Mandi Limau, Tradisi Warga Pesisir Sibolga Jelang Ramadan

MEDANHEADLINES.COM – Mandi limau adalah salah satu tradisi yang dilakukan umat muslim di beberapa daerah. Tradisi ini biasanya dilakukan sehari sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara mandi limau sudah menjadi tradisi lokal yang masih terus bertahan. Masyarakat biasanya menyebut dengan momen balimau-limau.

Setiap tahunnya, memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam secara beramai-ramai akan mendatangi sungai yang berada di Sibuluan untuk melaksanakan tradisi mandi limau.

“Tidak semua umat Islam mandi limau di Sungai. Ada yang melakukannya di rumah masing-masing,” kata pemerhati Budaya Pesisir Sibolga-Tapteng, Syafriwal Marbun, Kamis (8/4/2021).

Mandi limau, menurut Syafriwal sudah dilakukan umat Islam sejak ratusan tahun lalu. Dan tradisi itu disebutkan merupakan warisan budaya dari Hindu.

Masyarakat Hindu, kata dia akan membersihkan diri dari perbuatan tercela dengan cara memandikan air beraroma wangi yang bercampur rempah-rempah.

“Warisan itu kemudian dilakukan umat Islam untuk mensucikan diri dalam menyambut Ramadan,” kata dia.
Dikatakan Syafriwal, penyebutan mandi limau berasal dari bahasa Pesisir. Masyarakat Pesisir menamai daun jeruk nipis dengan sebutan Limau.

Aroma wangi dari air limau merupakan campuran antara daun pandan dan daun jeruk nipis (Limau). Dua bahan itu kemudian dicampur dengan bahan yang lainnya.

“Adalagi campurannya, daun Ambelu, sejenis tanaman jahe. Dihaluskan dan dicampur dengan dua bahan itu. Aroma daun Ambelu memang sangat wangi,” kata dia.

Syafriwal mengaku, mandi limau tidak wajib dilakukan bagi masyarakat yang ingin menjalankan puasa. Sebab, mandi limau tidak ada dalam ajaran agama Islam.

Dalam menyambut Ramadan, mandi seperti pada umumnya juga bisa dilakukan masyarakat yang ingin berpuasa. Atau tanpa menjalankan tradisi mandi limau.

“Yang penting, niat nya. Kalau niat nya baik, mandi yang bersih pakai sabun saja, masyarakat beragama Islam sudah bisa menjalankan puasa,” ucapnya.

“Sekali lagi, niat nya yang penting,” kata Syafriwal.

Meski tidak diwajibkan, tradisi mandi limau hingga kini masih terus bertahan dan dilakukan masyarakat bergama Islam.

Menurut Syafriwal, sehari menjelang Ramadan, tidak sedikit masyarakat di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah terlihat berbondong-bondong pergi ke sungai untuk menjalankan tradisi itu.

“Sungai di Sibuluan itu tiap tahun pasti ramai dikunjungi masyarakat saat menjelang Ramadan, baik anak-anak, orangtua dan remaja,” ucapnya

Namun ia melihat, Tradasi yang sebenarnya bagus itu semakin hari menjadi lebih berdampak negatif. pasalnya banyaj Pasangan remaja yang memanfaatkan momen tradisi itu untuk berkumpul-kumpul belaka apalagi mandi secara bersama-sama

“Walaupun mandi pakai baju, itu tetap salah. Dalam ajaran agama Islam, pasangan yang bukan suami istri itu sebaiknya dipisah,” jelasnya.

Syafriwal menyebutkan, selain menimbulkan pandangan yang tidak baik, mandi limau yang dilakukan setelah Azhar dinilai mengurangi niat untuk menjalankan salah satu kewajiban sebagai umat muslim.

Tidak sedikit, kata dia masyarakat akan lalai setelah mandi limau di sungai dapat melakukan kewajiban untuk sholat Maghrib.

“Ada yang pulang dari sungai sudah kesorean, menjelang maghrib. Sampai rumah, pastinya tidak bisa mengejar waktu untuk melaksanakan sholat Maghrib. Padahal sholat Maghrib itu wajib dilakukan sebelum sholat Tarawih,” ucapnya. (hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *