Pakkat, Jajanan Kuliner Khas Berbuka Puasa di Pasar Kota Baringin

Kuliner Pakkat

MEDANHEADLINES.COM – Bulan suci Ramadan nampaknya menjadi bulan penuh berkah bagi banyak orang. Termasuk bagi para pedagang makanan dan minuman di Pasar Kota Barangin, Kota Sibolga, Sumatera Utara.

Setiap datangnya bulan Ramadan, pasar yang berada di Jalan Kapten Piere Tendean, Kota Sibolga, Kelurahan Kota Baringin, Kecamatan Sibolga Kota ini menjadi sentra makanan dan minuman untuk keperluan berbuka puasa.

Seluruh warga dari lintas suku, ras dan agama ada dalam pasar ini. Mereka memilih dan membeli apa yang menjadi hasrat hati, datang silih berganti, yang satu pergi dan yang lain datang untuk melihat lihat dan atau membeli.

Cukup beralasan memang, kedatangan warga dari Sibolga-Tapteng tak lain hanya berburu takjil. Di Pasar Kota Baringin, warga sangat mudah untuk untuk menemukan panganan untuk berbuka. Mulai dari kolak, sop buah, escendol, gorengan, es kelapa dan berbagai jenis makanan lainnya.

“Tiap tahunnya memang selalu ke sini untuk cari makanan berbuka puasa,” kata Agus yang mengaku warga Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Menariknya di Pasar ini, ada salah satu makanan yang terlihat begitu asing dari lainnya. Makanan yang disebut Pakkat ini terlihat panjang dan hitam. Di Pasar Kota Baringin, makanan ini ditemukan hanya selama bulan ramadan saja.

Di kota Sibolga, makanan khas Tapanuli Selatan ini pertama kali dijual oleh Sudarminingsih (59), warga Kota Baringin. Dia mengaku sudah 30 tahun berjualan pakkat saat bulan puasa.

“Dulunya yah emang cuma saya yang jual (pakkat) disini, tapi sejak dua tahun ini sudah ada tiga orang di Kota Sibolga yang jual (pakkat),” kata ibu dari enam anak ini, Senin (6/4)

Ibu Ewi (panggilan akrabnya), mengaku tertarik dengan makanan pakkat ini sejak sang suami kala itu bertugas di Kota Sidempuan. Dari sana, dia pun mulai belajar untuk mengetahui cara memasak makanan asal Tapsel tersebut.

“Biasanya dijadikan sebagai menu lalapan saat berbuka puasa. Pakkat yang sudah dipotong-potong itu dicampur dengan kelapa parut yang sudah dicampur cabai,” kata istri pensiunan TNI itu.

Ibu Ewi mengatakan, Pakkat yang berasal dari pucuk rotan muda ini terlebih dulu dibakar sebelum dijual ke para pembeli. Kulit pakkat yang dibakar ini akan kelihatan hitam untuk menghasilkan isi pakkat berwarna putih.

“Biasanya proses kematangannya memakan waktu selama 4 jam. Kulitnya harus kelihatan menghitam (gosong) biar hasilnya bagus, kalau kulitnya belum hitam, isi di dalamnya mau kelihatan kuning, jadi kurang enak untuk di makan,” katanya.

Selama bulan ramadan, Ibu Ewi mengaku mampu menjual habis panganan pakkat sebanyak 100 hingga 200 batang dalam waktu 2 jam.

“Dulu kita jual perbatang itu cuma tiga ribuan, tapi karena ongkos pengiriman dan harga pakkat yang sudah naik, kita menjualnya perbatang nya itu lima ribu,” katanya.

Diakuinya, selain makanan untuk lalapan, panganan ini memiliki banyak khasiat menyembuhkan penyakit, diantaranya maag, asam lambung dan juga masuk angin.

“Bagus juga dijadikan lalapan sewaktu sahur, karena pakkat ini bisa mengurangi rasa haus saat berpuasa,” katanya.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *