BNN Musnahkan Barang Bukti Narkotika asal Depok dan Dumai

MEDANHEADLINES.COM, Banda Aceh – Badan Narkotika Nasional atau BNN memusnahkan tiga jenis barang bukti narkotika di Banda Aceh pada Senin, 15 Juli 2019. Barang bukti merupakan hasil pengungkapan dua tangkapan di Depok, Jawa Barat dan Dumai, Riau.

Barang bukti narkotika yang dimusnakan yaitu jenis ganja, sabu dan ekstasi.

“Dimusnakan sebanyak 338.900 gram ganja, 52.004 gram sabu dan 22.766 butir ekstasi. Ini dari dua tangkapan di Depok dan Dumai,” ujar Kepala BNN, Komisaris Jenderal Polisi Heru Winarko di Banda Aceh disela-sela proses pemusnahan narkotika.

Heru menjelaskan kasus pertama yang berhasil diungkap berada di Kota Depok, Jawa Barat pada Senin, 6 Mei 2019. Dari penggeledahan disebuah runah di Jalan Bungur, ditemui sebuah dua unit peti besar yang masing-masing berisikan 199 dan 140 bungkus ganja kering.

Selain barang bukti, petugas juga turut mengamankan dua orang tersangka berinisial AY dan RSL. Keduanya dijerat Pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1 dan Pasal 111 ayat 1 Jo Pasal 1e2 ayat 1 Undang-Undang nomor 35 tahun 2019 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Sementara kasus kedua berhasil diungkap di Kota Dumai pada Jumat, 17 Mei 2019. Berdasarkan laporan masyarakat, petugas BNN melakukan pengejaran hingga berhasil meringkus tiga orang tersangka berinisial HS, AR dan IK disekitar daerah Sei Pakning Pelintung, Kota Dumai.

Dari hasil interogasi, petugas mengamankan tersangka R dari tempat berbeda. Diduga, R adalah pengendali dalam jaringan tersebut.

“Disini petugas ikut menyita 52.254 gram sabu dab 23 ribu butir ekstasi. Para tersangka dijerat Pasal 114 ayat 2 dan Pasal 112 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika,” lanjut Heru.

Disisi lain, Heru turut menyampaikan alasan BNN melakukan pemusnahan barang bukti Narkotika di Banda Aceh.

“Strategi kita bagaimana menurunkan suplai narkoba dan demand. Harapan kita dengan ada kegiatan seperti ini, demand semakin berkurang dan tidak ada di Banda Aceh,” .

Menurut Heru, Banda Aceh selama ini jarang dijadikan tujuan peredaran narkoba. Musababnya, perangkat desa dan masyarakat yang senantiasa peka terhadap peredaran narkoba ditengah-tengah masyarakat.

Hanya saja diakui Heru, Aceh selama ini kerap dijadikan tempat transit para pelaku narkotika sebelum disebarkan kedaerah-daerah lain. Apalagi dengan letak geografis Aceh yang berada didaerah perbatasan yang rentan menjadi jalur masuk dan keluarnya narkotika.

Sehingga perlu dilakukan tindakan preventif agar Aceh bisa bebas dari narkoba.

“Kita takutkan kedepan malah ini jadi tujuan (peredaran narkotika). Jadi kita melakukan kegiatan ini juga untuk menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk katakan tidak kepada Narkoba. Aceh kedepan harus bebas dari narkoba,” pungkas Heru.(ask)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *