Pengamat Komunikasi: Wali Kota Medan Harus Punya Kompetensi Komunikasi

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Pengamat komunikasi, Ara Auza menekankan, Wali Kota Medan ke depan harus memiliki kompetensi komunikasi. Sebab, komunikasi ini dibutuhkan untuk dapat menyampaikan pesan pembangunan.

Usai menyaksikan debat publik III Pilkada Medan 2020, Ara Auza menyatakan, dari dua paslon yang bertarung di Pilkada Medan, kandidat yang memiliki kompetensi komunikasi adalah paslon nomor urut 2 Bobby Nasution-Aulia Rachman.

“Kompetensi komunikasi khususnya komunikasi politik diperlukan oleh seorang wali kota dalam memimpin Kota Medan,” ujar Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Medan Area (UMA) ini, Sabtu 5 Desember 2020.

Komunikasi politik, katanya, tidak hanya diperlukan kepada masyarakat, media massa dan bawahan. Kompetensi komunikasi juga diperlukan dalam menjalin komunikasi dengan pemimpin daerah di sekitar Kota Medan seperti Deli Sedang, Binjai dan Karo (Mebidangpro), pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

“Kompetensi komunikasi diperlukan untuk menyelesaikan pesan pembangunan, supaya arah pembangunan di Kota Medan sesuai dengan perencanaan Mebidangpro, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,” kata Ara.

Menurutnya, perlu adanya kompetensi komunikasi Wali Kota Medan untuk dapat menyampaikan kesesuaian pesan dengan pemerintah daerah Mebidangpro, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

“Apabila kemampuan dalam menghasilkan pesan yang sama, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan banjir, macat, dan sampah di Kota Medan,” tuturnya.

Menyelesaikan masalah banjir, sambung Ara, perlu melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah Deli Serdang dan Karo, begitu juga kemacetan. Selain di pusat kota, kemacetan di Kota Medan terjadi di titik-titik pintu masuk Kota Medan yang berasal dari kawasan Deli Serdang dan Binjai.

“Intinya Wali Kota Medan ke depan harus memiliki kompetensi komunikasi untuk dapat menyampaikan pesan pembangunan, dalam mengatasi permasalahan di Kota Medan dengan melaksanakan komunikasi efektif kepada pemerintah daerah Mebidangpro, pemerintah provinsi dan terlebih pemerintah pusat,” tegas Ara.

Dari debat publik III, lanjut Ara, dapat disimpulkan bahwa paslon nomor urut 2 Bobby Nasution-Aulia Rachman mempunyai kompetensi komunikasi.

“Di kubu sebaliknya yakni Akhyar Nasution-Salman Alfarisi dalam debat itu beberapa kali menyalahkan pihak lain dan terkesan mencari kambing hitam. Yang seperti ini tidak baik untuk kelanjutan pembangunan Kota Medan ke depan, malah bisa menimbulkan kekisruhan yang nantinya dapat berdampak ke daerah,” tutup Ara. (raj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *