Setahun Tragedi KM Sinar Bangun, Ini Cerita Dibalik Evakuasi Korban Tenggelam

MEDANHEADLINES.COM – Tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin (18/6) tahun lalu membawa duka mendalam bagi para keluarga korban. Dari 188 penumpang yang berada dikapal itu hanya 24 orang yang berhasil ditemukan. Tiga diantaranya meninggal dunia. Sedangkan 164 orang tidak ditemukan hingga sekarang.

Mengingatkan tentang tragedi tersebut, Pemerintah pun kemudian membangun Sebuah tugu peringatan di seputaran Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun

Korban yang hilang diduga masih berada di dasar danau vulkanik terbesar itu. Kedalaman danau menjadi kesulitan utama untuk melakukan evakuasi kala itu.

Mayor Laut (P) Edy Tirtayasa yang masih berpangkat kapten pada saat itu menjabat sebagai Komandan Tim (Dantim) SAR Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) Koarmada I pun bercerita bagaimana pengalaman mereka saat menyelam di Danau Toba.

Mayor Edy mengawali kisahnya dengan perintah atasannya. Sebelum ke Danau Toba ternyata dia dan tim sedang mencari buaya di Pelabuhan Tanjung Priok. Saat sedang sibuknya mencari buaya, komandannya memerintahkan agar mereka ke Danau Toba untuk membantu proses evakuasi.

“Buset saya bilang. Sudah nggak pulang lebaran karena saya Nasrani. Lima hari nggak pulang nguber buaya. Tahu, tahunya di suruh berangkat. Makanya malam itu langsung saya browsing kondisi tempat yang mau saya datangi. Tahu-tahu saya lihat kedalaman 400-500 meter lebih,” ujar Edy yang kini sudah menjabat sebagai Komandan Kompi Markas (Dankima) Sat Kopaska Koarmada I.

Mayor Edy mengatakan operasi di Danau Toba menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Dia pun berkisah soal tantangan mereka selama operasi SAR KM Sinar Bangun.

Saat itu, Edy memboyong 15 orang anggotanya. Edy menjelaskan, ada empat catatan penting mereka dalam melaksanakan operasi. Mulai dari lokasi, cuaca, peralatan dan keselamatan diri.

“Masalah lokasi, berbeda ketika menyelamatkan di laut dan di danau. Danau terbagi dua, yaitu danau buatan dan danau alam. Danau alam salah satunya terbentuk dari Vulkanologi. Ketika saya menyelam di Danau Toba, saya menemukan karakter yang hampir sama dengan danau Anak Laut Sabang. Biasanya Danau Vulkanologi itu rata-rata dalamnya dan dinginnya minta ampun,” sambungnya.

Soal kedalaman Danau Toba memang masih menjadi misteri hingga saat ini. Kedalaman juga yang menjadi kesulitan utama dalam proses evakuasi.

Saat operasi, Mayor Edy mengaku tidak bisa menyelam sampai dasar Danau Toba. Bahkan mereka hanya bisa bertahan kurang dari enam menit.

“Waktu saya menyelam di Danau Toba, memang tidak bisa menyelam sampai dasar. Karena dasarnya tidak diketahui pasti. Pada dasarnya, manusia hanya bisa menyelam sedalam 40 meter lebih. Karena manusia kapasitas 42-50 meter itu sudah sulit. Saya hanya sanggup sampai 42 meter sebatas normal dan saya hanya sanggup hanya kurang dari enam menit plus dekompresi stop,” ujarnya.

Jika harus melanjutkan penyelaman berpotensi mengancam keselamatan penyelam. Dalam penyelaman, kata Edy, mereka harus melakuakn dekompresi stop. Dekompresi adalah dampak yang ditimbulkan karena perubahan tekanan air.

Dekompresi bakal terjadi jika proses kembali menuju ke permukaan tidak dilakukan secara bertahap oleh penyelam. Atau tanpa berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu sesuai aturan dasar keselamatan menyelam.

Jika naik ke permukaan terlalu cepat, nitrogen yang terkandung dalam darah akan membentuk gelembung. Lalu gelembung itu berpotensi menyumbat pembuluh darah dan jaringan tubuh lainnya.

“Dekompresi stop harus dilakukan karena di Danau Toba tidak ada Chamber Portable. Yakni alat untuk mengatasi setiap penyelam yang terkena dekompresi. Itu salah satu syarat yang harusnya ada, ketika akan menyelam harusnya ada chamber portabel. Sehingga saya harus -betul-betul memperhitungkan dekompresi stop. Karena itu menjadi chamber alami yang harus saya lakukan ketika saya menyelam di kedalaman,” terangnya.

Tantangan di pencarian di Danau Toba begitu tinggi. Untuk menyelam di Danau Vulkanologi, kata dia, tidak bisa menggunakan tabel dekompresi. Mereka harus membuat perhitungan sendiri. Karena Danau Vulkanologi rata-rata sangat tinggi dan dalam. Mayor Edy juga memaparkan bahwa struktur di Danau Toba begitu unik.

“Perbedaannya kalau Danau Toba, beberapa titik yang saya selami di bawah seperti jalan di Roma. Ada batu-batu tersusun rapih dan itu bukan batu kemarin sore. Karena batunya sudah lama dan banyak lumut. Danau Toba sangat dingin, suhunya sampai 10 derajat celsius dibawah air dan itu baru kedalaman hampir 35 meter sudah sedingin itu,” ujar laki-laki bertubuh kekar itu.

Dia pun menjelaskan soal perbedaan tekanan air tawar dan laut. Di Danau Toba tekanannya lebih tinggi. Kerapatan airnya juga berbeda.

“Air tawar itu, uniknya memiliki layer kerapatan seperti anomali air. Misalkan kedalaman 1-40 meter dia agak renggang kedalamannya dan mulai 40-100 meter berbeda lagi. Makanya kalau pernah mendengar sungai bawah air, itu anehnya disitu. Memang spesifik tidak terasa. Tapi ada beberapa titik menyelam. Jadi air itu ada yang hangat dan ada yang dingin terlepas dari mistis yang ada,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan kepada masyarakat yang berenang di kawasan Danau Toba. Karena, menurut catatan mereka di beberapa sisi Danau Toba langsung menjorok ke kedalaman 20 – 30 meter dari daratan.

“Danau Toba ini seperti jurang. Jadi hati-hati untuk warga masyarakat yang ada disini yang tidak bisa berenang ataupun yang bisa berenang, tapi tidak melakukan pemanasan. Itu saya ambil kesimpulan ketika melihat video beberapa penumpang yang sebenarnya bisa selamat di atas. Tapi kenapa mereka banyak yang tidak selamat. Itu karena kedinginan, panik dan akhirnya keram perut. Makanya mau berenangnya hebat, kalau sudah keram perut selesai,” ujarnya.

Setelah melakukan penyelaman di Danau Toba, Edy menarik beberapa kesimpulan. Kondisi air yang sangat dingin dan kedalaman danau menjadi tantangan.

“Dingin jenis air tawar ini yang menyebabkan jenazah itu berat dan kemungkinan tenggelam semakin dalam,” tuturnya.
Dia juga mengungkapkan kesedihannya karena tidak bisa berbuat banyak. Karena kedalaman Danau Toba yang diperkirakan mencapai 500 meter. (goy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *