MEDANHEADLINES.COM – Punguan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (PSSSI) Kota Sibolga, Sumatra Utara angkat bicara terkait kematian Patar Simanjuntak, Senin (11/10/2021). Menurut mereka, aksi kekerasan tidak perlu dilakukan.
“Kita mendukung kinerja Polisi dalam mengungkap kematian Patar Simanjuntak,” jelas Ketua PSSSI Kota Sibolga, Nixon Pendi Simanjuntak.
Dikatakan Nixon, keluarga besar Simanjuntak sangat menyangkan aksi dari terduga pelaku. Patar Simanjuntak diduga meninggal akibat aksi pengeroyokan.
Untuk itu, kata Nixon, pihak Kepolisian harus bisa mengungkap motif terduga pelaku pengeroyokan terhadap korban yang berujung kematian tersebut
“Kami percaya, pihak Kepolisian bekerja dengan profesional. Polisi akan mampu menangkap para terduga pelaku yang terlibat pengeroyokan,” jelas Nixon didampingi Sekretaris, Sudarno Simanjuntak beserta wakil ketua PSSSI, Gordon Simanjuntak.
Nixon juga menambahkan, aksi kekerasan tidak seharusnya terjadi. Meskipun ada persoalan antara korban dan terduga pelaku, tidak dibenarkan melakukan kekerasan.
Seharusnya, kata dia setiap persoalan dapat diselesaikan dengan baik dan secara kekeluargaan.
“Zaman sekarang tidak perlu lagi dengan kekerasan. Negara kita negara hukum. Dan Polisi juga saat ini tidak main-main untuk menekan aksi kejahatan,” jelasnya.
Sebelumnya, Patar Simanjuntak pertama kali ditemukan warga sekitar. Korban didapati sudah dalam kondisi tak berdaya dengan bersimbah darah.
“Ditemukan sekitar pukul 01.30 WIB,” kata warga yang sempat menyebutkan namanya.
Masih kata warga, upaya pertolangan sempat dilakukan terhadap korban. Namun takdir berkata lain, Patar dikabarkan meninggal dunia saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Kami menduga korban sudah meninggal sebelum ke rumah sakit,” jelas warga.
“Sebelumnya korban dibawa ke RS Metta Medica menggunakan becak motor,” tambahnya.
Ibu korban, Dermince Purba (65) mengaku tidak menyangka peristiwa yang dialami anak sulungnya itu.
Melihat kejadian tersebut, diapun berharap tabir kematian anaknya bisa diungkap oleh pihak Kepolisian.
Menurut Dermince, sebelum kejadian, Patar diketahui sudah tidur di rumah mereka. Namun, karena ada seseorang yang menghubungi lewat ponsel, korban pun terbangun.
“Dia (Patar) kemudian pergi masuk gang depan rumahnya menuju jalan Patuan Anggi,” jelasnya.
Dermince menjelaskan, kabar nahas yang menimpa anaknya itu didapati dari rekan korban. DS yang datang menggunakan sepeda motor mengatakan kalau Patar kenak tikam.
“Kenak tikam si Patar, kenak tikam si Patar,” kata ibu korban menirukan ucapan DS.
Ibu korban mengatakan, sebelum kejadian, DS diketahui nongkrong di rumah mereka.
Patar dan DS disebut-sebut pergi ke arah jalan Patuan Anggi diwaktu yang bersamaan.
“Sama-sama perginya orang itu (Patar dan DS) dari gang ini. DS naik kreta,” kata Dermince.
Mendengar kabar dari DS, kata Dermince, diapun langsung pergi mencari Patar bersama temannya ke jalan Patuan Anggi. Namun tidak ketemu.
Seorang warga kemudian menghampirinya dan mengabarkan kalau korban telah bersimbah darah di depan SPBU.
“Katanya sudah di depan galon (SPBU) si Patar. Langsung lah aku kesana, kulihat sudah lemas, langsunglah dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.
“Nggak ada sebenarnya di tikam. Hanya, badannya memar kayak bekas pukulan benda tumpul,” tambah ibu korban.(Hen)












