu, mengaku mendapat kulit harimau dari kakeknya. “Jadi ketika membongkar-bongkar rumah dia menemukan kulit harimau ini,” katanya.

Kulit harimau yang dijual PS diduga hasil perburuan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Karena mereka tinggal di dekat kawasan hutan lindung.

Selain kulit harimau petugas juga menyita barang bukti lainnya. Perugas menyita satu tengkorak diduga dari Harimau Sumatera.

“Ini masih kita selidiki juga,” ungkapnya.

Pelaku menjual kulit harimau karena kesulitan ekonomi. Dia ingin memperbaiki makam irang tuanya. Lalu dia juga akan membeli hewan ternak dari hasil menjual kulit harimau.

Dalam kasus ini, P dijerat dengan Pasal 21 junto Pasal 40 UU RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dia  terancam hukuman paling lama 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Populasi Harimau Sumatra memang diambang kepunahan. Data yang dihimpun, saat ini populasinya tinggal 600 ekor saja. Populasi ini berada di 23 lanskap di wilayah hutan Sumatera.

Faktor yang memengaruhinya antara lain perburuan liar, perdagangan ilegal, konflik dengan manusia dan pembangunan infrastruktur yang merusak hutan.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *