Meneguhkan Mission HMI Sebagai Semangat Juang

MEDANHEADLINES – Akhir-akhir ini banyak sekali goncangan yang dihadapi oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), baik timbulnya dari dalam (intern) maupun datangnya dari luar (ekstern). Tidak sedikit, HMI pun dihujani pertanyaan-pertanyaan seperti; apa tujuan HMI saat ini? Apakah tujuan HMI itu sekedar tertulis saja? Kenapa semangat juang kader HMI saat ini terlihat lesu? Di mana semangat juang seorang kader HMI saat ini? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan itu muncul bukan karena ketidak-sukaan pada HMI, tapi karena adanya kebutuhan masyarakat dan kecintaan mereka pada HMI untuk membela kemudian menyuarakan aspirasi-aspirasi mereka (baca: kaum mustadha a’fin).

Setiap organisasi tentunya mempunyai missi atau tujuan yang ingin dicapainya atau juga yang ingin dipertahankannya. Tujuan yang jelas sangat diperlukan oleh suatu organisasi, sehingga setiap usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan secara teratur. Tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh suatu factor pembentukannya. Motivasi dasar atau factor perumusan tujuan tersebut dapat berangkat dari latar belakang yang dialami atau dihadapinya dan dapat pula berangkat dari cita-cita yang ingin diwujudkan suatu organisasi itu.

HMI, jikalau kita tilik sejarah perjalanannya (1947-2017) dapat kita lihat tujuan HMI berangkat dari dua factor seperti yang kita sebutkan di atas tadi. Tujuan mula HMI, yaitu: “1. Mempertahankan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, 2. Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam”, adalah tujuan awal HMI yang berangkat dari latar belakang ketika saat pendiriannya.



Haiqal Arifianto dan Sulaiman (ed) (2015:8) menuliskan, sesuai dengan konteksnya latar belakang berdirinya HMI dan pemikirannya secara garis besarnya terdiri dari: (1) Penjajahan atas Indonesia dan tuntutan perang kemerdekaan, (2) Kesenjangan dan kejumudan umat Islam dalam pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan serta pengamalan ajaran Islam, (3) Perkembangan paham dan ajaran komunis di kalangan masyarakat dan mahasiswa, (4) Kondisi Perguruan Tinggi dan dunia kemahasiswaan (yang banyak dipengaruhi pendidikan sekuler, liberal, westernisasi, dan sosialis-pen).

Sedangkan tujuan HMI yang dipengaruhi oleh factor kedua (berangkat dari cita-cita), sekarang dapat kita temukan pada pasal 4 Anggaran Dasar (AD) HMI dalam Hasil-Hasil Kongres HMI XXIX di Pekanbaru, dengan bunyi: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.”

Tujuan tersebut, bukanlah tujuan utopis (khayalan). Untuk membuktikan itu HMI terus menerus melakukan usaha-usaha konkrit dalam menghadapi tantangan zaman. Usaha-usaha tersebut tersusun secara dinamis dengan landasan dan tujuan yang terstruktur, terukur dan juga sistematis. Usaha-usaha yang dilakukan oleh HMI bersifat secara intern (ke dalam) seperti pendidikan dan pengembangan kualitas kader-kader HMI, sedangkan secara ekstern (ke luar) dengan bentuk pengabdian di berbagai level dan keahlian seorang kader tersebut.

Dengan rumusan tersebut (pasal 4 AD HMI-pen), pada hakekatnya HMI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kuantitas. Akan tetapi dengan sebaliknya, HMI secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan juga membimbing angota-anggotanya (kader-pen) untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangannya yang benar dan efektif (ibid: 156).

Islam Sebagai Motivasi Utama Mission HMI

Sesungguhnya Allah SWT. Telah mewahyukan Islam sebagai agama yang haq dan sempurna untuk mengatur umat manusia agar berkehidupan sesuai dengan fitrahnya sebagai khalifah fild ardh dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata kepada-Nya. Allah SWT juga telah menjelaskan lewat firmannya bahwa Islam adalah agama atau ajaran yang sempurnakan dan agama yang diridhoi-Nya (QS, 5 : 3). Sedangkan, kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya manusia adalah kehidupan yang seimbang dan terpadu antara pemenuhan kalbu, iman dan ilmu dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. (op cit, 2015: 156-157)

Atas keyakinan tersebut, maka HMI menjadikan ajaran Islam sebagai motivasi paling dalam dan sumber nilai bagi HMI. Karena Islam ajaran yang fitrah, maka pada dasarnya tujuan atu mission HMI harus sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian Islam bagi HMI merupakan pijakan paling utama di antara pijakan lainnya (rasa kebangsaan, dan keilmuan) dalam menetapkan tujuan dan usaha organisasi.

Penerapan ajaran-ajaran Islam dalam pola sikap dan pola pikir seorang kader HMI harus berangkat dari kesadaran yang tinggi. Sadar akan fitrahnya bahwa seorang kader HMI membutuhkan agama (baca: Islam), sadar bahwa Allah SWT. adalah kebenaran yang mutlak seperti yang telah dijelaskan di dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI pada bab pembahasan dasar-dasar kepercayaan. Kader HMI sadar meyakini Islam sebagai ajaran yang haq lagi sempurna, karena Islam memberikan nilai-nilai kebaikan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Islam tidak hanya dimaknai menjalankan keyakinan secara vertical (hablumminallah), tapi Islam dimakani dan diaplikasikan juga secara horizontal (hablumminannas) juga.

Mewujudkan Kualitas Insan Cita HMI

Kualitas insan cita HMI adalah merupakan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh HMI di dalam pribadi seorang kader yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan (‘amal shaleh). Dalam amal saleh inilah kader HMI akan mendapatkan kebahagiaan kehidupan yang sebaik-baiknya. Bentuk kehidupan yang ideal secara sederhana itu dapat dirumuskan seperti dengan kehidupan yang adil dan makmur diridhoi oleh Allah SWT.

Untuk mewujudkan yang demikian, seorang kader harus sadar dan berusaha merealisasikan nilai-nilai Ketuhanan yang Maha Esa, nilai-nilai Islam, nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, dan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Kualitas insan cita yang harus diwujudkan oleh HMI ditandai juga dengan lima kualitas yang ditafsirkan dari tujuan HMI dalam pasal 4 AD HMI dengan berbagai macam karakteristiknya, seperti: “kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan yang bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masayarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.”


Pada pokoknya, insan cita HMI merupajan “man of future”, insan pelopor yang berpikiran luas dan berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana cara mewujudkannya. Untuk dapat mewujudkan hal-hal tersebut, kader HMI harus menjadi “man of inovator”, duta-duta pembantu, penyaura ide-ide progress, insan yang berkepribadian imbang dan padu (antara iman, ilmu serta amal), kritis, dinamis, adil, jujur, tidak takabur dan bertakwa pada-Nya.

Insan cita HMI pada suatu waktu akan merupakan “intelectual community” atau kelompok intelegensia yang mampu merealisasikan cita-cita umat Islam dan bangsa dalam suatu kehidupan masyarakat yang beriman, berilmu pengetahuan, sejahtera, adil dan makmur yang mangharapkan ridho dari Allah SWT.

Penutup

Hakekat tujuan atu mission HMI adalah pembentukan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu menunaikan tugas kerja kemanusiaan sebagai bentuk amal saleh. Perlu kita ulangi kembali, pengabdian dalam bentuk amal saleh inilah pada hakekatnya tujuan hidup manusia. Sebab, dengan melului kerja kemanusiaan, manusia telah menjalankan tugas-tugasnya sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna yang dilengkapi dengan akal-pikiran yang tidak ada pada makhluk Tuhan lainnya.

Menjadi kader HMI atau ber-HMI tidaklah seperti seseorang yang sedang berjalan tanpa arah tujuan, tidaklah seperti Nahkoda yang berlayar tanpa penunjuk arah (kompas), tidaklah seperti Pilot tanpa tujuan pendaratan. Nahkoda dan Pilot tentunya mempunyai penunjuk arah dan mempunyai tujuan. Begitu pulalah dengan HMI baik secara individual maupun organisasi, tentunya dia mempunyai arah dan tujuan.

Menjadi kader HMI bukanlah untuk meniti karir, mencari jabatan sosial, mencari jabatan politik, ajang cari nama (eksistensi) atau jabatan duniawi lainnya. Akan tetapi, menjadi kader HMI adalah mempersiapkan diri agar berkualitas secara iman dan ilmu pengetahuan dalam rangka mengabdi untuk menjawab tantangan zaman, sekarang dan yang akan datang. Jikalau kader HMI berkualitas, amanh-amanah ‘jabatan’ duniawi akan datang sendiri, alam yang akan menggerakkan itu. Karena amanah untuk menjalankan dan menjaga perintah Tuhan hanya mampu diemban oleh manusia, tentunya manusia itu adalah manusia yang berkualitas secara iman, ilmu yang diterlihat dalam kerja-kerja kemanusiaan (baca: amal seleh).

Kita, sebagai kader HMI harus mempunyai semangat juang yang optimis. Semangat juang atas kesadaran yang tinggi. Mission HMI telah merumuskannya untuk menjadi dasar semangat berjuang seorang kader sehingga mampu mempersiapkan diri untuk menjawab tantangan zaman yang terus berganti sesuai dengan perkembangan manusia. Dengan demikian Mission HMI harus tertancap di dalam hati dan pikiran kita.

Penulis :Ibnu Arsib Ritonga

Mahasiswa UISU dan Kader HMI Cabang Medan


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.