Kasus Penipuan Rp3,6 Miliar, Kakak Beradik Awi dan Atak Kompak dituntut 18 Bulan Penjara

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Dua kakak beradik Tanuwijaya Pratama alias Awi warga Komplek Graha Metropolitan Jalan Kapten Sumarsono Helvetia dan Robert Sulistian alias Atak warga Jalan Jalak IV Medan Marelan, dituntut penjara masing-masing selama 1 tahun 6 bulan penjara.

Amar tuntutan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) Randi Tambunan dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (6/5) menyatakan kedua terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan sehingga mengakibatkan Rudy (korban) mengalami kerugian sebesar Rp 3.6 Miliar.

“Menyatakan bahwa kedua terdakwa secara sah terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan secara bersama-sama sesuai dengan dakwaan melanggar pasal 378 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Menuntut terdakwa masing -masing selam 1 tahun 6 bulan penjara dengan perintah terhadap terdakwa dilakukan penahanan,” sebut JPU.

Sebelum membacakan tuntutan, JPU mempertimbangkan hal -hal yang nemberatkan dan meringankan terdakwa.

Hal yang memberatkan dimana terdakwa belum berdamai dan perbuatan terdakwa merugikan korban. Sedangkan hal yang meringgankan dimana terdakwa bersikap sopan dalam persidangan dan belum pernah dihukum.

Usai mendengarkan pembacaan tuntutan, ketua majelis hakim Imannuel Tarigan menunda persidangan hingga minggu depan guna memberi kesempatan kepada kedua terdakwa untuk melakukan pembelaan (pledoi).

“Sidang ditunda hingga minggu depan dan kedua terdakwa diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan atas tuntutan yang diajukan JPU,” ucap Imannuel menutup persidangan.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam dakwaan jaksa menyebutkan, Terdakwa Tanuwijaya Pratama bersama-sama dengan Robert Sulistian pada bulan Maret tahun 2016 bertempat di Rumah Makan Uda Sayang Jln. Gunung Krakatau Kota Medan bertemu dengan Rudy (korban) lalu terdakwa membujuk Rudy agar kerjasama investasi modal usaha di perusahaan CV. Permata Deli yang bergerak dalam usaha meubel dan furniture dengan pembagian keuntungan 33 persen.

Dan kepada Rudy kedua terdakwa juga berjanji akan membuka perusahaan yang baru dan akan mengalihkan modal Rudy ke perusahaan baru tersebut untuk mempermudah pembukuan dan perhitungan keuntungan perusahaan meubel yang akan dijalankan kedua terdakwa.

Akibat kata-kata yang diucapkan terdakwa membuat Rudy jadi tergiur dan mau kerjasama investasi modal dalam usaha dengan memberikan modal uang dan barang senilai sekitar total Rp. 3.610.000.000,- (tiga miliyar enam ratus sepuluh juta rupiah) yang diberikan dalam beberapa tahap dari kurun waktu sejak bulan Maret 2016 sampai dengan Mei 2017.
Bahwa kemudian terdakwa mempergunakan uang modal investasi yang diberikan Rudy tersebut diantaranya untuk biaya operasional usaha meubel pada CV. Permata Deli miliknya, membayar hutang, membayar sewa gudang di Jln. Jala Empat No. 88 Kel. Enam Ratus Kec. Marelan, renovasi gudang, pembelian mesin pembuatan pabrik perabot dan meubel, sewa ruko 3 (tiga) pintu di Jln. Yos Sudarso, renovasi ruko 3 (tiga) pintu di Jln. Yos Sudarso, untuk down payment (DP) pembelian 2 (dua) unit mobil Pick Up, untuk kebutuhan perputaran modal usaha serta untuk kebutuhan pribadi terdakw dan saksi Robert Sulistian.
Kemudian pada sekitar bulan Mei 2017, Rudy menjumpai terdakwa dan menanyakan tentang pembukuan dan laporan keuangan usaha yang mereka jalankan, ternyata Terdakwa tidak dapat menunjukkannya, akhirnya diketahui bahwa ternyata selama ini para terdakwa telah melakukan rangkaian kebohongan kepadai Rudy yaitu nama Rudy tidak dimasukkan menjadi pesero pengurus pada CV. Permata Deli, Terdakwa juga tidak ada mengalihkan modal Rudy tersebut ke perusahaan yang baru.

Kemudian terdakwa tidak pernah memberikan keuntungan sebesar 33 % kepada Rudy sebagaimana yang dijanjikannya.

Mengetahui perbuatan terdakwa tersebut sehingga Rudy meminta agar semua uang modal yang diberikannya untuk segera dikembalikan, lalu Terdakwa berjanji akan mengembalikan semua modal Rudy selama 18 (delapan belas) bulan yang dimulai pada tanggal 27 Januari 2018 sampai dengan 27 Juni 2019 dengan jumlah pengembalian setiap bulannya sebesar Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dengan sarana pembayaran 18 (delapan belas) lembar Bilyet Giro Panin Bank sesuai dengan Surat Perjanjian Penitipan Uang dan Barang tanggal 22 Agustus 2017 yang dibuat oleh terdakwa, namun ternyata Terdakwa kembali berbohong pada saat memberikan bilyet giro tersebut karena dana dalam rekening gironya tidak cukup untuk melakukan pembayaran/kliring atas bilyet giro tersebut, sehingga setelah dilakukan kliring oleh Rudy ternyata yang dapat dicairkan hanya 1 (satu) bilyet giro sedangkan sisanya tidak dapat dicairkan dengan alasan dana tidak cukup. Akibat perbuatan para Terdakwa sehingga Rudy mengalami kerugian sekitar sebesar Rp. 3.610.000.000,- (tiga miliyar enam ratus sepuluh juta rupiah).

Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana dan Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.(raj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *