Sumut  

Banyak Diburu, Populasi Hiu di Sibolga Terancam.

MEDANHEADLINES.COM – Kota Sibolga merupakan salah satu daerah sentra pemasok Hiu terbesar di Pantai Barat Sumatera. Berbagai jenis Hiu diperdagangkan di wilayah ini, bahkan tidak tertutup kemungkinan merupakan jenis Hiu yang sudah mulai terancam kepunahannya.

Hal itu lah yang terungkap dari Dialog yang digelar salah Komunitas Menjaga Pantai Barat yang bekerjasama dengan Eart Hour Medan dan STPK Matauli.

“Sentra produksi Hiu terdapat di Kota Sibolga. Para pemasok berasal dari berbagai daerah, seperti Aceh, Padang dan beberapa daerah lain,” kata Monika Pinem, Analis BPSPL Padang pada acara dialog interaktif Save Our Shark (SOS) yang digelar di Audio Visual, STPK Matauli Pandan, Senin (2/2)

Dijelaskan monika, Pendataan jenis Hiu di daerah ini juga masih terkendala para pemasok yang bersifat perorangan sehingga tidak bisa diketahui pasti apakah yang paling banyak ditangkap yang sudah terancam punah atau bahkan yang dilindungi

“Reproduksi Hiu rendah, misalnya Hiu Martil yang harus mencapai usia 9 tahun baru dewasa dan bisa bereproduksi, lalu Hiu Beton 15 tahun,” Jelasnya

Alasan lain pentingnya upaya perlindungan Hiu, lanjut Monika, dimana terdapat Hiu endemik yang di tempat lain tak ditemukan.

” Upaya perlindungan terhadap Hiu semakin dibutuhkan. Pasalnya populasi predator puncak di lautan ini terus berkurang akibat perburuan,” Ungkapnya

Monika juga menyebutkan, terdapat 500 jenis ikan Hiu di Dunia. Terdapat 119 jenis di antaranya berada di lautan Indonesia.

Dengan jumlah jenis yang cukup banyak tersebut, upaya perlindungan Hiu berhadapan dengan perlunya kemampuan identifikasi.

“Identifikasi akan membantu dalam proses mengenali jenis Hiu yang dilindungi” katanya.

“Sedikit yang tertarik identifikasi Hiu dan Pari. Padahal kita (Kota Sibolga) surga Hiu, tapi kita gak tahu Hiu,” kata Monika lagi.

Monika juga mengungkap, selain keterancaman populasi, faktor kesehatan juga menjadi penting diketahui. Apalagi Hiu sering menjadi menu makanan yang sering disajikan.

“Penelitian WHO, semua produk Hiu mengandung merkuri yang tinggi. Di amerika serikat sudah dilakukan pelarangan. Makanya tinggal kita, apakah kita mau makan Hiu atau tidak,” kata Monica.

Menjadikan Hiu terutama bagian Sirip sebagai menu makanan, terutama dilakukan masyarakat Tiongkok. Harganya mencapai jutaan rupiah dan mendorong tingginya angka ekspor Sirip Hiu, terutama dari Indonesia.

“Sirip itu dimanfaatkan untuk soup, sirip direbus lama, dan dimasak, sirip tak berasa. Di dinasti ming, bangsawan di Tiongkok sudah mempromosikan sirip menjadi menu kehormatan yang disajikan. Dipercaya, menkonsumsi sirip akan awet muda, karena itu setiap orang china menikah, sirip itu selalu ada,” katanya.

Sebelumnya, pemateri lainnya, Ketua Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPK) Matauli Joko Samiaji mengungkap tingginya angka penurunan populasi Hiu.

Menurut Joko, dalam 15 tahun terakhir penurunan jumlah populasi Hiu mencapak 28 persen di seluruh dunia.

“Kasus-kasus Hiu terdampar juga semakin kerap ditemukan. Padahal Hiu menempati puncak rantai makanan, dan bertugas menyeimbangkan alam. Hiu juga dapat dijadikan indikator kesehatan alam,” kata Joko.

Sementara BBKSDA Wilayah III, Gunawan menyebutkan, kerusakan ekosistem laut menjadi salah satu pemicu keterancaman bagi makhluk hidup secara global.

“Kerusakan laut akan menular ke ekosistem lainnya,” kata Gunawan.

Gunawan mengaku, upaya konservasi terhadap Hiu semakin mendesak untuk dilakukan. Keterlibatan lintas pihak, menurutnya juga cukup dibutuhkan.

“Hiu saat ini dalam kondisi kritis,” ucapnya.

Sementara itu, Perwakilan Komantab, Hadi Sitanggang, pemateri selanjutnya dalam dialog tersebut menegaskan pentingnya langkah sosialisasi berkelanjutan, mengingat Kota Sibolga menjadi daerah pemasok hiu.

“Mendiskusikan Hiu menjadi hal yang penting dilakukan untuk menjaga kelestariannya,” imbuh Hadi yang akrab disapa Mister Policeman.

Hadi menegaskan, sosialisasi satwa dilindungi seperti Hiu bisa dilakukan dengan cara persuasif dan kerjasama.

“Mungkin bisa dijalin kerjasama dengan pihak-pihak yang langsung bersentuhan dengan Hiu, walau memang tantangannya tidak kecil,” kata Hadi.

Pemateri selanjutnya, Eko sihombing mewakili Polres Tapteng menegaskan pentingnya proaktif seluruh pihak dalam upaya perlindungan ekosistem laut, termasuk Hiu.

Kerusakan ekosistem laut menurut Eko, termasuk disebabkan penangkapan ikan dengan cara tak ramah seperti pukat trawl.

“Karena itu mari saling membantu agar tindakan-tindakan pengrusakan lingkungan, dapat ditekan,” tegas Eko. (hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.