Meriahkan TCWMF 2019, Sejumlah Musisi Unjuk Kebolehan

MEDANHEADLINES.COM, Toba Samosir – Masing-masing musisi unjuk kebolehan dalam mengkolaborasikan musik etnis dengan berbagai kreasi pada gelaran Toba Caldera World Music Festival (TCWMF) 2019. Pada hari kedua, gelaran yang digelar di Bukit Singgolom, Desa Lintong Nihuta, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir itu mampu menyedot ribuan pengunjung.

Musisi-musisi andal sekelas Suara Sama besutan Irwansyah, Daniel Milan Cabrera-Deva Baumbach asal Meksiko unjuk kebolehan, Sabtu (15/6) malam. Ditambah indahnya sajian musik dari Nomensen Ansamble dan Universitas Negeri Padang.

Namun ada satu kelompok yang mencuri perhatian. Mereka adalah Komunal Primitif Percussion. Mereka adalah mahasiswa Departemen Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU)

Cahaya lampu panggung TCWMF sontak berubah merah. Tabuhan genderang mulai terdengar dari loudspeaker. Ditambah suara-suara yang membuat suasana semakin horor.

Komunal Primitif Percussion tampil dengan riasan tak biasa. Wajah mereka dibalut riasan warna hitam dan putih. Bak prajurit perang suku dayak. Penampil laki-laki bertelanjang dada dan hanya berbalut ulos. Menunjukkan identitas, bahwa mereka berasal dari Sumatera Utara.

Belum unjuk kebolehan, riasan mereka sudah membuat pengunjung berdecak kagum. Sepanjang penampilan, penonton mengarahkan telepon genggam untuk merekam aksi kelompok yang dibentuk 2008 lalu.

“Ini untuk meningkatkan kepercayaan diri . Kalau makna, biar penonton yang menilainya. Kalau kita kan namanya primitif. Itu artinya sederhana,” ujar Sintong Brivo Markus Pasaribu, Ketua Grup Komunal Primitif Percussion.

Komunal Primitif menjadi penutup TCWMF di hari kedua. Pertunjukan mereka begitu memukau. Penonton sampai melakukan standing applause.

Tak ada alat musik elektrik yang mereka mainkan. Seluruhnya adalah perkusi. Namun rampak-rampak perkusi yang dimainkan mereka begitu apik. Sejumlah lagu etnis dimainkan. Selayang pandang, Sinanggar tullo dan sejumlah lagu lainnya menggebrak panggung. Penonton pun ikut bergoyang mengikuti irama perkusi.

Sejumlah alat musik perkusi yang mereka bawa antara lain, Dol Minang, Garantung Batak, Taganing, Jinbe, Hihat Cymbals dan lainnya. Paduan suaranya menambah semangat penonton yang mendengarnya.

Sintong menjelaskan, dalam pertunjukannya mereka kerap kali menggabungkan rampak atau bunyi tetabuhan dari berbagai kebudayaan nusantara dan luar negeri. Mereka juga sudah berlatih intensif selama dua bulan terakhir.

“Itu adalah rampak–rampak dari nusantara. Seperti Sumatera, Jawa dan lainnya. Dan Rampak-rampak yang ada di dunia. Seperti Afrika, Irlandia dan lainnya. Kami menggarap rampak-rampak ini sesuai dengan tema musik dunia yang diusung TCWMF kali ini,” ujarnya.

Dengan musik tetabuhannya Komunal Primitif yang dibentuk Fredi Purba itu, sudah menyabet berbagai prestasi. Mulai dari Tabuik Festival di Padang, Festival Musik Nusantara dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI dan masih banyak lagi.

TCWMF yang kali ini digawangi Irwansyah Harahap, menjadi ajang silang saling kebudayaan musik di dunia. Pada TCMWF kali ini, musisi dari Meksiko, Malaysia dan Tiongkok ikut andil.

Komunal Primitif berharap TCWMF jadi agenda musik tahunan yang terus berkembang. Mereka ingin tahun depan ajang ini dikuti lebih banyak negara.

“TCWMF ini memberikan warna baru bagi musik yang ada di Sumut. Ini sangat positif karena kita berkumpul musisi dari berbagai daerah dan lintas negara. Dan kita bisa belajar dari kebudayaan musik yang lain. Jadi cambuk bagi kami juga untuk selalu meningkatkan kualitas bermusik,” kata Benny Tambak, salah satu pentolan Komunal Primitif.

Saat ini, kebanyakan generasi milenial lebih menggandrungi musik dari budaya lain dan lupa akan musik dari kebudayaannya sendiri. Sebuah dilema memang, ketika ingin melestarikan kebudayaan di Indonesia.

Komunal Primitiv pun mengingatkan generasi milenial  untuk bangga akan tradisinya sendiri. Jangan sampai, milenial malah mengetahui musik budayanya dari orang luar negeri.

“Pedulilah kepada budaya sendiri dulu. Untuk membangun nusantara ini kita harus bijaksana. Kita tidak bisa membangunnya langusng besar. Kita harus pro dulu kepada kebudayaan kita. Cintailah sukunya sendiri. Baru pelajari yang lainnya. Karena suku sendiri itu adalah identitas. Baru nanti mengembangkan yang lain,” pungkasnya. (goy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *