Sumut  

Miris..!! Perpanjangan Tangan Kemenparekraf Otak-atik RAB Geobike Kaldera Toba Untuk Kepentingan Kelompok

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Acara Geobike Kaldera Toba ke-6 yang diprakarsai Rumah Karya Indonesia (RKI) yang bekerja sama dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) meninggalkan catatan buruk.

Hal itu, dikarenakan oknum yang tidak bertanggungjawab, yakni perpanjangan tangan Kemenparekraf di acara tersebut, Wiki Syafril.

Pria yang bertugas menghandle acara tersebut ternyata mengotak-atik Rancangan Anggaran Biaya (RAB) untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Saat berbincang dengan awak media, di kawasan Geosite Sipinsur, Wiki meminta tolong pada awak media dan blogger untuk membuatkan tulisan pada tiga orang guide dari travel, yang bernama Merry, Santi dan Nani. Sebab, ketiga guide tersebut dimasukkan Wiki dalam RAB atas profesi Blogger.

“Ini kita otak-atik RAB, biar dana blogger ada ke mereka (guide). Tolong buatkan tulisan berita mereka. Jadi dalam acara ini, satu orang blogger itu harus ada 2 tulisan. Target kita 10 tulisan di acara ini,” ujar Wiki Syafril tanpa merasa mempermainkan anggaran negara untuk pariwisata.

Salah satu awak media menyatakan miris atas kejadian ini, sebab ini perbuatan yang tidak baik dan memperburuk citra Kementerian.

“Diketahui anggaran untuk satu orang blogger mencapai jutaan rupiah. Hal ini, tentu memperburuk citra Kemenparekraf. Sebab, memberikan ruang bagi orang yang tidak bertanggung jawab dalam menghandle acara dengan tidak jujur dan tidak baik. Harusnya ini ditindak oleh Kemenparekraf,” ujarnya.

Diketahui, acara Geobike Kaldera Toba yang ke 6 ini kerja sama oleh Rumah Karya Indonesia dan Kemenparekraf. Untuk Geobike di kawasan wisata, dihandle langsung oleh RKI. Sedangkan transport, penginapan dan makan dihandle oleh Wiki Syafril dan tim sebagai perpanjangan tangan kemenparekraf.

Seorang Pendeta yang merupakan peserta Geobike menyatakan cukup puas dengan lintasan yang diatur pihak RKI. Namun, ia merasa kecewa dengan penginapan dan makanan yang disediakan.

“Lihatlah, peserta sudah sampai dan capek, masa’ makan siangnya belum ada. Di setiap titik berhenti pun tak ada makanan. Harusnya ini lebih diperhatikan,” ujarnya.

Peserta lainnya, juga merasa kecewa karena makanan yang disediakan oleh pihak Kemenparekraf tidak mengutamakan asupan gizi untuk pesepeda.

“Nasi tadi pagi itu saja, gak kumakan. Keras kali. Ini makan malam, pakai dadar dan ikan teri pulak. Ya mengecewakan lah. Sekelas Kementerian Pariwisata kok begini,” jelasnya tanpa mau disebut identitas.  (raj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.