Politik Estetis PILGUBSU 2018

MEDANHEADLINES.COM – Apakah yang tengah terjadi dengan politik kita saat ini? Banyak netizen begitu terpana menyaksikan gonjang-ganjing dunia politik persilatan kita. Nyaris tak ada yang bisa menerka kemana arah yang hendak dibawa oleh para insan-insan politik tanah air. Jika sungai saja punya arah yang jelas, maka politik kita justru kebalikannya meluncur deras namun tak tentu arah. Semua partai bisa saja bercumbu dengan siapa saja, tak perduli lagi latar, ideologi, nilai dan tujuan bangsa, yang penting adalah kepentingannya sendiri belaka.

Namun semua netizen percaya, bahwa para politisi berbuat hanya untuk merebut kekuasaan yang lebih besar semata. Semua koalisi dibangun hanyalah di dasari atas hasrat kuasa yang tak ada batasnya. Baru kali ini ada satu partai yang mengeluarkan rekomendasi untuk calon kepala daerah sebanyak tiga kali. Dan baru kali inipula partai-partai mengumunkan ke publik mencabut rekomendasinya dengan santai, sebaliknya calon yang dicabut rekomendasipun menerimanya dengan santai juga.

Hitungan politik partai nyaris tak punya rumus-rumus etika apalagi sampai ketahap religius. Tak perlu pendapat pemilih untuk menentukan siapa calon, sebab semuanya cukup ditentukan oleh “pemilik” partai saja. Semua netizen pada akhirnya tampak paham, bahwa memang demikianlah ternyata politik yang sedang ada dihadapan kita. Suatu kontestasi yang mungkin hanya melibatkan 5 atau 6 orang saja di republik yang besar ini. Nyaris dunia politik kita yang dikuasai segelintir kecil elit, dihelat tanpa ada pagar-pagar pembatas moral yang bermuara pada terwujudnya kesejahteraan rakyat.

Politik kita mirip seperti gambaran Kierkegaard tentang suasana zaman yang sedang menyeret siapa saja untuk mengikuti arus deras zaman yang sedang berlangsung. Para politisi dan begitu juga masyarakat secara umum hanya dikuasai oleh naluri-naluri rendah yang kehilangan nilai-nilai tingginya seperti etika dan panduan religi.

Adalah Soren Kierkegaard yang mengatakan bahwa tahap awal perkembangan manusia adalah tahap estetis sebelum mencapai tahap etis dan religius. Tahap estetis yaitu suatu tahapan dimana orientasi hidup manusia hanya diarahkan untuk mencapai kesenangan duniawi belaka. Pada tahapan ini manusia hanya dikuasai oleh naluri-nalurinya yang rendah yaitu naluri seksual, naluri kuasa, naluri hedonistik dan bertindak sesuai dengan suasana hatinya.

Manusia estetis menurut Kierkegaard adalah manusia yang hidup tanpa jiwa, manusia yang hidup tanpa aktor dan isi dalam jiwanya. Manusia hidup berdasarkan kecendrungan masyarakat dan zamannya dan ia benar-benar hanyut dalam derasnya arus masyarakat. Petunjuk hidup masyarakat satu-satunya adalah arus besar hasrat masyarakat itu sendiri, kepadanyalah banyak manusia berserah diri.

Lantas jika arus besar ini terus menyeret masyarakat menuju laut yang dalam, apakah yang bisa menghentikan semua ini? Menurut Kierkegaard dalam suasana seperti ini, hanya ada dua jalan keluar yang dapat dilakukan manusia, yaitu bunuh diri lari dalam kegilaan atau masuk dalam tingkatan yang yang lebih tinggi yakni tingkat etis.

Pada tahap etis inilah manusia kemudian mulai menyadari dirinya, dan mulai bisa membedakan mana yang baik dan buruk, sehingga manusia mampu menolak yang buruk, dan mampu melawan arus deras zaman yang sedang berlangsung. Manusia etis menurut Kierkegaard adalah manusia yang sadar diri, melakukan pertobatan dan rela berkorban demi kebaikan itu sendiri. Manusia etis menurut Kierkegaard dapat dilihat dalam diri Socrates, yang bersedia minum racun demi mempertahankan kebenaran.

Suatu tahapan etis, bisa juga bermakna sebagai suatu tahapan dimana banyak muncul para orang bijak yang rela berkorban untuk kemaslahatan masyarakat banyak sebagaimana yang dilakukan oleh para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya dari penjajahan. Tahapan inilah yang tentu kita inginkan muncul saat ini dan ke depan, sehingga ada banyak orang yang mampu meluruskan arahkebangsaankita.

Inti pesan Kierkegaard adalah, bahwa sebagai suatu bangsa, utamanya para pemangku politik bangsa, mestinya dapat merenungkan tentang situasi yang berkembang saat ini. Bukankah hakikat kita ada sebagai bangsa Indonesia adalah untuk mencapai tujuan kebangsaan kita yang sesungguhnya? Bukankah semangat pengorbanan para pahlwan yang smeestinya kita contoh, bukan semangat “mengorbankan” saudara sendiri demi kepentingan pendek? Dan…hanya, mereka yang sadar diri dan berani melompat ke tahapan etislah yang akhirnya mampu selamat dan menyelamatkan masyarakat di masa depan.

Penulis: Dadang Darmawan, M.Si

Dosen FISIP USU

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.