MEDANHEADLINES.COM, Medan – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (DPW FSPMI) Provinsi Sumatera Utara, Willy Agus Utomo, membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Gubernur dan Kapolda Sumatera Utara.
Dalam suratnya, Willy meminta agar mengusut dugaan pembiaran kasus tenggelamnya Kapal Mega Top 3 di Tapteng dan Sibolga yang diduga menghilangkan nyawa 28 ABK.
Dikatakannya, sedih dan miris, sebab sebanyak 28 orang yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) KM Top 3 diduga tewas tenggelam di laut lepas saat melakukan pekerjaannya mencari ikan di Laut Sibolga. Sejak tanggal 03 Januari 2018 KM Top 3 yang mengangkut 28 ABK tersebut hilang kontak di laut, hingga saat ini Jasad para ABK juga tidak di Temukan, Bahkan Ahli Waris (Pihak Keluarga) hanya diberi Santunan Ala Kadarnya Oleh Pihak Pengusaha Kapal.
Diduga Pemkab Tapanuli Tengah dan dan Kota Sibolga dan Intansi terkait terkesan menutupi kasus yang hampir mirip tragedi di kapal mptor di Danau Toba (karena para ABK berdomisili di dua Kab Kota Tersebut).
Hingga saat ini pihak ahli waris masih menuntut agar pihak Perusahaan KM Mega Top 3 bertangung jawab. Saat ini pihak keluarga korban ABK datang langsung kekantor FSPMI Sumut di Tanjung Morawa Deli Serdang Sumut, Mereka Meminta Bantuan Hukum dan Solidaritas dari FSPMI Sumut, (6/8/18).
“Saya Selaku Ketua FSPMI Sumut, menyatakan siap membantu advokasi Hak atas para korban 28 ABK Tersebut” ungkap Willy.
FSPMI akan tuntut secara Pidana dan Perdata Bahkan FSPMI Sumut akan Bersolidaritas menggelar aksi unjuk rasa besar besaran Ke Pemprov Sumut dan Polda Sumut agar segera mengusut tuntas kasus Tragedi kemanusiaan ini di Tapteng dan Sibolga .
” Ini musibah besar, kenapa Pemerintah dan Kepolisian seolah enggan Mengusutnya” Tegas Willy.
Baja Juga : Laka tunggal Pedagang ikan ditemukan tewas dalam parit
Perwakilan pihak keluarga korban, yang hadir kekantor FSPMI Sumut berjumlah 4 orang, yakni bernama Zubaidah, Erna Wati, Baktiar dan Jerry Zai, mereka berharap FSPMI Sumut dapat membantu ahli waris menerima hak sepantasnya.
” Kecelakaan di danau toba bisa selesai cepat, kenapa kecelakaan kapal ABK KM Top yang lebih lama kejadiannya belum juga di tuntaskan, kami mohon bantuan semua pihak” harap Ernawati, ahli waris ABK. (raj)












