“Mak, Ini-kan Hakim yang Sering Beli Ubi Kita…”

Kak Bebi, pedagang ubi goreng langganan hakim Jamaluddin/Rha

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kak Bebi, begitu dia biasa dipanggil, adalah pedagang makanan dan minuman tepat di seberang pintu gerbang belakang Pengadilan Negeri Medan. Perempuan berdarah India dan Mandailing ini, sudah puluhan tahun berdagang, maka siapa yang tak mengenalnya. Para pembeli dagangannya beragam, mulai pengunjung sidang, para pengawal tahanan, sampai para jaksa dan hakim.

Cerita hakim, sampailah kepada Jamaluddin. Sampai sekarang, kematian humas PN Medan berusia 55 tahun ini masih misterius. Nah, Kak Bebi punya kenangan terhadap almarhum. Katanya, almarhum adalah pelanggan tetap ubi gorengnya. Setiap hari pasti beli, kadang dibelinya langsung, terkadang melalui asistennya. Satu porsi harganya Rp10.000, kalau lagi banyak tamu, almarhum beli dua porsi.

“Hari Kamis, dia masih beli ubi. Besoknya, Jumat aku tak jualan. Tiba-tiba anak ku tunjukkan berita, ‘Mak, ini-kan hakim yang sering beli ubi kita’, langsung lemas aku, tekejut, sedih…” kata Kak Bebi, Selasa (3/12).

Di matanya, Hakim Jamaluddin adalah sosok yang ramah, baik dan tidak berhitung soal uang. Sering uang sisa belanja ditolaknya saat mau dikembalikan. Kalau waktunya memungkinkan, almarhum akan membeli sendiri ubi goreng dan makan siang di warung.

Gak malu dia, mau dia duduk di sini makan. Orangnya ramah, baeklah, gak pelit,” ucap Kak Bebi mengenang.

Ubi goreng buatan Kak Bebi memang disukai banyak hakim. Mungkin karena diolahnya dengan gaya lama, yaitu dikukus sebentar, kemudian diberi bumbu baru digoreng. Rasanya jadi lebih renyah dan gurih. Pernah suatu waktu dia bertanya kepada beberapa hakim termasuk Hakim Jamaluddin kenapa suka ubi goreng, jawab mereka, ‘ini makanan waktu kami susah-sudah dulu, sebelum jadi hakim’.

Kak Bebi berharap polisi segera menemukan pelaku pembunuhan Hakim Jamaluddin, supaya keluarganya tenang dan persoalannya terang benderang. Juga agar masyarakat tidak ketakutan dan berfikiran yang tidak-tidak tentang kinerja polisi dan keamanan Kota Medan.

Udah enam hari, belum ketahuan juga. Semoga Pak Polisi bisa cepat menangkap pelakunya…” pungkas Boru Lubis itu.

Kapolrestabes Medan Kombes Dadang Hartanto mengatakan, tim yang dibentuk Polda Sumut dan Polrestabes Medan masih melakukan penyelidikan, mengumpulkan alat bukti, dan memintai keterangan sejumlah saksi. Sudah 18 saksi yang diperiksa mulai dari rekan kerja, tempat tinggal korban, dan para saksi di lokasi kejadian namun hasilnya tak disampaikan.

“Nanti kalau sudah utuh informasi semuanya akan disampaikan,” kata Dadang di Mapolrestabes Medan, Selasa petang.

Di tepat terpisah, Kasubbid Penerangan Masyarakat Polda Sumut AKBP MP Nainggolan mengatakan, keterangan para saksi belum ada mengarah ke pelaku. Jumlah saksi bisa bertambah, tapi dia tidak mau berspekulasi dengan informasi-informasi yang beredar yang menyebut pelaku adalah orang dekat korban, atau orang yang meminta dijemput di bandara.

“Semua informasi akan ditampung untuk dijadikan masukan. Penyidik masih mengumpulkan keterangan saksi-saksi, data-data, barang bukti, hasil laboraturium dan otopsi. Jika semuanya sudah jelas nanti akan digelar,” kata Nainggolan.

Sementara Muhrizal Syahputra, Assiten Koordinator dari Kantor Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Sumatera Utara mengatakan, Jamaluddin masuk radar pantauan mereka. Terkait perkara perdata dengan tergugat Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara yang mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus Mujianto soal proyek penimbunan di Belawan dengan mitranya Armen Lubis.

“Dia masuk radar pantauan kami. Majelisnya Pak Jamal, perkara 161 gugatan perdata atas diberhentikannya kasus Mujianto oleh kejaksaan,” kata Muhrizal lewat pesan singkatnya.

Dijelaskan Rizal, ada dua kasus yang dipantau KY dengan majelis hakim Jamaluddin namun sudah diputus, yaitu: PHI Nomor 155/Pid.Sus PHI/2019/PN Mdn dan Perdata Nomor 161/Pdt.G/2019/PN Mdn. Perkara Nomor 161, penggugatnya adalah Armen Lubis dengan tergugat Presiden, Kejaksaan Agung, dan Kejati Sumut. Para tergugat dituding melakukan perbuatan melawan hukum (PMH) tidak melimpahkan kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan Mujianto.

“Korban melakukan gugatan ke PN Medan karena dilama-lamakan kasusnya dilimpahkan ke pengadilan. Gugatan perdata ini ditolak seluruhnya,” ucap dia.

Kematian Jamaluddin masih berselimut misteri. Warga Perumahan Royal Monaco Blok B Nomor 22 Kelurahan Gedungjohor, Kecamatan Medanjohor, Kota Medan, ditemukan tak bernyawa di dalam mobil Toyota Land Cruiser Prado BK 77 HD pada Jumat (29/11). Posisi mobil berada di dalam jurang kebun sawit milik masyarakat di Dusun 2 Namobintang Desa Sukadame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang. Saat ditemukan, korban tergeletak kaku di bangku tengah mobil dengan luka bekas jeratan di lehernya. (Rha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *