Tiba Dirumah Duka, Jenazah Korban Dugaan Pembunuhan Di Kamar Kos Disambut Isak Tangis Keluarga

 

MEDANHEADLINES.COM, Tapanuli Tengah – Setelah dilakukan visum di RSUD Pandan, jenazah Santi Devi Malau akhirnya dibawa pihak keluarga ke kediaman orangtuanya di Lingkungan II Kelurahan Sibabangun, Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Kedatangan jenazah korban disambut isak tangis dari para kerabat dan keluarga yang telah menunggu di rumah duka. Jenazah perempuan yang berperawakan manis ini tiba di rumah duka sekira pukul 15.00 WIB.

Santi Malau adalah putri dari pasangan Maslan Malau dan Murniati Lubis. Perempuan yang berusia 25 tahun ini ditemukan tewas dengan tak wajar di kamar kos-kosan Simpang Aek Tolang Pandan.

Maslan Malau, ayah korban menuturkan, korban merupakan anak ke empat dari enam bersaudara. Kesehariannya, korban merupakan pegawai bank Mandiri Syariah di kota Pandan yang bertugas sebagai Customer Service.

“Orangnya ramah, dan setau kami korban nggak ada musuhnya,” kata Maslan saat berada di RSUD Pandan.

Dikatakan Maslan, sebelum ditemukan meninggal dunia, tak ada firasat buruk apapun bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Sempat dia (korban) meminta ibunya untuk menggosok baju yang mau dipakainya menghadiri pesta pernikahan temannya di Padang Sidempuan hari minggu lusa, hanya itu saja, nggak ada firasat buruk apapun,” kata Maslan.

Maslan juga menuturkan, sebelum ditemukan tewas, korban juga sempat menghadiri acara halal bi halal bersama dengan rekan kerjanya pada Kamis (13/6) malam.

“Jam 8 kamis malam, korban pulang ke tempat kosnya. Dan malam itu, korban juga meminta salah satu temannya untuk menemani dia (korban) di kamar kos, tapi temannya itu nggak jadi menemani korban tidur malam itu,” tuturnya.

Ditambahkan Maslan, sebelum ditemukan, beberapa teman korban yang menghuni di kamar kos tersebut sudah 4 hari pulang ke Padang Sidempuan untuk persiapan pesta.

“Waktu bulan puasa itu, diajaknya kami (keluarga) buka puasa di Kalangan, dan masih dikasihnya lagi sama ku kenang-kenangan sebuah jam dan kemeja,” kenang Maslan dengan mata berlinang.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *