MEDANHEADLINES.COM, Medan – Negara Malaysia ternyata juga kesulitan menghadapi masifnya peredaran narkoba. Hal itu langsung diungkapkan Budiman Mohd Zohdi, Anggota Parlemen Malaysia saat berdiskusi di Medan, Rabu (13/12/2017).
Menurut dia kemajuan teknologi juga menjadi faktor maraknya peredaran narkoba di Malaysia.
“Sekarang tengok Youtube udah bisa buat sendiri. Dan hari ini dadah (narkoba) sintetis yang lebih mudah, ditengok di Youtube, orang bisa buat di mana saja. Jadi nggak mudah buat penguasa,” kata Budi.
Dari teknologi, masyarakat lebih mudah mendapatkan barang haram itu. Biasanya pengedar narkoba bertransaksi dengan pelanggan lewat media sosial.
“Mereka dapat dadah ini secara online, SMS, Wechat. Jadi pakai teknologi,” ujar dia.
Budi langsung membantah jika pihaknya dianggap kurang mengawasi dan melakukan pencegahan terhadap peredaran narkoba. Apalagi, banyak kasus yang terjadi di Indonesia, narkoba yang masuk merupakan barang dari Malaysia.
Narkoba biasanya masuk dari Malaysia menuju Aceh. Jumlahnya juga tak tanggung. Puluhan hingga ratusan kilogram. Beberapa pelaku sudah berhasil diamankan. polisi terus memburu bandar dan pengedar. Beberapa juga sudah ditembak mati.
“Dari pengawasan, sudah cukup banyak tapi mereka ini memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Misalnya, kalau transit kan nggak mungkin tas di bagasi dibuka. Ini yang dimanfaatkan (bandar). Kemudian jalur laut yang memang lebih besar (digunakan),” kata Budi.
Sama seperti di Indonesia, malaysia juga menerapkan hukuman mati kepada orang yang terlibat narkohba. Namun para pelaku tidak jera.
“Di Malaysia, ada Pasal 39B (Akta Dadah Berbahaya atau UU Narkoba Tahun 1952) tentang hukuman mati. Walaupun begitu tidak menakuti orang yang bawa narkoba,” kata Budi.
Budi berharap ada langkah yang serius dari pemerintah Indonesia dan malaysia dalam penanganan peredaran narkoba. (pra).












