Joe Metheny, Sang Pembunuh Berantai yang Jual Burger Daging Manusia

Ilustrasi daging burger (Pixabay)

MEDANHEADLINES.COM – Pernahkah kamu membayangkan jika daging burger yang kamu makan ternyata berisi campuran bahan-bahan yang tak terduga?

Itulah yang terjadi di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat pada tahun 1996 silam, tepat setelah seorang pembunuh berantai kejam tertangkap.

Dari laman Did You Know Facts, pria bernama Joe Metheny ini diketahui sudah memulai membunuh sejak tahun 1994 dan mengubur korbannya di dekat trailer miliknya.

Pembunuhan yang dilakukan Joe Metheny pun bertambah parah saat dia ditinggalkan istri dan anaknya. Namun, saat itu Joe dilepaskan kembali setelah satu setengah tahun dipenjara karena kurangnya bukti.

Yang terjadi berikutnya jauh lebih mengerikan. Begitu bebas, Joe Metheny kembali melakukan aksi pembunuhannya. Target utama Joe adalah para pekerja seks.

Bedanya, alih-alih mengubur korbannya, kali ini Joe memilih untuk memutilasi dan menyimpan tubuh manusia di kulkasnya.

Kemudian, Joe pun membuka toko BBQ kecil dan mulai menjual burger yang berisi campuran daging manusia, sapi, dan babi kepada konsumennya.

”Daging manusia terasa sangat serupa dengan daging babi. Jika kau mencampurnya, tidak akan ada yang tahu,” ujar Joe saat itu.

Kegiatan Joe ”memburu” daging manusia dan menjualnya sebagai burger ini terus berlanjut sampai dia menangkap wanita bernama Rita Kemper.

Walau sempat disiksa dan dipukuli, Rita Kemper berhasil kabur dan melapor ke polisi. Pada akhirnya, Joe Metheny pun berhasil ditangkap.

”Aku adalah orang yang sangat sakit,” begitu kata Joe saat dia ditangkap kala itu.

‘Satu-satunya hal yang membuatku merasa buruk adalah aku belum sempat membunuh 2orang yang kuburu. Orang itu adalah istriku dan selingkuhannya,” ujarnya saat diinterogasi polisi.
”Lain kali jika kamu melihat stand penjual daging yang belum pernah kau lihat sebelumnya, ingatlah cerita ini sebelum menggigitnya,” tambah Joe Metheny.

Joe Metheny sendiri akhirnya sempat dijatuhi hukuman mati, sebelum akhirnya diubah menjadi hukuman seumur hidup. (red/suara.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *