MEDANHEADLINES.COM, Medan – Masyarakat di Sumatera Utara kerap mengeluh terkait Kelangkaan Gas Elpiji Subsidi 3 Kilogram.padahal Kebutuhan gas tersebut sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi golongan masyarakat kurang mampu
Ternyata, Penyebabnya adalah struktur distribusi (penyaluran) oleh PT Pertamina untuk sampai ke pengguna akhir, yakni masyarakat yang masih jomplang, Terutama di level pangkalan.
Akibatnya dari SPPBE, distributor dan agen, terkendala sampai ke masyarakat. Karena kekurangan jumlah pangkalan.
Dari 33 kabupaten/kota di Sumatra Utara, hanya ada lima daerah yang jumlah pangkalan elpiji bersubsidi 3 kg sudah memenuhi jumlah yang ditentukan. Yakni di Kota Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Tanjung Balai dan Sibolga. Selebihnya masih belum mencukupi.
Hal Itu diungkapkan Region Manager Retail Sales Pertamina Sumatra Bagian Utara, Rahmat Sinaga, saat menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi B DPRD Sumut, Selasa (26/11/2019).
Dijelaskannya, Sejauh ini baru ada 3.005 pangkalan elpiji bersubsidi 3 kg di Sumut atau 49% Saja
Kata Rahmat, berdasarkan pola distribusi one village one outlet (OVOO), seharusnya di setiap desa terdapat satu pangkalan elpiji bersubsidi. Ke tempat itu kemudian para agen mengantarkan elpiji untuk diedarkan ke warga. Agar tidak terjadi kelangkaan seperti sekali terjadi di daerah-daerah.
Pertamina berkeinginan agar setiap desa memiliki pangkalan. Agar kelangkaan tidak lagi terjadi, apalagi supply selalu mencukupi. Untuk itu, mereka berusaha agar setidaknya pada Januari 2020 kekurangan pangkalan tidak lagi terjadi.
“Kalau bisa Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga mendirikan pangkalan elpiji di setiap desa agar pemenuhan kebutuhan gas warga terpenuhi,” ujar Rahmat.(red)












