MEDANHEADLINES.COM, Medan – Bank Indonesia menghimbau kepada Masyarakat di Sumut, terutama di Kota Medan agar mewaspadai adanya peredaran uang palsu menyusul ditemukannya kenaikan kasus penemuan uang palsu dalam tiga tahun terakhir
“Kita perlu meningkatkan kewaspadaan karena saat ini, kemungkinan sindikat pencetak uang palsu yang beroperasi masih banyak,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut Arief Budi Santoso
Dijelaskannya, pada 2015 lalu uang palsu yang beredar mencapai 3.378 lembar, kemudian naik pada 2016 sebanyak 3903 lembar dan naik lagi pada 2017 yang ditemukan sebanyak 5.237 lembar. Sementara, pada tahun ini, hingga Februari 2018 penemuan uang palsu yang beredar sebanyak 866 lembar.
” Pada tahun 2015 dan 2016, rupiah yang paling banyak dipalsukan adalah pecahan Rp50.000 yang masing-masing sebesar 53,8% dan 59% dari total penemuan. Sementara pecahan Rp100.000 masing-masing sebesar 42,8% dan 37,6%. Adapun pada 2017, pecahan yang paling banyak dipalsukan adalah Rp100.000 sebesar 57,9% dari total penemuan, sementara pecahan Rp50.000 sebesar 39,2%.Sisanya pecahan kecil-kecil mulai dari Rp20.000, Rp10.000 dan Rp5.000,” Jelasnya.
Diakuinya, Meski tak memiliki pola yang pasti, peredaran uang palsu tahun ini patur diwaspadai karena hanya pada dua bulan pertama, penemuan kasus uang palsu sudah cukup tinggi. Sebagai perbandingan, pada Januari dan Februari 2017 lalu, penemuan uang palsu baru sebanyak 552 lembar.
Adapun uang palsu yang beredar tersebut merupakan penemuan masyarakat yang diserahkan kepada perbankan dan kepolisian. Ada kemungkinan, uang palsu yang beredar di masyarakat masih cukup tinggi.
“Untuk menekan peredaran uang palsu, saat ini BI terus melalukan sosialisasi mengenai ciri-ciri uang asli serta berkoordinasi dengan perbankan dan penegak hukum,” pungkasnya.(red)












