Santunan Tak Kunjung Dibayarkan, Keluarga korban Kebakaran Pabrik Mancis Datangi Kantor Gubsu

MEDANHEADLINES.COM, Medan -Keluarga Korban kebakaran pabrik korek di Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Labupaten langkat mendatangi kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro, Kota Medan, Rabu (17/7).

Dari 30 korban, Ada sekitar 11 keluarga yang datang bersama Aliansi Pekerja Buruh Daerah Sumatera Utara (APBDSU).

Kedatangan mereka ini, Dukungan untuk menyampaikan tuntutan atas tanggung jawab perusahaan korek api terhadap korban yang belum juga dibayarkan.

“Kami meminta agar hak-hak kami dibayarkan. Gimana nasib kami selanjutnya, sebenarnya kami gak bisa bilang apa-apa lagi,” kata Edy Prayoga, suami Safitri yang merupakan korban tewas peristiwa tersebut.

Selain Edy, Deni Novita Sari, pekerja uang selamat juga berkeluh kesah dalam aksi tersebut. Kata dia, upah pekerjaan yang terakhir kali dilakukan belum dibayarkan pihak perusahaan.

Dia juga harus kehilangan anak kedua yang masih dikandungnya. “Saya sempat keguguran saat kejadian itu. Waktu itu kami selamat karena makan siang keluar,” ujar Deni.

Dalam sebulan bekerja, biasanya Deni mendapat Rp500-700 ribu. Sesuai berapa banyak korek yang bisa dirakitnya.

“Kalau untuk BPJS-nya gak ada bang. Harapannya pemerintah bisa cepat menangani kasus ini,” ungkapnya.

PT Kiat Unggul disebut sebagai perusahaan ilegal. Peristiwa kebakaran itu dianggap dampak dari lemahnya pengawasan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sumut.

“Kami meminta sebenarnya khusus kepada keluarga korban, soal santunan dan hak hak lainnya supaya bisa diselesaikan,” kata Natal Sidabutar, salah satu perwakilan aksi saat beraudiensi dengan Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah.

Dalam pertemuan dengan Musa Rajekshah, keluarga korban juga mengaku diminta menandatangani kwitansi kosong dan diberikan sejumlah uang sebagai ganti. Sebagian menerima. Sebagian lagi menolak.

Pihak perusahaan menawarkan uang Rp25 juta kepada para keluarga korban.

“Kami menolak berkas kosong, saya rasa tidak sesuai untuk membayar nyawa istri dan dua anak saya,” kata Indra Lesmana, suami korban Desi Setiani.

Pemprov Sumut pun memang mengakui jika mereka kekurangan tenaga pengawasan. Sehingga Ijeck pun meminta aliansi buruh untuk sama sama mengawasi soal ketenagakerjaan.

Pihaknya pun berkomitmen akan mengawal kasus itu. Dia pun mendorong agar para buruh melaporkan jika ada perusahaan ilegal yang beroperasi di Sumut.

“Untuk keluarga korban kita akan kawal di Disnaker, apa yang menjadi hak nya apa yang menjadi hak dan aturan agar pengusaha yang membayarkan. Kita akan menunggu apa atas putusan pengadilan,” pungkasnya. (Red)

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *