PKPA Inisiasi Child Eco-Friendly Tourism (CEFT) di Bukit Lawang

 

MEDANHEADLINES.COM – Sudah bukan hal baru jika wisata menjadi sektor yang tumbuh dengan sangat cepat saat ini, pengaruh percepatan teknologi komunikasi dan mudahnya transportasi menjadikan berbagai tempat berlomba untuk menunjukkan keutamaanya menjadi daerah wisata yang layak untuk dikunjungi.

Sumatera Utara menjadi salah satu daerah wisata yang dicari para pecinta alam, salah satu objek wisata yang paling diminati saat ini adalah Bukit Lawang di Langkat yang juga merupakan daerah konservasi untuk orang utan sumatera.

Hal ini pula yang menjadi salah satu pendorong bagi PKPA untuk menginisiasi Child Eco-Friendly Tourism (CEFT) di Bukit Lawang yang juga merupakan Desa Perkebunan yang didampingi oleh PKPA dalam project Resbound.

CEFT sendiri bertujuan agar aktifitas wisata tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan keuntungan materil namun juga mengajak masyarakat desa di sekitar daerah wisata dapat terlibat secara langsung dan tentu saja dengan tidak mengabaikan hak-hak anak.

Agar CEFT dapat diimplemaentasikan secara nyata, PKPA menggelar workshop di Ecolodge Bukit Lawang. PKPA menggandeng PINOUVA untukmengundang 46 pelajar dan guru-guru dari SMA Pelita Harapan Sentul Bogor (18-19/02/2020). Dalam workshop tersebut, anak-anak diajak untuk mengenal Bukit Lawang lebih dekat, mulai dari mengenal aneka vegetasi pohon, tanaman dan satwa endemik di Hutan Bukit Lawang, hingga masyarakat desa di sekitar Bukit Lawang yang di dominasi masyarakat Desa Perkebunan Sawit.

Para professional bersama sama mengajak para pelajar untuk berdiskusi tidak hanya tentang konservasi lingkungan dan kaitannya dengan wisata namun juga tentang Perkebunan Sawit danTanggung Jawab perusahaan yang diatur dalam Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Selama Workshop, para pelajar diajak untuk ikut serta menganyampiring dari lidi pelepah sawit yang merupakan hasil usaha milik masyarakat Desa Perkebunan Sawit Bukit Lawang serta secara langsung melakukan proses pembuatan ecobrick yang difasilitasioleh Erna Farm dalam upaya untuk mengurangi limbah lingkungan.

Menurut pengelola Erna Farm, bahan dasar pembuatan ecobrick diperoleh dari limbah restoran danpenginapan di sekitar Bukit Lawang. Para pengelola jasa wisata tersebut lantas memasok limbah plastik yang lantas dimanfaatkan Erna Farm menjadi ecobrick yang selanjutnya diaplikasikan menjadi bahan pengganti batubata dalam proses pembangunan .

Tidak hanya itu, pada hari kedua workshop para pelajardipandu oleh para Profesional ranger dari Bukit Lawang Green untukmenjelajah pinggiran hutan bukit lawang dan melihat secara langsung pohon karet, damar, jati serta hewan endemik Sumata Utara yaitu Orang utan, Siamang, Kera white face dan sebagainya.

Di akhir sesi workshop, para pelajar sangat antusias karena dapat menjadi bagian dalam pelestarian hutan dengan ikut menjadi orang tua asuh bagi bibit pohon-pohon yang mereka tanam sendiri di pinggiran hutan.

“Selama ini saya kan tinggal di Kota, jadi wisata di alam seperti ini sangat seru buat saya. Saya juga bisa belajar banyak tentang konservasi dan menjaga lingkungan. Jadi menerut saya aktifitas seperti ini sangat seru ya.” Ujar Nadia salah satu peserta dari SMA Pelita Harapan Sentul.

Melalui aktifitas ini PKPA ingin mengatakan bahwa CEFT dapat menjadi alternative untuk mengenalkan alam kepada anak dan juga menjadi media kolaboratif berbagai pihak untuk menjadikan wisata yang ramah terhadap anak. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *