Kurang Tidur, Remaja di China Beresiko Alami Gangguan Mental

MEDANHEADLINES.COM – Komisi Kesehatan dan Keluarga Berencana (HFPC) Kota Beijing China mengumumkan bahwa – Kalangan anak-anak dan remaja berisiko mengalami gangguan kesehatan mental dan fisik akibat kekurangan jam tidur.

Diketahui  indeks waktu tidur rata-rata 7,5 jam per malam. Namun 25 persen dari para penduduk ibu kota itu kekurangan jam tidur ideal.
Anak-anak dan remaja di kota terbesar kedua di daratan Tiongkok itu kurang tidur lantaran banyaknya pekerjaan rumah, kecanduan menggunakan perangkat elektronik, dan buruknya pola tidur.

Pakar kesehatan mengingatkan bahwa kekurangan tidur dalam jangka waktu lama dan insomnia dapat meningkatkan risiko terkena serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi, gelisah, dan depresi.

Laporan mengenai pola tidur nasional yang diumumkan Huawei Sports and Healthcare pada November tahun lalu menyebutkan bahwa persoalan utama di China adalah kurangnya jam tidur, mimpi yang mengganggu, dan sering terbangun saat tidur.

Lebih dari 60 persen warga China tidak memenuhi waktu tidur yang ideal dan tidurnya gelisah atau tidak berkualitas.

Menurut American Sleep Association, tidur yang berkualitas dapat memberikan waktu kepada otak untuk menyesuaikan diri setelah beraktivitas selama sehari penuh.

Seorang bankir di Beijing berusia 30 tahun, Gao Jian mengaku tidak bisa tidur sebelum tengah malam dan sering kali mengalami kesulitan tidur saat sedang menyelesaikan tugas penting.

“Sepertinya hampir setiap orang yang bekerja di sektor keuangan memiliki masalah dengan tidur karena pekerjaan kami penuh tekanan. Justru menjadi berita besar jika di tim saya ada yang tidur nyenyak,” ujarnya.

HFPC mengingatkan masyarakat agar segara menyelesaikan persoalan tersebut. ”

Jika dipandang perlu, masyarakat yang mengalami kesulitan tidur bisa meminta bantuan pihak rumah sakit atau klinik kesehatan,” demikian HFPC

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.