Sumut  

Kasus Cabul Oknum Dosen USU, Rektorat Mengaku Tak Tahu Kronologis Sebenarnya

 

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen Universitas Sumatera Utara (USU) yang terjadi setahun lalu terus bergulir. Meski acap kali beredar di pemberitaan, namun pihak Rektorat USU justru mengaku tidak mengetahui kronologis yang sebenarnya.

Rektorat berdalih jika penyelesaian kasus masih berada ditataran dekanat.

“Kami (rektorat) enggak tau apa-apa. Dekan saat bulan Mei baru nelpon saya ada kasus ini. Lho Saya gak tau kasus ini saya bilang. Karena kasus sebenarnya sudah bisa diselesaikan di tingkat Fakultas,” ujar Wakil Rektor I Bidang Akademi dan Kemahasiswaan, Rosmayati di USU pada Selasa, 18 Juni 2019.

Rosmayati mengatakan jika kasus yang terjadi pada 2018 tersebut sudah ditangani oleh pihak Program Studi (Prodi) Sosiologi dan Dekanat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Prodi diklaim telah melakukan investigasi kepada korban dan pelaku. Hasilnya, pelaku telah mengakui bahwa telah berniat melakukan percobaan pelecehan seksual.

Meski telah mengakui perbuatannya, oknum dosen berinisial HS diketahui masih mengajar. HS hanya diberikan peringatan keras tanpa dibarengi dengan sanksi lainnya. Bahkan menurut beberapa informasi yang didapat, HS malah berniat mengajak korban yang diduga lebih dari satu orang untuk menyelesaikan persoalan ini secara damai.

Terkait dengan pihaknya yang tidak mengetahui kasus yang telah beredar luas, Rosmayati mengaku jarang melihat pemberitaan di media.
“Saya enggat tau dari media, saya dapat surat dari LSM ini. Saya enggak pernah lihat media, yang tukang lihat media bu Elvi (Humas USU). Bu Elvi saja yang melaporkan kepada saya apa yang ada di media,” beber Rosmayati.

Rosmayati menjelaskan jika dirinya justru lebih dahulu tahu soal kasus ini saat lembaga pendamping korban mengajukan surat pertemuan dengan USU. Salah satunya pertemuan yang dilakukan di USU pada siang tadi yang berakhir tanpa titik temu karena pihak Rektorat belum mengetahui kronologis kasus.

Sehingga tidak ada tindakan jelas yang diputuskan pada pertemuan tersebut.

“Tadi ibu Ros (Wakil Rektor 1) bilang, rektorat belum jelas masalahnya seperti apa. Jadi enggak tahu mau ambil tindakan apa. Karena belum resmi (laporan) sampai ke rektorat,” ungkap Lely Zailani, perwakilan Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI) yang dijumpai setelah pertemuan berlangsung.

Rosmayati malah menyebut HS telah mempunyai niat baik dengan mengakui perbuatannya. Meski begitu, HS tetap tidak bisa dikenai sanksi karena rektorat tidak punya cukup bukti. Pengakuan HS pun dianggap tidak bisa dijadikan dasar karena HS hanya mengakui baru berniat ingin melakukan pelecehan seksual.

Rektorat masih menunggu laporan pengaduan tertulis korban mengenai tindakan yang dialami.

“Dia (HS) tidak mengakui kalau dia melakukan pelecehan seksual. Pengakuannya tidak sampai disitu. Baru mau mengarah ke sana, tapi langsung si mahasiswa minta turun,” sebut Rosmayati.

Justru Rosmayati mempertanyakan sikap korban yang mengadukan kasus yang dihadapinya ke lembaga lain. Padahal menurut pengakuan korban sebelumnya, dirinya merasa tertekan jika harus kembali melapor ke pihak kampus.

Musababnya, laporan sebelumnya yang diberikan korban kepada pihak program studi tempatnya bernaung, tidak memberikan kejelasan dan cenderung menganggap remeh.

“Kenapa si Mahasiswa tidak melapornya ke kita, tapi ke LSM (melapor). Kenapa takut, kita kan orangtuanya. Yang saya takutkan, ketakutan itu dalam arti yang lain nanti,” imbuh Rosmayati.

Rosmayati juga memohon agar pemberitaan oleh awak media terkait dugaan kasus pelecehan seksual oleh HS tidak berdasarkan indikasi. Alasannya, Rosmayati kembali menyinggung ketidaktahuan rektorat atas kasus yang terjadi.

“Tolong dibuat beritanya jangan ada indikasi-indikasi yang lain ya. Kami di tingkat universitas belum tahu apa-apa,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.