Sumut  

Pasokan Listrik Minim, Warga Desa Huta Tombak Harapkan Bantuan Pemerintah

Kepala desa huta tambak, lisber hutabeahan

MEDANHEADLINES.COM, Tapanuli Tengah – Warga di Desa Huta Tombak, Kecamatan Sosorgadong, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatara Utara belum sepenuhnya menikmati listrik dari pihak PT PLN.

Diketahui, desa terluar di Tapanuli Tengah bagian selatan ini berjarak 70 kilometer dari pusat kota Pandan. Di desa ini, ada sebanyak 109 KK yang belum sepenuhnya menikmati aliran listrik.

“Di sini ada 109 KK (kepala keluarga), dan yang terlayani listrik hanya 20-an KK,” kata Kepala Desa Huta Tombak, Lisber Habeahan, Jumat, (21/6).

Setelah Indonesia merdeka sejak 72 tahun lalu, listrik masuk ke Desa ini diketahui sejak tahun 2017. Dan bagi warga yang belum terlayani listrik, mereka pun hanya memanfaatkan tenaga mesin genset untuk menikmati aliran listrik.

“Untuk mengalirkan listrik ke rumah warga, kami menggunakan tenaga diesel. Itu pun tak bisa menerangi rumah warga selama 24 jam, hanya 2 jam saja, mulai 7 malam sampai jam 9 malam,” kata Lisber.

Dikatakan Lisber, untuk menuju ke Desa Huta Tombak memang tidaklah mudah. Dengan kondisi kemiringan jalan yang diketahui mencapai 50 derajat, jalan menuju desa mereka hanya bisa dilalui mobil kecil dan sepeda motor.

“Kalau Desa Simargarap (masih di Kecamatan Sosorgadong) memakan waktu 2 jam, itupun hanya bisa dilalui sepeda motor,” katanya.

Menikmati listrik dari tenaga genset, tentu warga harus membutuhkan bahan bakar diesel (solar). Untuk membeli bahan bakar tersebut, warga pun harus mengeluarkan uang sebesar Rp40 ribu setiap bulannya.

“Satu KK (kepala keluarga) menanggung 2 liter (solar) untuk satu hari. Hari berikutnya warga yang lain. Dalam satu bulan itu, satu KK bisa kenak dua kali. Nyalanya hanya dua jam untuk makan malam saja,” kata Lisber.

Lisber mengungkapkan, jarak rumah warga yang berjauhan menjadi kendala yang mereka hadapi saat ini. Untuk mengaliri listrik ke seluruh warga, mereka pun harus menambah kabel listrik.

“Yang jadi masalah, jarak dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya itu berjarak sampai 150 meter, jadi kabel yang ada saat ini masih kurang. Tahun depan kami berencana akan nambah kabel,” ungkapnya.

Dikatakan Lisber, meski tahun nya belum ditentukan oleh pemerintah, tapi rencananya desa mereka akan mendapat bantuan listrik. Dan jika bantuan itu terealisasi, maka tiap rumah akan dipasangi panel surya (solar panel) untuk menyuplai listrik.

“Kemarin kita dapat lampu jalan, untuk percontohan sudah di pasang PLTS, tapi belum bisa difungsikan, dan dananya dari dana desa sebanyak 7 unit,” tuturnya.

Minimnya pelayanan listrik ke Desa Huta Tombak memang menjadi kendala bagi masyarakat untuk melakukan aktifitas pada malam hari. Bila malam tiba, anak-anak di desa tersebut pun kesulitan untuk belajar.

“Kalau pulang sekolah, anak-anak di desa ini pergi ke ladang mulai siang hingga sore untuk membantu orang tuanya, jadi belajar nya saat malam hari. Sementara lampu di rumah hanya menyala selama 2 jam setiap malam,” kata Pasaribu, Warga Desa Huta Tombak.

Melihat kondisi di desa mereka yang belum seluruhnya dialiri listrik, ia dan warga lainnya pun berharap agar pemerintah segera mengirim bantuan listrik agar desa mereka bisa dialiri listrik selama 24 jam.

“Kami juga ingin seperti warga lainnya, menikmati listrik selama 24 jam, memiliki Tv untuk mengetahui informasi di luar,” kata Pasaribu.

Minimnya pasokan listrik ke Desa Huta Tombak tidak hanya dikeluhkan oleh Pasaribu. Saat ditemui, salah seorang pemuda mengaku harus pergi ke rumah warga yang dialiri listrik untuk menonton televisi.

“Saya ingin sekali desa kami dialiri listrik 24 jam, sama seperti yang lainnya. Mudah-mudahan pemerintah bisa membantu kami yang ada di desa Huta Tombak,” kata Purba (25).

Selain pelayanan listrik yang masih minim, warga di Desa Huta Tombak juga dihadapkan dengan sulitnya jaringan telekomunikasi. Untuk melakukan komunikasi melalui telepon selular, tidak sedikit warga harus menuju bukit yang berjarak sekitar 700 meter dari desa mereka.

“Kita harus ke bukit agar bisa telepon dan SMS,” kata Purba.

Untuk diketahui, Desa Huta Tombak diposisikan berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Dan desa Huta Tombak merupakan desa tertua di Kecamatan Sosorgadong. (hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.