Tertelan Tulang Ikan, Wanita Ini Terpaksa Jalani Operasi

Tulang ikan (Pixabay/skitterphoto)

MEDANHEADLINES.COM – Seorang wanita berusia 54 tahun asal Malaysia menderita sakit di lehernya. Ini akibat tulang ikan yang tidak sengaja ia telan menembus tenggorokan dan tertanam di otot lehernya.

Berdasarkan studi kasus yang terbit di The Journal of Emergency Medicine pada 15 April lalu ini, kisah berawal saat wanita paruh baya tersebut sedang makan ikan haring serigala panggang.

Tetiba ia mengalami rasa sakit menyiksa di tenggorokannya, bersamaan dengan sensasi seperti ada yang tersangkut.

Sang wanita pun mencoba mengeluarkannya dengan membuat dirinya muntah, tetapi hal itu justru semakin membuat kondisinya memburuk. Ia mulai kehabisan napas dan lehernya membengkak.

Ia pun ke Rumah Sakit Selayang dan langsung diarahkan ke ruang gawat darurat, lapor Live Science.

Dokter memperhatikan ada suara berderak yang disebut krepitasi, suatu kondisi disebabkan oleh tulang yang saling bergesekan atau sendi berderit. Ini dapat terjadi ketika gelembung udara masuk ke lapisan jaringan di bawah kulit.
Awalnya dokter tidak dapat menemukan tulang ikan yang tertelan. Bahkan ketika sang dokter memeriksanya secara visual dan menggunakan X-ray.

Setelah menjalani CT scan, baru terlihat tulang berukuran 5,1 cm tertanam di otot leher besar, dikenal sebagai otot sternokleidomastoid.

Insiden ini sebenarnya sangat umum. Tetapi biasanya dokter menemukan tulang ikan akan tersangkut di tenggorokan bagian atas dan dapat secara mudah dikeluarkan.

“Tulang ikan yang tertanam seperti pada kasus wanita ini sangat jarang terjadi,” kata penulis studi kasus.

Dokter menduga gerakan lidah dan leher yang keras membantu mendorong tulang melalui selaput tenggorokan, kemudian berpindah ke otot lehernya.

Sementara itu, krepitasi yang dialaminya bisa terjadi akibat muntah yang terjadi secara kuat, menyebabkan kantung udara kecil di paru-paru pecah.

Udara yang dilepaskan mengalir di sepanjang pembuluh darah ke leher menghasilkan udara yang terperangkap di bawah kulit, disebut emfisema subkutan.

Sang wanita memerlukan pembedahan untuk mengambil tulang ikan tersebut, dan setelahnya ia mendapat resep obat antibiotik untuk mencegah infeksi.

Setelah lima hari di rumah sakit, gejalanya, termasuk emfisema subkutan, sudah sembuh sehingga dia bisa pulang. (Red/suara.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *