Toko Online menjamur,pengusaha Mall Cemas

MEDANHEADLINES – Dengan perekembangan tekhnologi yang semakin canggih mempengaruhi munculnya kehadiran e-commerce atau toko online yang dianggap lebih effisien bagi konsumen.

Namun perubahan cara belanja konsumen ini ternyata juga mengundang kecemasan bagi para pengusaha terutama adalah pengusaha di pusat perbelanjaan.Menjamurnya toko online membuat toko-toko konvensional bahkan pusat perbelanjaan modern seperti mal terancam ditinggal pelanggan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, kondisi pusat perbelanjaan modern seperti mal memang masih diminati oleh masyarakat. Namun, pengusaha mal tetap perlu menyikapi keberadaan industri e-commerce yang tumbuh dengan signifikan.

“Tapi sekali lagi saya berikan early warning untuk diri kita masing-masing, jangan abaikan online. Karena e-commerce itu, yang jadi persoalan adalah mereka belanja itu tidak bayar pajak, sedangkan toko-toko di mal bayar pajak. Kemudian bayar sewa yang mahal, jadi itu terjadi persaingan,” kata Enggar saat menghadiri Rakornas Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI)

Enggar mengatakan, potensi pengembangan pusat perbelanjaan modern masih besar. Alasannya, jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar, dan perilaku masyarakat yang kerap berkumpul di suatu tempat alias ‘nongkrong’.

Oleh sebab itu, Enggar mengatakan, pihak pengusaha perlu melakukan berbagai inovasi yang kreatif agar dapat menarik minat masyarakat.

“Yang menarik di Indonesia ini kebutuhan mereka (masyarakat) untuk hangout cukup besar kemudian pengusaha kreatif sekali jadi dibuat berbagai kegiatan, ada juga kuliner dan lain sebagainya,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan juga mengaku saat ini kondisi di pasar perbelanjaan modern masih terus mengalami perkembangan. Namun, dirinya tak memungkiri perkembangan e-commerce juga memengaruhi pusat perbelanjaan modern yang berbasis offline.

Dia pun mengatakan bahwa pelaku di sektor perbelanjaan modern seperti mal perlu melakukan berbagai inovasi kepada konsumen agar dapat terus dapat memiliki minat pada pasar modern.

“Kalau kami lihat online dan offline, katanya kita offline, order getting lost (pesanan berkurang). Minat masyarakat datang atau belanja di pusat perbelanjaan itu tidak menurun. Cuma (online) memang memengaruhi. Online transaksinya masih jauh di bawah 1%, lebih rendah cuma memang kenaikannya pesat sekali,” terangnya.(lbs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.